Kemarin, saya posting di status whattsap tentang seseorang pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) yang ingin menjual ribuan bukunya karena minat baca masyarakat rendah. Nah, berbicara tentang TBM, saya ingin share cerita yang saya tau tentang TBM di Kota Surabaya. Berhubung saya sedang menjalani KKN Literasi di salah satu TBM Surabaya, jadi saya memperoleh cerita ini dari petugas TBM langsung. Yok!
Mungkin kalian-kalian yang orang Surabaya asli tidak asing mendengar program ini. Program yang diadakan Pemerintah Kota Surabaya ini berdiri sekitar tahun 2015 (seingat saya). TBM ini ada disetiap titik di seluruh wilayah Kota Surabaya, tepatnya di setiap RW. Jadi di setiap RW pasti ada TBM. Tujuanya, ya tentu utk meningkatkan literasi masyakarat Surabaya.
Sejak saya mengikuti KKN Literasi, saya baru tau tentang program TBM ini. Maklum, walaupun rumah saya tetanggaan banget sama Surabaya, tapi dari tahun 2011-2017 sekolah saya di Jombang wkwk. Pertama kali denger program ini pas pembekalan KKN, saya salut dengan Pemkot Surabaya yang peduli bgt sama budaya literasi masyarakat. Karena sejak kecil disekitar rumah saya gak ada program semacam ini.
Mengenai buku-buku di TBM, buku disini buanyak bgt. Buku-buku itu berasal dari Pemkot Surabaya sendiri atau hibah dari warga sekitar. Jenis bukunya? Macam-macam dong. Ada buku2 agama (buku sekelas mahasiswalah), ada buku memasak, buku dongeng/cerita anak2, buku sosial, IPA dan lain-lain ada semua. Tapi yang paling laris dan cepat rusak adalah buku cerita anak-anak, karena memang pengunjung setia disini anak anak kecil hehe.
Waktu itu, sambil menginduk buku. Saya dan teman2 ngobrol sama mbak-mbak petugas TBM disini. Dari sekian banyak obrolan kita, ada beberapa yang saya ingat. Ketika itu saya bertanya
"Menurut sampean, adanya TBM ini membantu bgt gak si mbak?"
"Membantu bgt. Anak anak tu klo kluyuran main kadang gajelas. Isok tutuk endi endi. Kadang sampe digoleki ibuke nandi ndi. Tapi sejak ada TBM iki, ibuk2 lek golek anake wes apal, mesti nak TBM dolane. Ngunu ya dijarno ambe ibuke nek dolan merene"
"Trus anak anake excited gak mbak lek moco nak kene"
"Arek arek iku seneng lek mrene. Mesti takok buku cerito. Kadang takok "Kak onok buku iki ta" . Makane buku2 paling elek nak kene lak buku-buku cerita anak. Soale sering diwocoi"
"Selain arek-arek cilik, sopo mbak seng gelek mrene?"
"Lansia kadang, kadang yo ibuk ibuk golek buku resep. Akeh akehe si arek cilik"
Anak-anak di TBM ini kegiatannya tidak hanya baca baca doang kek di perpustakaan. Tapi petugas-petugas TBM kadang bikin event tentang literasi buat anak anak (saya lupa eventnya apa aja).
Oh iya, waktu ngobrol sama petugasnya ini, saya juga sempat menanyakan tentang gaji petugas disini. Jadi, petugas2 disini adalah orang dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya. Masalah gaji, mereka digaji sesuai UMR Surabaya. Lumayan kan wkw. Kerja mereka dari Senin- Sabtu, 1 TBM 1 petugas. Jadi mereka bertugas buat menjaga, mengadakan, mendampingi, mengontrol dll budaya literasi di RW tersebut.
Jadi kalau kalian ingin cari buku yang gaada di perpustakaan, cobalah ke TBM. Asli ada buku-buku anak kuliahan 😂