Berjumpa Malaikat Di antara upaya memperkokoh ukhuwah ialah menjalin silaturrahim. Darinya kita bisa mendapat banyak arti; tentang sebuah kebahagiaan, kerinduan, keikhlasan, serta syukur akan hadirnya saudara-saudara sholeh sholehah di sisi kita. Jarak yang jauh serta kesibukan yang membunuh seringkali membuat kita lupa saudara. Menganggapnya sudah tak lagi ada di ruang kehidupan kita. Melihat realita, bahwa sahabat-sahabat lalu ya biarlah berlalu. Kini cukup kita bangun lagi persaudaraan dengan kawan-kawan sekitar. Yang nyata. Yang jelas menjadi kebutuhan ataupun kemanusiaan untuk mulai beradaptasi dan bersosialisasi dengan mereka. Namun di sana terpendam yang kurang. Selalu ada rasa yang menjebak kita pada sepi; bosan akan aktivitas hari-hari, lelah akan upaya yang gagal berkali-kali, suasana hati yang tak lagi mampu menguasai diri. Selalu terselip rasa yang memalung kita pada sunyi; kala keberuntungan menghampiri, tanpa iringan saudara-saudara apalah arti bahagia. Rasa itu tak lain ialah rindu yang kerap menyadarkannya. Membisik pelan pada hati, hey, apa kabar dia yang di sana? Kapan terakhir berbincang dengannya? Tidakkah kau ingin mengetahui kabarnya? Tidakkah kau ingin berbagi kisah-kisah padanya? Sebagaimana suara hati yang merindukan indahnya saling berkunjung, memang begitulah Islam memuliakan mereka yang bersaudara dan sama-sama menjaga silaturahim di antaranya. Apa saja keutamaan silaturrahim? Dan buah apa yang bisa kita petik hingga menyegarkan ikatan persaudaraan kita serta merasakan manisnya? Seistimewa Penjaganya: 1. Mereka yang beriman “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.” 2. Mereka yang berakal lagi mengambil pelajaran Dalam surah Ar Ra’d ayat 19 -21 Allah berfirman, “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Allah kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” “(Yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,” “Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan (mengadakan hubungan silaturrahim dan tali persaudaraan), dan mereka takut kepada Rabb-nya dan takut kepada hisab yang buruk.” 3. Allah janjikan tempat bercahaya “Berhak mendapatkan kecintaan-Ku; orang yang saling mencintai karena Aku,” riwayat Ibnu Hibban dalam Shahih Al Mawarid, “berhak mendapatkan kecintaan-Ku; orang yang saling menasehati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku; orang yang saling mengunjungi karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku; orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang shalih terhadap tempat mereka itu.” 4. Dilapangkan rizki dan diperpanjang umurnya Mungkin sebagian kita masih bertanya-tanya, dari mana dilapangkan rizki sedang dalam berkunjung seringkali kita menyiapkan ini itu untuk dibawa. Sedang menjamu tamu juga tak cukup dengan yang biasa-biasa saja. Tapi perlu dipahami bahwa rizki di kehidupan ini tak hanya berupa materi. Ia mencakup bahagia, tenteram, syukur, iman, dan memiliki sahabat sholih juga merupa rizki yang nikmatnya tak semua orang mampu merasakan. Dalam riwayat Muttafaqun ‘Alaihi Nabi bersabda, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Adapun maksud dari dipanjangkan umur, para ulama menjelaskan salah satunya ialah tambahan berkah dalam umur. Kemudahan melakukan ketaatan dan menyibukkan diri dengan hal yang bermanfaat baginya di akhirat, serta terjaga dari kesia-siaan. Semanis Buahnya: 1. Mengenal lebih dekat Dari silaturrahim, kita bisa mengenal satu sama lain lebih dalam. Yang sebelumnya cukup tahu nama dan kelas, dengan mengunjunginya kita mengenal keluarga, saudara, sampai hewan peliharaan, misalnya. Yang semisal dalam kelas, rapat, atau aktivitas-aktivitas luarnya terlihat cenderung cuek, ternyata di dalam rumah begitu cakap menjamu sahabatnya. Jika berjumpa di satu acara, waktu ‘tuk berbagi bisa saja kurang. Bertukar pengalaman, menyampaikan gagasan-gagasan yang didapat kala tak bersua. Saling bertanya-jawab perihal kehidupan. Apalagi perempuan. Rasanya kalau sudah ketemu sahabat maunya cerita panjang lebar :D Maka dengan menjaga silturrahim, menjaga hubungan kasih sayang antar sesama, kita terbiasa untuk peduli akan rasa dan asa sahabat-sahabat kita. Mau berbagi dan mendengar tentang suka duka mereka. Kita terbantu untuk lebih mengenal, memahami, berbuat sesuatu untuk sahabat kita, serta menjumpai rasa syukur yang bertambah atas hadiah Allah berupa pertemuan indah tersebut. 2. Membangun lebih kuat Jika ada istilah ‘usrah (keluarga) awal tarbiyah’, maka hadir juga ‘ukhuwah akar berdakwah’. Dengan mengeratkan silaturrahim, rasa saling membutuhkan sedikit demi sedikit akan tumbuh. Solid. Saling merasa kuat dan berisi jika segala diemban bersama. Apa yang menjadi tugas sahabat kita, menjadi peran kita juga dalam memikulnya. Ketika umat Islam berkumpul dalam kasih sayang, kepedulian, dan semangat kebersamaan, maka persoalan umat akan lebih mampu dihadapi. Di sana muncul ide-ide, program-program, serta pandangan-pandangan baik dari banyak sisi. Bertemu dan saling bertukar wawasan, memperluas manfaat ilmu yang didapat. Maka tidak heran jika silaturrahim menjadi media menumbuhkan pengetahuan. Bersua dan saling menangguhkan pada jalan perjuangan. Maka bukan hal yang aneh ketika silaturrahim menjadi penguat untuk bersama bersatu menempuh jalan yang dikendaki-Nya. Dan berharap dengannya keberkahan senantiasa meneduhi. Lalu apa hubungan risalah silaturrahim dengan judul Berjumpa Malaikat di atas? Dalam riwayat Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengabarkan, “Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?” Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” Berkata Ibnu Jauzi dalam Kitab Kasyful Musykil tentang hadits di atas, “Ini adalah perkara yang hanya tersisa namanya, namun sudah tidak ada bentuknya.” Demikian sebab minimnya hati yang berniat mengunjungi saudara hanya karena ia mencintainya lantaran Allah semata. Semoga kita termasuk mereka yang Allah janjikan mimbar bercahaya di akhir kelak, dan mengizinkan kita berjumpa malaikat tatkala langkah menuju saudara tak lain sebab mencintainya karena Allah. Salam santun. :) || Bagian 2: K E M B A L I