Menjelma Laut
Saya tidak tahu apakah umur benar-benar membuat seseorang menjadi lebih dewasa, atau hanya membuatnya lebih terbiasa menerima kenyataan?
Dulu saya ingin menjadi ombak. Berisik, terlihat, didengar, dan tidak mempunyai arah.
Sekarang saya ingin menjelma laut.
Luas, tenang, menyimpan banyak hal tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.
Di umur tiga puluh empat ini saya justru mulai belajar ‘berhenti’. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan hidup orang lain. Berhenti memaksa semua hal harus sesuai rencana. Berhenti menganggap semua kegagalan sebagai akhir dari segalanya.Berhenti memiliki sesuatu yang belum tentu layak untuk dimiliki.
Terkadang saya masih merasa tidak berguna.
Terkadang saya masih merasa tertinggal.
Terkadang saya masih mempertanyakan apakah hidup sedang berjalan ke arah yang benar.
Terkadang ketakutan muncul lebih dulu sebelum memulai,tapi saya pikir semua orang sedang bertarung dengan dirinya masing-masing.
Ada yang sedang berusaha menjadi orang tua yang baik.Ada yang sedang berjuang mendapatkan pasangan yang diinginkan.Ada yang sedang kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang kehilangan orang yang dicintainya. Ada yang setiap pagi hanya berusaha bangun dari tempat tidur.Ada yang setiap hari mencari kebahagiaan dari kesedihan orang lain. Ada yang sedang bertahan dan melawan.Ada yang setiap hari hanya berdoa dan berharap.
Barangkali kita semua hanya sedang bertahan dengan cara yang berbeda.
_______________
Yang berubah dari saya hari ini mungkin bukan pencapaian, melainkan cara memandang hidup.
Saya mulai percaya bahwa merasa cukup adalah kemewahan yang sulit dimiliki. Ayah saya pernah bilang bahwa “Hidup itu harus merasa cukup.”. Kalimat itu dulu terdengar sederhana, sekarang terasa sangat berat.
Merasa cukup terhadap diri sendiri.
Merasa cukup terhadap apa yang ada.
Merasa cukup tanpa berhenti bertumbuh.
Saya masih belajar.
Saya masih membeli buku yang belum tentu selesai dibaca. Saya masih menumpuk daftar keinginan yang belum tentu tercapai. Saya masih mencoba menulis walaupun terkadang malas.Saya masih ingin membuat lagu seperti dulu. Saya masih terlalu banyak berpikir sebelum tidur. Saya masih sering mengkritik diri sendiri lebih keras daripada orang lain mengkritik saya.Saya banyak mencoba berlari dari ketinggalan.Saya masih mencoba merawat ingatan.Saya masih mencoba menjadi apa yang saya harapkan, bukan yang saya inginkan.
Semakin bertambah umur, saya juga mulai kehilangan banyak hal.
Beberapa teman pergi.
Beberapa mimpi berubah bentuk.
Beberapa harapan tidak pernah sampai.
Beberapa luka ternyata tidak benar-benar sembuh, hanya belajar hidup berdampingan.
Dan saya pikir tidak apa-apa.
Laut tidak pernah menolak sungai yang datang membawa lumpur. Ia menerimanya, mengendapkannya, lalu kembali tenang.
Mungkin saya juga ingin begitu.
Menjadi seseorang yang tidak lagi sibuk membalas semua perkataan orang. Tidak lagi ingin memenangkan semuanya. Tidak lagi merasa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.Tidak lagi ingin menjadi apa yang di inginkan seseorang.
Cukup menjadi diri sendiri.
Hari ini saya bersyukur masih diberi kesempatan sampai di umur ini.
Masih bisa bernapas.
Masih mempunyai Istri yang selalu mengerti, dan anak perempuan yang di penuhi anugerah.
Masih punya keluarga yang bisa dihubungi.
Masih punya teman yang mau mendengar.
Masih punya pekerjaan yang menyenangkan.
Masih punya buku-buku yang menunggu dibaca.
Masih bisa menikmati indomie telur dengan potongan cabe, hujan, jalanan Bandung, lagu-lagu yang diputar berulang kali, dan percakapan yang tidak terburu-buru.
Masih bisa memaafkan diri sendiri.
Dan yang paling penting, masih punya harapan untuk hidup.
Saya tidak tahu akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun lagi.
Namun, jika saya mempunyai mesin waktu untuk kembali…
Ke masa SMP, saya akan melawan ketika diajak berkelahi oleh anak ketua ormas. Saya tidak akan menjadi pengecut yang berpura-pura kalah hanya karena dia mempunyai kuasa.
Ke masa SMA, mungkin saya akan cukup berani mengambil kesempatan masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur undangan yang dulu saya sia-siakan karena ambisi yang belum matang.
Ke masa kuliah, mungkin saya akan lebih berani menolak ketika seorang sekretaris negara menyuruh saya meminta maaf pada waktu itu.
Namun, jika suatu hari hidup kembali gaduh, semoga saya tidak lagi menjadi ombak yang menenggelamkan banyak orang.
Semoga saya benar-benar sudah menjelma laut.
Yang menerima pasang dan surut tanpa mempertanyakan waktu.
Yang tetap luas meski banyak kehilangan.
Yang tetap tenang meski menyimpan banyak cerita.
__________
Selamat ulang tahun, diri sendiri.
Semoga di usia tiga puluh empat ini saya tidak hanya menjelma laut.
Semoga saya mampu menjadi samudra.













