Orang tua Baru
4 bulan sudah terlewati. Hari ini adalah hari ke-121 bersama suami. Menyandang status sebagai istri ternyata bukan peran yang mudah bagiku. Aku masih belum selesai menuntaskan adaptasi yang tak kunjung progres. Kalau ditanya bagaimana perasaannya? jujur aku malu. Malu pada Allah, malu pada diri sendiri, malu pada suami, malu pada orang tua terutama ibu dan bapak yang sudah memberi kepercayaan penuh hingga mengizinkanku menikah.
Aku sadar, malu tidak membuat persoalan yang aku hadapi tuntas. Lagi-lagi, semua kembali pada diri ini, bagaimana aku bisa mengambil langkah untuk tahap berikutnya.
Tepatnya kemarin, Selasa, 21 Desember 2021. Aku ingin bercerita tentang hal yang aku alami kemarin. Sebagai pengingat terbaik, bahwa aku memiliki empat orang tua. Sudah waktunya aku harus menumbuhkan cinta dan kasih sayang kepada dua orang tua baruku.
Namun, kesadaran itu diawali dengan rasa sakit dan malu. Memang betul, terkadang kita perlu berterima kasih dengan rasa sakit dan tidak nyaman. Karenanya kita menangis, merasa tidak nyaman, namun setelah itu, kita jadi belajar tentang hal-hal baru.
Sore hari kemarin, aku mengunggah story instagram yang berisi cerita “from this to this” ala anak-anak muda saat ini. Cerita yang kubagikan tentang bagaimana pertama kali suami menghubungiku hingga interaksi kita hari ini. Memang awalnya aku sempat ragu memposting ini tentang izin dari suami, bagaimana tipe suami. Namun, setelah aku bertanya dan memposting nyatanya tidak ada masalah bagi suami tentang cerita yang ku bagikan.
Selang hitungan jam, terdapat dm yang berisi pertanyaan intinya, mengapa cerita itu di posting? bahkan dari sebelum pernikahan sampai saat pernikahan. Aku memberi respon cepat, tidak seperti biasanya. Segera ku hapus postingan itu. Seperti ada yang baru, namun tidak asing.
Iya, pikirku dulu, aku akan terbiasa mendengar nasihat dari orang tua, maka akan mudah pula aku mengiyakan nasihat dari mertuaku atau tepatnya orang tua baruku. Namun, ternyata setelah mengalami, tidak semudah yang aku bayangkan. Aku perlu mengalami sakit, tidak nyaman dan malu terlebih dahulu. Memang nasihatnya serupa dengan nasihat-nasihat yang diberikan ibu, bahkan persis. Namun, bedanya, ibu berinteraksi denganku dalam hitungan puluhan tahun. Sedangkan aku berinteraksi dengan orang tua baruku ini baru dalam hitungan jari.
Ketahuilah pa, ma. Saat aku memposting hal-hal tentang diri dan keluargaku, aku pasti sudah mempertimbangkannya terlebih dahulu. Karena terkadang keceriaan yang aku tampilkan juga sebagai stress release dan atau caraku healing dari rasa kebosanan dan aktivitasku. Semoga Allah mengampuni kefakiranku.
Seketika aku ingat cerita tentang Nabi Ibrahim dan anak menantunya yang pertama, hingga nabi Ibrahim memerintahkan anak laki-lakinya untuk menceraikan anak menantu pertamanya.
Entah pikiranku melayang ketika mendapat nasihat itu, di lain sisi aku juga merasa bersyukur. Saat mertuaku memberi nasihat, maka di saat itulah muncul kesadaran bahwa aku memiliki orang tua baru. Nasihatnya adalah bentuk aksih sayangnya. Nasihatnya mengingatkan bahwa ia tidak ingin anaknya tergelincir. Bila aku melibatkan hati kecilku dalam keadaan bersih, maka ia lah sebab yang memudahkanku menerima nasihat itu.
Saat aku ingat bahwa, nasihat yang terlontar dari orang tua adalah bentuk kasih sayang kepada anaknya. Maka tidak ada yang lebih pantas dari ucap terima kasihku kepada orang tua baruku yang telah menerimaku sebagai anak menantunya. Mohon maaf pa, ma, anak perempuannya ini masih jauh sekali dari sikap sempurna.
Terima kasih atas kasih sayangnya pa, ma.
Yaa Rabb, lindungilah keduanya. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka telah mendidik, melimpahkan kasih sayang dan banyak kebaikan untuk suamiku. Yaa Rabb, mampukan kami untuk senantiasa berbakti dan penuh taat kepadanya dalam kebaikan yang menuju-Mu. Mampukan kami untuk terus berbuat baik kepadanya, meski kami harus beradaptasi terlebih dahulu karena sedikitnya ilmu dan pengalaman kami.
Yaa Rabb, hamba menyayanginya karena-Mu. Ampuni kedua orang tua baruku atas sedikitnya ilmu dan interaksi terhadap anak menantunya. Hamba ridha dan ikhlas atas sikap dan nasihat yang beliau berikan, insya Allah.
Pa, Ma, mulai hari ini izinkan aku mencintaimu karena Allah. Terima kasih atas nasihatnya. Rasa sakit ini menumbuhkan kesadaran atas kewajibanku dan hakmu tentang cinta karena-Nya.
Anak menantumu yang pertama, yang sedang belajar mencintaimu karena Allah.
Depok, 22 Desember 2021















