Teman-teman pernah nggak bertemu dengan seorang Muslim atau Muslimah yang berasal dari keluarga yang secara lahiriah tampak baik-baik saja, tapi kemudian mengembangkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam?
Ternyata, pola pengasuhan tertentu juga dapat memengaruhi bagaimana anak-anak mengalami 'keraguan untuk berserah diri'.
Ada orang-orang (mungkin juga kita) yang menerima otoritas Allah secara intelektual, tetapi perilakunya tidak menunjukkan keberserahan diri secara spiritual. Ada mekanisme pola pikir yang tidak disadari, yang menunjukkan amarah dalam mempertanyakan takdir Allah yang terjadi padanya.
Padahal, konsep keberserahan diri berkaitan erat dengan bagaimana kita membayangkan Tuhan. Inilah inti dari Islam. Bahkan, seluruh ciptaan di alam semesta pun tunduk dan berserah diri kepada-Nya (QS. Ali 'Imran: 83). Dan kemampuan untuk percaya kepada Allah membutuhkan prasangka baik terhadap-Nya dan segala ketetapan-Nya.
Mengapresiasi secara rasional pentingnya ridho akan ketetapan Allah itu lebih mudah dibandingkan menginternalisasikannya. Keraguan untuk berserah diri umumnya bisa terjadi karena ada kesulitan dalam memahami maksud di balik ketetapan-Nya (yang mungkin menyakitkan) atau karena tidak mengenal dengan baik siapa Allah.
Persepsi yang tertanam sejak kecil bahwa hubungan manusia dengan Allah hanya sebatas taat/tidak taat menghasilkan bayangan tak disadari akan Tuhan yang tidak suka mengampuni kesalahan, keras, serta berjarak dengan hamba-Nya. Hal ini meningkatkan kerentanan seseorang dalam merasakan kecemasan (misal karena sangat takut salah) dan depresi.
Orang-orang yang tidak memahami mengapa seorang hamba bisa sangat taat kepada Allah, bisa jadi tumbuh dengan bayangan akan Tuhan yang keras. Padahal penghambaan yang paripurna menurut Ibnul Qayyim adalah hasil dari rasa cinta yang muncul secara alamiah ketika kita bisa mengenali dan memahami kesempurnaan Yang Maha Sempurna. Ketaatan akan terasa manis dan mudah ketika kita bisa menjaga rasa cinta kita pada-Nya.
Merawat rasa cinta merupakan elemen krusial dalam ketaatan. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari dan Muslim, dikatakan bahwa manisnya iman hanya bisa dirasakan seseorang yang memiliki tiga rasa:
Rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada apapun dan siapapun
Rasa cinta pada sesama hamba-Nya karena-Nya dan untuk-Nya
Rasa benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya
Maka, ibadah adalah sebuah ekpresi dan deklarasi cinta seorang hamba. Dan kita sebagai hamba, tidak bisa mencintai-Nya tanpa terlebih dulu mengenali-Nya.
Kebalikan dari bayangan akan Tuhan yang keras dan sigap menghukum bak polisi, salah satu nama-Nya yang bisa membantu menumbuhkan kepercayaan pada anak-anak akan Tuhan yang menjaga mereka dengan penuh kasih adalah Allah Al-Wali.
Sehingga alih-alih melihat Islam hanya sebagai daftar apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa hanya dengan petunjuk-Nyalah kita bisa merasa bahagia. Maka, hubungan mereka dengan Allah disandarkan pada kedekatan emosional, cinta, kepercayaan, dan keberserahan diri.
Meskipun Allah telah mengabarkan di Al Qur’an bahwa Dia adalah Wali kita, beberapa dari kita kesulitan dalam menginternalisasi rasa cinta-Nya, kedekatan-Nya, kasih dan dukungan-Nya kepada kita. Ini karena banyak orang justru menginternalisasi bayangan akan Tuhan bak polisi yg sigap menghukum.
Hal ini terjadi karena bagi seorang anak, untuk bisa menginternalisasikan nama Allah Al-Wali dibutuhkan pengalaman dilindungi, dicintai, dan didukung secara nyata lewat hubungannya dengan manusia lain. Terutama lewat hubungan pertama seorang anak, yaitu dengan orang tuanya. Kemelekatan seorang anak pada orang tuanya merupakan sebuah model kemelekatan hubungan sang anak dengan Rabb-nya.
Baik pola asuh yang otoriter maupun otoritatif bisa jadi sama-sama bertujuan baik. Hanya saja cara mendidiknya yang berbeda, sehingga hasilnya pun berbeda. Pola asuh yang otoriter cenderung lebih mengandalkan motivasi ekstrinsik dalam mengajarkan ketaatan. Sementara pola asuh otoritatif lebih mengandalkan membangun motivasi intrinsik dalam mengejar cinta Allah dan mengapresiasi usaha anak dalam melakukannya.
Teori parenting ini lalu diuji coba dalam sebuah survey atas 701 Muslim di Kanada. Tujuannya adalah untuk,
Memprediksi bayangan akan Tuhan yang mereka miliki
Memprediksi keraguan relijius dan keraguan untuk berserah diri yang dialami sebagai efek dari pola asuh yang (1) otoriter atau (2) otoritatif.
Hasilnya menunjukkan bahwa persepsi akan orang tua yang otoriter berkorelasi dengan memiliki bayangan akan Tuhan bak polisi yang siap menghukum. Memiliki bayangan ini diasosiasikan dengan pengalaman akan keraguan relijius dan keraguan untuk berserah diri.
Menariknya, memiliki figur ayah yang otoriter secara langsung terhubung dengan pengalaman keraguan tersebut. Sementara memiliki figur ibu yang otoriter hanya terhubung secara tidak langsung dengan pengalaman tersebut melalui "distortion in God image".
Sementara persepsi akan orang tua dengan pola asuh yang otoritatif dalam menumbuhkan kesadaran akan bayangan Tuhan yang menjaga hambaNya dengan penuh kasih (Al-Wali), diasosiasikan dengan pengalaman keraguan relijius yang lebih sedikit dan keinginan untuk taat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa bayangan akan Tuhan yang tak disadari oleh seseorang dipengaruhi oleh pengalaman psikis di masa kecil dengan orang tua yang tidak selalu mengenakkan (bahkan dalam beberapa kasus bisa sangat menyakitkan). Bisa jadi ini merupakan penyebab utama dari berbagai isu psikospiritual yang kita lihat bentuknya di sekitar kita sebagai keraguan relijius maupun perilaku melawan ajaran Islam.
Menyadari bagaimana pengalaman emosional di masa kecil yang mungkin menyakitkan terkait bagaimana kita diasuh, sebenarnya bisa membantu kita merehabilitasi bayangan akan Tuhan yang tidak kita sadari kita miliki.
Membayangkan kembali Allah sebagai Al-Wali akan memudahkan kita untuk berserah diri dengan sepenuh hati kepada-Nya. Sehingga kita bisa memahami bahwa batasan-batasan berperilaku dari-Nya adalah bentuk ekspresi kasih sayang-Nya pada kita karena pengetahuan-Nya akan apa yang terbaik bagi kita lebih luas dari pemahaman kita sendiri.
— Ringkasan oleh The Muslim Gaze di X
Sumber: https://yaqeeninstitute.org/read/paper/parenting-style-and-our-relationship-with-god-the-influence-of-parental-love-on-our-perception-of-god