"Aku rumahmu. Kembalilah."
"Tapi, aku sudah tidak ingin pulang." Jawabnya. Laki-laki yang sudah bertahun-tahun kutemani, dengan mudahnya menghancurkan hatiku hanya dengan satu kalimat.
Secangkir kopi hitam menemani kesendirianku di sebuah caffe yang sepi pengunjung, mungkin karena hujan dan orang-orang lebih memilih berdiam diri menarik selimut hingga ke dada. Tidur.
Aku menatap lurus keluar jendela, tak ada yang menarik. Hanya saja, terkadang kita memang lebih suka menatap kosong pandangan di depan kita sambil membayangkan hal-hal indah bukan?
Bukan. Aku tak mau membayangkan hal-hal yang indah. Apalagi jika berkaitan dengan dirimu.
Menjadi sore terakhir pertemuan aku dan dia.
"Aku rumahmu. Kembalilah."
"Tapi aku sudah tidak ingin pulang."
Sudah cukup! Aku paham, tanpa kau jelaskan. Aku langsung pergi begitu saja tanpa mau mendengar penjelasan. Ku rasa semua sudah cukup jelas bukan? 'Bukan aku yang dia inginkan (lagi)'.
Ku sesap kopi hitamku, pahit.
Ya, seperti itulah sekiranya hidupku tanpa dirinya.
Bertahun-tahun ku sandarkan segalanya pada dirinya.
Bodohnya aku yang telah bersandar tanpa sadar.
Dan hanya karena satu rasa 'bosan' aku ditinggalkan.
"Rain, aku sudah bersama yang lain. Jangan ganggu aku lagi."
Aku hanya bertegur sapa, Rayhan. Apakah menurutmu aku semengganggu itu?
Aku hanya ingin tahu kabarmu saja.
Aku tanya, seperti apa hatimu jika kamu berada diposisiku?
Aku yang saat itu sedang (sangat) menikmati saat-saat sendiriku.
Tiba-tiba ada yang datang bertamu, ah harusnya ku beri dia kopi saja bukan hati!
Namun tak pernah sungguh.
Menjalani hari, menghabiskan waktu.
Setelah meyakini bahwa aku dan dia akan terus seperti itu selamanya.
Di sore itu, dengan begitu mudahnya.
Lalu menurutmu aku harus apa Rayhan?
Aku tak habis pikir dengan dia yang dengan mudahnya berkata seperti itu.
Mungkin maksudnya adalah ingin menenangkan.
Tidak, aku malah semakin tidak tenang.
Pergilah. Aku sudah tak butuh dirimu lagi.
Dan biarkan aku menangis...
Ku lihat iklan di televisi.
Ah, iklan itu... Mengingatkanku pada dirinya.
Rayhan, kamu ingat tidak kamu pernah bilang 'nanti kita punya rumah di sana ya Rain.' Ah, aku berani bertaruh dia pasti tidak ingat.
Janji-janjinya telah dia bawa beserta dengan hati dan perasaannya. Pergi.
Semua harapanku telah dia hancurkan.
"Mba... Maaf, caffe kami sudah mau tutup." Aaaah...
Sepertinya aku terlalu lama mengingat segala kejadian antara aku denganmu ya, Rey.
Masih hujan. Hanya saja tidak deras seperti tadi.
Langit seolah mengerti, bahwa sudah saatnya aku pulang.
Sengaja tidak ku pakai payungku, karena aku suka hujan.
Mengapa harus berlindung dibalik payung jika aku menyukainya?
Biar ku ceritakan sedikit romantisnya kami kala itu.
"Rain, mata kamu indah, jadi jangan menangis ya. Kalau sembab tidak indah."
"Rey, aku tak mau menangis, aku bahagia bersamamu." Sambil menyandarkan kepalaku di dadanya.
Dia mengambil ponsel dan 'cekrek' dia mengambil fotoku.
"Rey, aku kan lagi jelek. Hapus!"
"Kamu selalu cantik, Rain."
Dia merubah lockscreennya dengan fotoku yang dia ambil barusan.
"Biar aku inget kamu terus ya Rain. Rain yang manja, yang hobi senderan dipelukanku. HAHAHAHAHAHAHA"
Seperti tangisanku saat ini.
Membayangkan betapa lepasnya ia tertawa adalah suatu kebahagiaan tersendiri kala itu.
Sekarang, tawanya masih seindah dulu. Namun, sayangnya aku hanyalah sebagai penikmat bukan lagi penyebabnya.
Itupun hanya dapat kunikmati dari apa yang ku lihat di instastory pacarmu hehehe.
Mungkin sudah saatnya aku istirahat.
Malam ini, aku ucapkan selamat malam dari jauh ya Rey, sebagai teman.