Semoga
Semoga punggungmu cukup bidang, agar aku tetap bisa bersembunyi dibaliknya.
Semoga dadamu cukup lapang, untuk menerima apa apa yang tidak sesuai tentangku.
Semoga, semoga Allah mentakdirkan yang terbaik untuk kebersamaan ini.
will byers stan first human second
Sade Olutola

Jar Jar Binks Fan Club
Stranger Things
macklin celebrini has autism
Fai_Ryy
🩵 avery cochrane 🩵
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Noah Kahan

Discoholic 🪩

PR's Tumblrdome
YOU ARE THE REASON
Xuebing Du
hello vonnie
One Nice Bug Per Day

Love Begins
The Stonewall Inn
EXPECTATIONS
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from United States

seen from Russia
seen from Albania
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States

seen from New Zealand

seen from Malaysia

seen from New Zealand
seen from Honduras
seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Paraguay

seen from Russia
seen from Ecuador

seen from United States
seen from China
seen from United States
@tandakoma
Semoga
Semoga punggungmu cukup bidang, agar aku tetap bisa bersembunyi dibaliknya.
Semoga dadamu cukup lapang, untuk menerima apa apa yang tidak sesuai tentangku.
Semoga, semoga Allah mentakdirkan yang terbaik untuk kebersamaan ini.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Belajar Fitrah Based Education
Kayaknya emang Allah swt lagi pengen diri ini belajar tentang pendidikan anak. Kalau bukan karena amanah, kayaknya nggak tersentuh topik ini. Dan terimakasih juga buat sobiku, Choi yang sering banget ngajak diskusi terkait topik ini. Disadur dari materi Youtube Ustadz Harry Santosa dalam https://www.youtube.com/@FitrahWorldMovement.
Paradigma Sistem Pendidikan Saat Ini
Sistem pendidikan negeri ini mengacu pada sistem pendidikan Barat yang kental dengan konsep Tabula Rasa John Locke. Human is like a "blank slate" or "blank paper". Maka, kita (pendidik/orangtua) harus mengisi mereka. Makin banyak diisi, makin baik, ceunah. Faktanya, sekarang ini banyak orangtua mengeluhkan anaknya pintar/ranking/hafidzah, tapi akhlaknya kurang baik/tidak menjaga dirinya saat keluar pesantren.
Perubahan perilaku yang distimulus oleh external motives (reward and punishment) hanya bertahan sepekan/waktu yang singkat.
Istilah "remaja/teens/pemuda" tidak ada dalam kamus Islam. Fenomena sekarang; baligh duluan, akilnya belakangan. Fisik (makanan, tontonan) disuplai habis-habisan, tapi ilmu terkait tanggung jawab, menjadi pemimpin peradaban belakangan. Pendidikan hanya mengantarkan anak SD menyiapkan SMP, smp menyiapkan SMA, how to get favorite campus/have the higest score, dst. Fenomena saat ini, banyak yg bergelar, tapi hanya mementingkan kesenangan dirinya sendiri, memperbanyak harta, hatinya seperti batu. So, well schooled belum tentu well educated. Orang yang tersekolahkan dengan baik belum tentu terdidik dengan baik.
Kurikulum kita melahirkan manusia yang human thinking (cerdas dan terampil), not also human being (punya nurani dan bisa membuat perdamaian bagi dunia ini).
Banyak pekerja yang merasa salah jurusan >> salah karir
Tujuan pendidikan institusi Barat itu keberhasilan/mobilisasi sosial ekonomi bagi setiap murid. Padahal dalam Islam, tujuan pendidikan ialah keberhasilan individu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi.
Kemunduran umat Islam hasil konferensi umat Islam di Arab tahun 1977; the loss of Adab. Ayah-Bunda meninggalkan pos-pos pendidikannya di rumah, mengejawantahkan ke lembaga pendidikan/sekolah. Padahal di akhirat, yang ditanya tanggung jawabnya kan orangtua ya, bukan pihak sekolah. #uhuk
Apa itu fitrah?
Dalam Islam, kita mengenal fitrah. Sesuatu yang sudah Allah instal berupaya kebaikan pada setiap jiwa. Ia adalah innate goodness (kebaikan bawaan). Ia meliputi ma'riftullah (mengenal Tuhannya), melakukan/memilih kebaikan, dan accept true knowledge (jujur, adil, benar). Fitrah itu tidak diciptakan karena ia sudah bawaan, tapi dikuatkan/dikembangkan oleh orangtua.
Dalam pelaksanaannya, orangtua tidak hanya bisa mendidik seorang diri. Namun, seperti pepatah di Turkey, "It takes a village to raise a child".
Kaidah Mendidik Anak sesuai Fitrah
Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tapi Allah akan memampukan mereka yang terpanggil.
Perbanyak syukur dan menerima anak kita, maka Allah swt akan berikan hikmah yang banyak. QS. Lukman ayat 12. Kita orangtua terbaik versi anak kita. Anak itu bukan suatu kebetulan, bukan bonus/hadiah. Allah tidak pernah mentidaksengajakan sebuah kelahiran. Pasti ada maksud besar Allah. Maka, kita sambut itu. Dan Allah akan memberikan hikmahnya.
Fitrah itu seperti benih. Kita adalah gardener. Pentingnya memahami tahapan pertumbuhan. Tidak tergesa sepanjang kita tahu ilmunya, sehingga anak kita tumbuh menjadi pohon yang baik dan berbuah sesuai masanya.
Memahami bahwa pendidik anak kita sesungguhnya adalah Allah swt, pencipta fitrah. Allah swt menyediakan jalan bagi tumbuh dan kembang fitrahnya. Allah swt juga tetapkan syariat dan kitabullah agar ia tumbuh menjadi sempurna dan bahagia.
Fokuslah pada cahaya anakmu, bukan sisi gelapnya. Jangan fokus pada kenakalan anak, tapi fokus pada sisi kuatnya. Karena setiap anak punya potensi. Banyak husnudzon saat mendidik, tidak pesimis.
8 Jenis Fitrah Anak
Untuk detailnya, bisa lihat blog berikut ya https://inspiringhanie188.wordpress.com/2017/09/21/home-education-2-fbe-by-harry-santosa/
Fitrah Keimanan (core of fitrah)
Golden age: 0-6 tahun
Metode: keteladanan & kesholehan. Misal, dimasukkan dalam lingkungan yang hanif. Dihomestaykan ke rumah ustadz. Mulai usia 10 tahun: murobbi (ustadz) dan maestro (fitrah bakat).
Ciri jika sudah tumbuh: pribadi daiyah (menyeru pada kebaikan & syariat)
2. Fitrah Belajar dan Bernalar
Golden agen: 7-10 tahun
Interaksi terbaiknya dengan alam. Peran memelihara dan melestarikan alam.
Metode: inspirasi hebat dan ide menantang
3. Fitrah Bakat dan Kepemimpinan
Anak punya sifat/potensi unik (suka gambar, suka bicara, suka berpikir, dst)
Golden age: 0-14 tahun
Metode: mendorong & memfasilitasi bakatnya
4. Fitrah Perkembangan
Metode: ditempa sesuai tahapan umurnya
Misal di bawah 7 tahun perbanyak bangun imaji anak. Bangun yang indah dan senang-senang dulu ttg iman.
Tidak banyak menjelaskan neraka dan punishment-nya.
5. Fitrah Seksualitas dan Cinta
Golden age: 6-15 tahun
Metode: bonding/kedekatan dengan orangtua dan keluarga
Ciri: menjadi ayah & ibu yg baik
6. Fitrah Estetika & Bahasa
Metode: banyak dialog/narasi
7. Fitrah Individualitas dan Sosialitas (Ego)
Metode: pemberian award, penghargaan, kalimat pujian dan positif
8. Fitrah Jasmani (fisik)
Metode: menjaga pola makan, tidur, gerak
Dampak Fitrah Based Education : Liberating & Balancing
Fitrah yang dibebaskan (liberating) dan bertumbuh saat ia bertemu syariat, maka akan mencapai titik keseimbangan.
Fitrah dan adab/nilai kitabullah itu dicipta di alam yang sama, maka mereka compatible. Jika tarikan pendidikan ke fitrah, maka akan balance. Jika tarikan pendidikannya ke nafsu, maka timbul kelalaian (ghaflah). So, raise your child sesuai fitrahnya, then you will chase fitrah on yourselves (sama-sama belajar).
Who's the role model in FBE?
Core fitrah adalah fitrah iman (kesiapan seseorang menerima Islam). Maka, Rasulullah saw punya fitrah yang sempurna karena di umur 40 tahun ia telah siap menerima wahyu dan ke-8 fitrahnya tumbuh sempurna.
Jika fitrah tidak tumbuh, maka akan timbul penyimpangan. Kenakalan remaja, LGBT, seks bebas, tawuran, kecanduan game. Jangan pernah menyalahkan lingkungan, tapi evaluasilah didikan kita karena membuat anak tidak punya imun.
Bagaima jika ada fitrah yang terlewat?
Observasi dulu fitrah yang mana? Why? Jika sudah, maka ulangi prosesnya.
Semoga setiap harapanmu tidak berakhir dengan kekecewaan. Semoga cintamu tak lagi bertepuk sebelah tangan. Semoga tenang dan senang membersamai perjalanan.
Kamu bukan badut atau ban serep. Kamu pemeran utamanya.
Semoga setiap harapanmu tidak berakhir dengan kekecewaan. Semoga cintamu tak lagi bertepuk sebelah tangan. Semoga tenang dan senang membersamai perjalanan.
Kamu bukan badut atau ban serep. Kamu pemeran utamanya.
Nasihat Kamis
Hari ini dapat nasihat yang menurutku patut untuk dimiliki oleh siapapun yang mungkin sedang di fase yang sama.
Saat diri merasa saat ini pertimbangan-pertimbangan hidup diukur dengan hal-hal yang sangat duniawi, apapun ukuran duniawinya mulai dari harta benda, status pernikahan, anak, pekerjaan, kondisi lingkungan, kondisi negara, dan lain-lain.
Juga, saat diri merasa semua hal yang sedang dikhawatirkan adalah urusan duniawi yang kita ambil contohnya tadi. Maka, apakah saat ini dunia yang sementara ini sedang memenuhi ruang hati dan pikiran kita? Sehingga keputusan-keputusan beribadah kita pun diukur dengan pertimbangan dunia. Sehingga sebab-sebab kekhawatiran dan ketidaktenangan hidup kita, itu karena masalah dunia.
Urusan pekerjaan yang tidak sesuai, permasalahan lingkungan kantor, gaji yang belum mencukupi. Belum menikah. Takut sama masa depan. Dan berbagai macam hal yang ternyata, kembali lagi, duniawi.
Mari kita tarik diri dari semua itu. Coba dilepas dan diurai satu-satu. Menilai sendiri atas hal yang sedang kita kerjakan dan miliki saat ini. Apakah sudah kita optimalkan untuk beribadah.
Social media yang kita miliki, kita tulis hal-hal yang baik alih-alih mencaci orang lain atau berkata-kata buruk.
Parangkat yang kita miliki, apakah kita gunakan untuk memudahkan hidup orang lain, alih-alih tidak digunakan.
Dan semua proses penilaian terhadap diri yang berujung pada apakah kita menilai diri kita sudah berlaku baik, nggak apa-apa terpaksa baik, yang penting hal baik yang dilakukan. Lebih baik terpaksa menjadi orang baik kan daripada sukarela jadi orang buruk.
Sudahkah kita mengevaluasi diri sendiri. Apakah yang memenuhi ruang hati kita selama ini? Apakah selama ini kita menuhankan rasionalitas dan pikiran? Apakah kita selama ini ternyata tidak yakin kepada Sang Pencipta?
Jangan-jangan, selama ini kita selalai itu dan sejauh ini.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menulis Dirimu 5 tahun lagi, 26 Oktober 2028 nanti...
Mari kita proyeksikan, di waktu yang sama saat kamu membaca tulisan ini, lima tahun lagi, apa harapanmu terhadap dirimu sendiri saat itu? Aku? Tahun itu berarti umurku sudah 37. Berdoa semoga diri ini diberikan umur buat terus menemani tumbuh kembang anak-anakku, juga istri. Bisa hadir secara utuh buat keluarga. Lebih tenang lagi hati dan pikiran, lebih mindful dalam hidup. Bisa memiliki kelapangan rezeki untuk beribadah yang melibatkan harta. Dan dikelilingi sama orang-orang yang baik. Aamiin. Kamu?
Aku menemukan kebebasan di dalam ruang di mana kamu meninggalkanku...
Baca buku tentang bangkit setelah patah hati yang banyak. Lalu aku menemukan diriku dan kenyataan bahwa cinta tidak pernah membuatku sesakit itu 💖
03.11
Waktu menunjukkan pukul tiga lebih sebelas, dini hari. Enggak sabar buat nulis ini. Buat bilang makasih sama Tuhan atas bantuan dan bimbingannya, aku sampai kepada mimpiku yang satu ini.
Hari ini aku pulang pukul 02.02 dini hari. Tapi bukan lembur itu yang menarik. Tapi kenyataan bahwa keberanianku hari itu, membawaku kedalam petualangan yang lebih besar.
Aku bertemu dengan banyak orang, belajar banyak ilmu baru. Akhirnya aku bertemu dengan mereka yang sadar untuk memulai lebih awal agar pekerjaannya selesai. Menemukan mereka dengan posisi mentereng tapi tetap datang tepat waktu, bahkan lebih pagi. Menemukan mereka yang berkata "bagus" ketika aku bekerja dengan benar, mereka yang mendatangiku, atau memanggilku untuk menjelaskan "cara kerja" yang benar lalu mereka bertanya "sudah mengerti?" dan aku menemukan diriku dengan kebabasan untuk berkata tidak dan mereka akan menjelaskan ulang.
Dan aku menemukan kebahagiaan saat orang berpamitan, saat mereka bilang "terima kasih untuk hari ini, selamat istirahat"
33 Tahun dan mengapa belum menikah di usia ini?
Ini tentu bukan bercerita tentangku, tapi tentang pengamatan. Sebagai penulis, beberapa kali melakukan proses interview, ngobrol, bertukar pikiran, dan sebagainya. Dulu, pandangan seperti ini tidak banyak kutemukan karena dulu usiaku masih 24 tahun saat memulai karir. Sekarang, tahun ini telah beranjak 33 tahun, sebentar lagi anak pertama masuk SD. Dan beberapa kali juga, melalui istri, ditanya apa ada temanku yang bisa dikenalkan ke teman-temannya istri. Yang tahun ini, menjelang kepala tiga. Dari proses-proses yang risetku selama menulis dan apa yang terjadi, datanya tidak sesederhana itu. Kita berada di lingkungan yang baik, tidak serta merta membuat kita langsung ketemu pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Dipadu padankan dengan obrolan bersama psikiater beberapa waktu terakhir. Ada beberapa pendapat subjektif yang bisa kuhadirkan dari seluruh kumpulan riset itu, nanti kalau kamu ada lainnya, boleh ditambahkan : 1. Kehidupan yang semakin materialistik, ukuran terhadap materi dan kesiapan materi menjadi parameter yang sangat menentukan dalam pernikahan. Dan ukuran ini membesar, seperti kepemilikan rumah, kendaraan, atau gaji dalam nominal tertentu, serta tuntutan hidup materialistik (apa-apa diukur dengan uang) ini berpengaruh pada pola pikir dan kesiapan orang untuk menikah. Memang, mempersiapkan finansial untuk menikah itu penting, tapi ketika semua keputusan berpusat pada uang - mendominasi pikiran. Itulah awal mula dari kondisi tersebut. Apakah kamu setakut itu pada masalah rezeki? Kondisi yang sangat mungkin berbeda dengan waktu orang tua kita dulu. 2. Kondisi mental dan emosional yang belum pulih. Percaya atau enggak, orang lain bisa merasakan apakah kita ini cukup stabil atau se-eror itu. Apalagi jika keeroran kita tervalidasi melalui asesmen. Kita perlu untuk mengakui dan menyadari kalau memang kita perlu meluangkan waktu untuk mengobati diri sendiri. Kalau pun butuh waktu beberapa tahun, ya itu bagian dari konsekuensi. Karena masuk ke dalam pernikahan memang memerlukan kondisi mental emosional yang cukup kuat. "Badai"nya sesuatu, dinamikanya sangat beragam, dan tantangan yang akan dihadapi sangat berbeda dengan saat kita masih single. Kita akan berkompromi dengan banyak sekali orang. Apalagi jika nanti kita memiliki anak. Mereka perlu orang tua yang sehat jiwa dan pikirannya. Agar jangan sampai, kalau saat kita memiliki trauma, ternyata tanpa sengaja menjadi penghambat bagi anak-anak kita. 3. Romantisasi keadaan. Belum menikah di usia tersebut sebenarnya itu bukan masalah, tidak ada panduan bahwa menikah itu harus usia 25-30. Tidak ada dosanya juga belum menikah di umur 30 lebih. Tapi, membiarkan diri meromantisasi keadaan sehingga dari sana kita merasa mendapatkan dukungan, validasi, pembenaran pendapat, dan apapun yang sebenarnya digunakan untuk menutupi kekhawatiran diri karena belum menikah. Alih-alih berusaha untuk membangun persepsi diri yang benar, pandangan hidup yang lebih luas, dengan demikian kita bisa memiliki value kita sendiri yang kuat, yang tidak goyah saat kita sendirian dikamar yang sepi, atau saat di tengah kumpulan keluarga.
4. Tidak siap dengan masalah. Kalau kata buku yang kubaca, menikah itu seperti memilih masalah yang akan kita jalani seumur hidup, jadi pilihlah masalah yang kamu mau menjalaninya. Tontonan berupa film, drama, dan romanitasi yang berseliweran di media sosial secara tak sengaja membangun kesadaran kita bahwa menikah itu pasti akan sebahagia itu. Ini juga berkaitan pada poin satu tadi salah satunya. Tidak siap dengan beragam masalah, harus beradaptasi dengan beragam kondisi, kompromi dengan pasangan, belum lagi hal-hal lainnya. Tidak setiap pernikahan itu selalu dimulai dengan sudah memiliki rumah, kadang harus ngontrak. Tidak dimulai dengan langsung ada mobil, harus kerja bertahun-tahun dulu. Belum lagi nanti kalau harus memilih sekolah anak yang disesuaikan sama budget keluarga. Belum lagi, bersosialisasi dengan masyarakat. Singgungan yang banyak itu akan menciptakan dinamika, salah satu dinamikanya adalah masalah-masalah tersebut. Belum lagi dinamika soal tinggal di mana, siapa yang akan ngejar karir duluan, dan berbagai pembagian peran dan tugas dalam keluarga. Apakah kamu siap menghadapi dan berkompromi dengan beragam masalah itu? Sesuatu yang memang sudah sepaket dengan pilihanmu untuk berkeluarga.
Apakah kamu bisa membayangkan? Empat dulu, ada banyak temuan lainnya dari hasil diskusiku selama ini. Pendapat di atas sangat subjektif, benar-salahnya tidak mutlak. Tapi semoga bisa menjadi pelajaran penting. Pelajaran yang membuat kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas dalam mengamati sesuatu. Ada tambahan? (c)kurniawangunadi

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Emang Boleh Sepeka Itu?
(Tadabbur Surat At Taubah 40)
@edgarhamas
Salah satu momen yang barangkali akan meruntuhkan 'sok kuatnya' kita, adalah ketika seseorang tanpa ada angin dan badai tiba-tiba bertanya, "kamu lagi nggak baik-baik aja ya?"
Kita seperti dibaca olehnya, tepat di halaman terpenting; saat orang-orang sama sekali tak peduli.
Ketika yang lain membaca kita sebagai orang kuat dan tangguh, selalu tersenyum dan teguh padahal di dalamnya terseok-seok; lalu kita terbaca bahwa kita tak baik-baik saja.
Saya pun pernah akhirnya menangis sesenggukan karena pertanyaan sederhana itu, "kamu ga baik-baik aja ya?"
Seseorang yang mampu membaca kita, biasanya ia pun pernah melalui badai hidup yang sama, cobaan yang sama bahkan lebih berat.
Maka ia melihat cukup dari menunduk lesunya kita, atau dari helaan napas yang berat sambil duduk terkulai di kursi. Dari mata sayu yang kurang tidur itu.
Dan kau tahu? Ada kisah manusia paling tajam kepekaannya pada seseorang terabadikan dalam Al Qur'an. Di saat harus melakukan misi berat antara hidup dan mati, dikejar oleh pembunuh dengan janji upah sangat tinggi.
Kalimat itu terucap di gelap gua nan sempit, "jangan bersedih..."
Ialah baginda Rasulullah. Gua Tsur nan sempit dan gelap itu beliau jadikan tempat bersembunyi bersama sahabatnya, Abu Bakr.
Padahal beliau sendiri sedang terancam, tegang dalam kejaran musuh. Tapi beliau tenangkan Abu Bakr, "Jangan engkau bersedih, sungguh Allah bersama kita.” (QS At Taubah 40)
Bagaimana rasanya menjadi Abu Bakr dalam situasi itu?
Bisa saja Rasul tak berkata apa-apa, tak melakukan dan menasihati apa-apa. Tapi, Rasul tenangkan sahabatnya; karena Rasul peduli. Beliau peduli pada keadaan orang lain bahkan di saat paling berat. Shalallahu alaihi wasallam.
Jika bertemu orang yang mampu membaca bahwa dirimu sedang tak baik-baik saja saat yang lain tak peduli, pasti kau akan mengenangnya dalam memori teristimewa.
Dan, begitulah Abu Bakr menjadi perisai dan pembela Rasul paling perkasa. Karena Rasul peduli pada sahabat-sahabatnya.
"Kala itu Rasul sedang berhadapan pada tugas besar bernama hijrah yang dirongrong kaum musyrikin" kata Syaikh Abdullah Balqasim, "tapi, beliau tidak lupa untuk menghibur sahabatnya yang bersedih. Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak peduli pada sahabat kita."
masyaAllah!
Aku tahu kita seringkali tak baik-baik saja. Kamu bisa saja tak peduli, bisa saja tak pakai hati, karena kamu sendiri sudah remuk redam.
Tapi percayalah, salah satu hal yang kau butuhkan untuk mengobati kusamnya hidup itu adalah peduli. Dunia sudah kejam, kita jangan ikut-ikutan.
Normalnya
Kemarin lusa ngobrol sama psikiater, dari kurang lebih 2 jam ngobrol ada banyak sekali yang kubawa pulang dalam pikiran. Mau kutulis di sini, biar nggak lupa. Karena ada beberapa aspek pembahasan yang loncat-loncat, jadi nggak apa-apa kutulis seloncat-loncat itu.
Jadi kemarin diskusi soal cara berpikir yang normal dan tidak normal. Sehingga kita jadi mudah mengidentifikasi diri sendiri dan juga orang disekitar kita, normal apa enggak.
Normalnya, orang kalau mau menikah itu kan pasti mencari yang baik. Nyari yang lebih baik darinya atau minimal setara. Kalau sampai ada yang nyarinya di bawah kualitas dirinya - yang penting mau sama dia. Bahkan mungkin terjebak dalam toxic relationship dengan orang yang buruk banget karakternya tapi tetap dipertahankan. Ini udah nggak normal. Kalau orang normal, pasti akan mencari yang baik, bukan yang buruk. Dan akan langsung nge-cut kalau sudah tahu kondisinya demikian.
Wajar kalau orang tuamu itu pengin kamu dapat pasangan yang baik secara bibit-bebet-bobot. Kamu sudah dihidupi, disekolahkan, banyak hal yang dikorbankan orang tuamu untukmu bisa kayak sekarang. Eh pas mau nikah, seadanya orang yang penting cinta. Wajar sekali kalau nantinya orang tuamu muntab dengan keras kepalanya dirimu. Itu normal. Nggak normal justru kalau orang tua membiarkan diri kita tersesat dalam memilih pasangan hidup, membiarkan kita terjebak dengan orang yang salah, apalagi kalau nanti tahu anaknya KDRT terus sama ortu kalian nggak boleh cerai karena malu-maluin - jaga nama baik keluarga, tidak mau tahu, dan sebagainya. Itu baru nggak normal.
Normalnya, orang kalau sudah tahu bahwa orang yang kita kenal itu karakternya buruk. Meskipun, bukan kita yang mengalami kejadiannya langsung. Alarmnya sudah ON, sudah akan berhati-hati untuk membangun hubungan. Bukan malah mengabaikan data itu dan menganggap selama bukan kita yang mengalami, maka itu semua FINE FINE aja. Tidak terjadi di kita, bukan berarti itu adalah hal baik. Normalnya, kita akan lebih waspada dan itu memang sangat wajar.
Sangat wajar dan normal sekali kalau kita kemudian membangun boundaries dan tidak membangun hubungan dengan orang-orang yang sudah melewati batasan kita. Justru nggak normal dan pasti ada sesuatu, kalau kita tidak bisa memberikan rejection pada orang-orang tersebut. Tidak membangun boundaries, yang terjadi adalah diri sendiri yang kesulitan. Jadi wajar sekali kalau bahkan mungkin kamu memutus hubungan dengan mereka. Jadi, selama ada fitur unfollow - block - hide - report, silakan dipakai.
Sebagian hal itu adalah dari obrolan kemarin. Catatan lainnya banyak, tapi akan jadi catatan penting bagi diri aja.
Oh iya, ke psikolog/psikiater itu tidak hanya kalau kamu sedang sakit secara mental dan emosional. Dan kondisi sehat, coba aja cek-cek aja. Selayaknya medical-check up dalam kondisi sehat.
-kurniawangunadi
Berlebihan jika kamu berharap suatu kebaikan dibalas perasaan. Semoga hatimu lepas dari harapan-harapan sumber dari rasa kecewa.
Hallo again tumbrl ✨️
Semantap-mantapnya kita merencanakan masa depan, tetap sisakan ruang untuk ridha bahwa hari esok memang di luar kehendak kita. "The future's not ours to see."
Dan isi ruang itu dengan tawakkal bahwa apa yang terjadi di luar perencanaan kita, adalah yang terbaik dari Allah.
Dan iringi dengan doa yang Rasulullah ajarkan pada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib ketika ia meminta diajarkan sebuah wirid...
Rasul bersabda, "mintalah afiyah pada Allah..." Afiyah bermakna kebaikan yang lengkap. Afiyah dalam agama, afiyah dalam dunia. Afiyah dalam kebaikan.
Dan itulah salah satu doa andalan yang selalu diucapkan pula oleh Khalifah Abu Bakr Ash Shiddiq. Kalau kita lihat perjalanan hidup beliau, kita akan tahu bahwa dunia dan akhiratnya begitu lengkap dan indah.
اللهم إني أسألك العافية في ديني و دنياي
"Allahumma innii as'alukal afiyah fi diini wad dunyaya.." (HR Ahmad)
YaAllah jauhkanlah aku dari perusahaan yang gajinya kecil tapi dramanya besar. Aamiin
Ya allah jauhkanlah aku dari perusahaan yang gajinya kecil, dramanya besar, atasannya pelit. Aamiin

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Senja dan bola
Ada beberapa moment dalam hidup, pada perkenalan singkat tanpa temu itu, di mana senja dan bola tidak pernah gagal mengembalikan ingatan tentang bagaimana hadirmu masuk kedalam duniaku, memberi banyak warna selain hitam, putih dan abu-abu.
Lalu kutemui gambar itu, jelas mengapa pada akhirnya dirimu yang lebih tegas membuat batas, mengakhiri perjalanan, mengakhiri perjuangan.
Terima kasih ru,
Semantap-mantapnya kita merencanakan masa depan, tetap sisakan ruang untuk ridha bahwa hari esok memang di luar kehendak kita. "The future's not ours to see."
Dan isi ruang itu dengan tawakkal bahwa apa yang terjadi di luar perencanaan kita, adalah yang terbaik dari Allah.
Dan iringi dengan doa yang Rasulullah ajarkan pada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib ketika ia meminta diajarkan sebuah wirid...
Rasul bersabda, "mintalah afiyah pada Allah..." Afiyah bermakna kebaikan yang lengkap. Afiyah dalam agama, afiyah dalam dunia. Afiyah dalam kebaikan.
Dan itulah salah satu doa andalan yang selalu diucapkan pula oleh Khalifah Abu Bakr Ash Shiddiq. Kalau kita lihat perjalanan hidup beliau, kita akan tahu bahwa dunia dan akhiratnya begitu lengkap dan indah.
اللهم إني أسألك العافية في ديني و دنياي
"Allahumma innii as'alukal afiyah fi diini wad dunyaya.." (HR Ahmad)