Hal Yang Tak Disukai
Dalam hal interaksi, banyak hal bisa saja terjadi. Entah itu kita mendapat hal yang tak menyenangkan, perkataan yang melukai hati, atau perlakuan yang tak sesuai ekspetasi.
Jika sudah seperti ini yang susah adalah menahan diri. Gemuruh amarah dengan mudah membuncah tak terkendali. Kita pikir kita berhak dan boleh-boleh saja untuk  merutuki. Memang. Tapi jika ingin melihat dan berpikir, kita pun memiliki pilihan lain. Memaafkan. Maafkan saja, ringankan saja.
Memang, terkadang kita tidak juga perlu untuk terus memafkan pada beberapa hal. Tapi kita harus tahu bahwasanya ketika ada yang meminta maaf, maka kita harus siap untuk bisa memaafkan. Minimal kita harus belajar untuk bisa memaafkan. Karena kita tahu, manusia ya tetap manusia.
Ingat. Ketika kita punya kesempatan untuk marah, namun kita bisa untuk menahannya -bersabar- maka janji Allah ialah surga. Karena sikap orang lain terhadap kelakuan kita berada di luar kendali.Tapi laku kita berada dalam kendali diri sendiri. Maka fokus saja pada apa-apa yang bisa dikendalikan, dan abaikan yang tidak.
Semoga firman-Nya dalam surat Al Qashash ayat 77 mampu menyadarkan kita, bahwa kita berbuat baik bukan karena perlakuan baik orang lain, tapi karena Allah telah berbuat baik kepada kita.
Ketika mencintai kita makan sangat senang dengan apapun yang itu ada kaitannya dengan yang dicintai. Begitu pula sebaliknya. Ketika membenci rasanya semua yang berkaitan akan menjadi hal yang juga tak kita sukai. Ketika membenci dibuat kita buta dari kebaikan, tuli dari penjelasan, bebal ketika dinasihati. Karena dalam dada dikuasi oleh gemuruh amarah yang meledak-ledak.











