diri yang sebenarnya
pernah kamu meyakini: pernikahan tidak akan mengubah siapa-siapa. pernikahan hanya akan menunjukkan diri yang sebenarnya. diri yang mungkin dulunya punya luka. diri yang jika luka itu tidak diobati, menjadi karakter yang tidak baik. diri yang jika karakter itu tidak segera dikoreksi, menjadi kepribadian yang tidak mudah diterima.
iya, pernikahan akan menunjukkan diri yang sebenarnya. diri yang bahkan, kadang, dan bisa jadi, tak diketahui atau disadari oleh yang menjadi--alih-alih oleh yang membersamai. artinya, itu bukan "aku baru tahu ternyata dia begitu", melainkan "aku baru tahu ternyata aku begini". kamu kaget dan heran atas dirimu sendiri: kepribadianmu, karaktermu, perilakumu, sikapmu, sifatmu, cara berpikirmu.
kamu masih meyakini itu. tetapi sekarang, kamu mengerti. pernikahan tidak akan mengubah siapa-siapa, tetapi orang yang menikah bisa berubah. sebab ternyata, kita memang tidak bisa mengubah pasangan kita. sekelas Rasul saja tidak bisa mengubah orang yang dikasihinya. tetapi Allah bisa.
Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya (Al Qashash: 56, An Nur: 46). hati manusia terbolak-balik. otak manusia punya neuroplasticity--kemampuan berubah. dan manusia diajarkan untuk berdoa meminta petunjuk (Al Fathihah: 6), untuk mengakui kezhaliman diri dan meminta bimbingan agar tidak terjerumus maksiat lagi (Al 'Araf: 23).
diri kita yang sebenarnya, Allah yang memberi. petunjuk, ilham, taufik, hidayah--semuanya milik Allah. rupanya itulah rezeki yang paling besar. sementara itu, musibah yang paling besar adalah kebalikannya: ketika kita tidak kunjung memperoleh hidayah lalu bertahan dengan kepribadian yang tidak selaras ajaran Allah.
kalau kamu sedang pada fase menunggu pasanganmu berubah: kamu tidak akan bisa mengubahnya, tetapi Allah bisa. maka tugasmu adalah mendoakan, memberikan cinta sebaik-baiknya.
kalau kamu sedang pada fase mensyukuri pasanganmu yang sudah berubah (menjadi lebih baik): itu bukan karenamu. semata itu karena Allah berkehendak.
jangan lupa meminta hidayah. untukmu, untuk pasanganmu, untuk anak-anakmu. untuk keluargamu. apalagi jika kamu laki-laki. sebab tugasmu adalah menjaga diri dan keluargamu dari api neraka (At Tahrim: 6).


















