Menangis Jika Ditinggal ke Mushola
Sudah sekitar 1,5 bulan lalu Abang sering ikut Yanda untuk sholat di mushola tempat Yanda biasa sholat. Mulanya hanya ikut di akhir pekan pada sholat Dhuhur dan atau Asar karena weekday Yanda masih kerja. Memilih mengikut sertakan pada Dhuhur dan Asar sebagai pengenalan agar tidak terkejut dan tahu bagaimana harus bersikap ketika sholat. Selain itu pada waktu tersebut tidak banyak atau bahkan tidak anak kecil. Dhuhur dan Asar juga terbilang lebih sedikit jamaahnya daripada sholat lainnya. Lama-lama bertambah sering frekuensinya dengan ikut serta sholat Maghrib atau Isya. Tidak butuh waktu lama untuk beradaptasi di Mushola. Kisah awalnya pernah aku ceritakan di jurnal sebelumnya pada bulan September lalu dan sekarang bulan Oktober.
MaasyaAllah, allahumma baarik. Doa-doa baik selalu dilantunkan untuk anak-anak kami. Aku semakin tersadar bahwa anak benar-benar terlahir dalam keadaan fitrah. Ia tidak terlahir seperti kertas kosong melainkan sudah terinstal fitrah-fitrah yang ada pada dirinya. Kita sebagai orang tuanya yang perlu membantu untuk memunculkannya lagi dan lagi.
Hingga suatu ketika, Abang cukup notice jika sudah ada panggilan adzan dengan ia menunjuk ke arah luar kepada Yanda atau ia tiba-tiba praktik sholat atau hendak mengambil baju sholatnya. Abang juga paham mana Yanda yang sedang bersiap ketika memakai baju sholat hendak pergi ke mushola dengan Yanda bersiap ke kantor. Menariknya lagi, ia juga tahu mana Yanda yang akan pergi bekerja atau keluar kemanapun dengan Yanda pergi ke mushola. Jika pergi selain ke mushola, setelah Yanda pamit ia akan ikut mengantarkan sampai depan rumah sampai tak terlihat batang hidungnya sambil melambaikan tangan. Namun jika Yanda akan pergi ke mushola yang terjadi adalah sebaliknya, ia menangis meminta ikut. Abang memang tidak selalu ikut ke mushola selain memang karena belum wajib juga terkadang karena bertepatan dengan jadwal hariannya atau beberapa faktor lain. Melihatnya menangis, ada rasa haru dan bersyukur dengan diiringi doa baik agar kelak sampai dewasa sampai nanti ajalnya tiba Allah dekatkan hatinya dengan kebaikan, ringankan langkahnya untuk selalu sholat berjamaah di masjid tepat waktu. Semakin berpikir dan tersadar,
"Inikah yang dinamakan fitrah?"
Rasanya benar-benar takjub, ia bisa membedakan kemana Yanda pergi dan hanya menangisi ketika ditinggal ke mushola ditambah dengan sikap dan perilaku lainnya ketika mendengar adzan serta mempraktikkan sholat yang ia bisa.
Dengan kejadian tersebut aku hanya bisa menenangkannya dan membawanya masuk ke rumah. Kuijinkan ia mengekspresikan emosinya dan kubantu untuk mengaturnya. Lalu pelan-pelan aku bertanya.
"Abang sedih, ya?". Ia mengangguk.
"Abang sedih karena ditinggal Yanda ke mushola?" Mengangguk lagi.
"Maaf ya, kali ini Abang sholat di rumah dulu ya bareng Bunda." Tetap mengangguk meskipun masih menangis. Sesekali berhenti lalu berlanjut lagi.
Kusampaikan beberapa kali lalu jika cukup tenang aku meminta ijin untuk ke mengambil air wudhu.
"Bunda mau wudhu dulu, ya. Boleh?" Mengangguk.
"Nanti Abang sholat bareng Bunda, ya." Mengangguk lagi. Terkadang jika ia menggeleng kutunggu hingga keadaan lebih tenang.
Usai Yanda pulang dari mushola, baru saja terdengar suara membuka pintu Abang langsung memanggil, "Ndaaa." MaasyaAllah, betapa ia benar-benar perhatian terhadap hal kecil. Yanda pun masuk kamar lalu meminta maaf padanya.
"Maaf ya tadi Abang ngga diajak ke mushola." Yanda meminta maaf dengan bersalaman dan atau mencium keningnya. Terkadang dijelaskan alasannya mengapa tidak diajak.
Mudah-mudahan kelak ia menjadi hamba yang cinta kepada Allah dibuktikan dengan taat terhadap perintah dan menjauhi laranganNya. Hamba yang cinta pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan meneladani dan mengikuti sunnahnya. Hamba yang dekat dan cinta pada Al Quran baik dengan mempelajari, menghafalkan, mentadabburi hingga mengajarkan. Aamiin.
Mudah-mudahan hatimu selalu tertaut padaNya dan Allah ringankan langkah kakimu menuju ke masjid.
Melihat pemandangan demikian yang dimunculkan pada anak kami rasanya membuat kami semakin tertampar agar terus memperbaiki diri dan mendidiknya sesuai fitrahnya sebab di usianya yang sekarang sangat cepat sekali ia menyerap segala sesuatu dengan mencontoh.
Maka, jadilah teladan bagi anak kita.