Tanpa Ilmu, Sulit kita Bersabar
✍🏻 Muhammad Scilta Riska
(Mahasiswa Pascasarjana Ulumul Qur'an Akademi Syifa’ Qulub, Mesir)
Sepanjang hidup manusia tidak ada yang sempurna. Sempurna dalam artian tidak memiliki kesalahan sama sekali.
Kita tidak bisa menilai dari apa yang nampak saja.
Setiap mereka sedang berjuang memadamkan kebisingan hatinya.
Menghubungkan semua jawaban atas masalah yang dihadapinya.
Jika ada kebahagiaan tidak bersumber dari-Nya maka itu hanyalah sementara.
Hanya kepandaian mengunci rapat kekosongan jiwa agar nampak bahagia.
Mata hati tetap buta, hanya terperdaya.
Kalau hati kita gelap. Bagaimana mungkin kita bisa melihat dengan mata hati?
Tidak cukup mengikuti apa kata hati, kalau hati yang tidak pernah mau mendengar nasihat, tidak pernah memahami ilmu.
Ikuti apa kata hati, hati yang senantiasa dekat dengan kebaikan.
Kalau visi kita kosong, apa yang akan menjadi tujuan perjuangan kita.
Pembicaraan kita hanya akan menjadi narasi tanpa isi. Tindakan kita hanya rutinitas tanpa arah.
Kalau ilmu kita nihil, apa yang akan kita amalkan?
Bukankah ilmu itu landasan kita beramal. Bukan melihat apa kata orang.
Sementara untuk mendalami lautan ilmu kita butuh pemahaman.
Kalau pemahaman kita sempit, bagaimana mungkin kita bisa bersabar terhadap sesuatu yang kita sendiri tidak mengetahuinya?
وَكَيۡفَ تَصۡبِرُ عَلَىٰ مَا لَمۡ تُحِطۡ بِهِۦ خُبۡرٗا
“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”
(QS. Al-Kahfi: 68)
Wallahu ‘Alam.















