Menjadi Pusat Dunia
Pembelajaran berikutnya saat semakin dewasa adalah belajar untuk tidak merasa diri sebagai pusat dunia. Seolah segala sesuatu di luar diri kitalah yang harus mengerti dan memahami kita. Merasa pusat kebenaran adalah diri sendiri. Merasa semua hal yang berbeda dari cara pandang dan cara berpikir diri adalah sesuatu yang tidak layak untuk ada di dalam kehidupan. Saat segala sesuatu yang kita pikirkan adalah diri sendiri, di saat yang sama mungkin kita lupa untuk melihat lagi ke dalam diri, menginsyafi hal-hal yang keliru, meminta maaf, kemudian memperbaikinya. Alih-alih terus menerus mencari pembenaran dalam pikiran sendiri bahwa apa yang kita pikirkan adalah hal yang paling benar.
Karena memang tidak mudah, saat kita tumbuh dengan seluruh emosi dan keinginan. Kemudian berhadap-hadapan dengan realita yang berbeda. Dan kenyataan inilah yang sebenarnya selama ini kita hindari.
Apakah semua perlawanan tersebut bentuk dari upaya menutup rasa insecure kita terhadap diri sendiri? Perasaan-perasaan dan beragam hal yang membuat diri kita yang sebenarnya memang lemah, tampak lebih kuat. Padahal tidak ada salahnya mengakui diri, lemah. Atau karena banyak sekali rentetan kejadian yang pernah dialami menjadi akumulasi perasaan negatif yang menyeruak menjadi perilaku-perilaku yang ternyata menyakiti orang lain di sekitar kita.
Dan kita gagal belajar, bahwa kita bukanlah pusat dunia. Bukan kita yang paling benar - dan berani meminta maaf untuk kesalahan sendiri. Orang lain tak harus memahami kita - dan kita belajar untuk bisa memahami orang lain. Dan belajar mengendalikan pikiran-pikiran negatif yang selama ini kita berikan ruang dan pemakluman, agar bisa melihat dunia ini lebih bijak lagi.



















