Hari ini hujan, Dian. Aku senang sekali. Kemarin-kemarin aku meminta pada langit untuk mengirim hujan kemari, bumi sudah terlalu kering. Aku meminta hujan yang menenangkan, yang banyak membawa rahmat, yang banyak membawa kebaikan.
Dan hari ini hujan, Dian. Aku suka hujan, meskipun aku harus berteduh kala hujan datang. Kata Ibu, aku tidak terbiasa main hujan sejak kecil, jadi kalau kena gerimis saja hidungku bisa meler, kepalaku berat, badanku demam. Tapi aku tetap suka hujan, aku tetap senang menyambut datangnya, aku tetap ingin menunggu hadirnya. Katamu, menyukai sesuatu tidak berarti harus bersamanya terus, kan?
Aku senang. Karena di tengah hujan ini ada kamu disini; di kepalaku, berputar-putar. Berisik, aku seperti bisa mendengar ocehanmu, racauanmu, cerita-cerita anehmu, bersama dengan wajah konyol dan menyebalkan yang terpasang disana. Iya, konyol, menyebalkan. Kamu tidak sadar? Hahaha. Kalau mendengar ucapanku langsung, kamu pasti akan segera menjitakku, atau mencubit hidungku. Ah, sepertinya kamu akan melakukan itu sedari awal. Sejak aku memanggilmu "Dian". Hahaha.
"Aku ngga suka dipanggil Dian, Hanan. Kayak perempuan, kamu pikir aku perempuan atau gimana?" katamu.
"Ardian kepanjangan. Aku sukanya panggil Dian aja, gapapa ya.. yaa.." jawabku sekenanya.
Kamu tidak pernah bilang setuju memang. Tapi aku tetap suka, hehe. Maaf, ya. Lagipula aku sudah jarang mendengar omelanmu soal itu.
Oiya, hujan mengingatkanku pada sesuatu. Katamu bahagia hanya milik orang yang mau bersedih, ya? Katamu kita harus bersyukur kalau hari ini sedih, karena besok-besok kita akan bahagia.
"Coba bayangin, gimana orang yang ga pernah sedih bisa merasakan bahagia? Darimana dia tau indahnya rasa bahagia? Ibarat orang yang selalu ada di tempat terang, dia ga akan bisa memaknai terang dengan sebegitunya, karena dia ga pernah merasakan ada di tempat gelap. Jadi terang di sekitar nya terasa biasa aja, ga begitu berarti. Beda dengan orang yang pernah merasakan gelap, ia akan begitu menghargai hadirnya terang."
Katamu juga, kita harus mau menerima semuanya; segala rasa yang dihadirkan semesta. Jangan pilih-pilih, hanya mau bahagia saja, atau sedih saja *loh. Kamu membawa lelucon saat itu, "Coba kalau kamu maunya hanya nerima bahagia, lantas waktu sedih datang kamu malah marah, kamu menolak. Terus sedih itu ngambek, dia jadi betah gangguin kamu, datang terus ke hidup kamu, gimana? Memang kamu mau hidup kamu isinya sedih terus, karena kamu terus meratapi sedih yang kemarin-kemarin datang?"
Hm, kalau boleh jujur, sebetulnya saat itu aku tidak begitu paham. Kamu tau, kan? Aku disibukkan dengan kentang goreng yang kamu beli di depan gang, enak sekali, kata-kata mutiaramu sampai kalah saing dengannya.
Tapi setelah kini kurenungi kembali.. Iya, sekarang aku bisa paham. Dulu sekali mungkin hidupku hanya terisi oleh hal-hal baik, dipenuhi oleh hal-hal hebat, sampai aku merasa bosan, sampai aku merasa semua hal itu biasa saja, tidak istimewa sama sekali, hambar. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring kita bertumbuh dewasa, seiring kita sudah tidak lagi jalan bersama, ada beragam hal tidak baik yang datang padaku, mungkin juga padamu. Di saat saat getir itu aku jadi paham makna bahagia, bahkan sampai hadir rasa rindu akan bahagia. Aku jadi paham bahwa bergulir nya rasa lah yang membuat kita hidup, membuat kita bisa memaknai segala cerita, membuat kita bisa memahami isi hati. Begitu kan maksudmu?
Kalau memang iya, artinya sekarang aku sudah lebih paham, Dian. Sudah lebih bisa memutar otakku, sudah lebih bisa memaknai berbagai hal yang datang, sudah bisa lebih mencerna beragam makna kehidupan. Aku sudah lebih dewasa, ya aku memang sudah beranjak dewasa sekarang. Waktu akan terus memaksa kita untuk paham, katamu dulu.
Terima kasih, ya. Kamu memang pergi. Tapi ceritamu masih ada disini, terputar, pelan, kadang-kadang. Kamu memberiku bekal yang begitu berarti.
Kamu tau? Aku lega sekali menuliskan ini —menyatut namamu, menyadur kalimatmu. Karena kamu tidak akan pernah membacanya. Seusai goresan terakhir ini, aku akan menutupnya rapat, sama seperti tulisan serupa lainnya, entah akan kubaca lagi atau tidak.
Mungkin aku ini memang menyebalkan untukmu, sering terlihat bodo amat, tidak peduli, pecicilan seperti anak kecil. Tapi kamu juga perlu tau; tidak ada memori yang pudar tentang pertemuan-pertemuan yang pernah ada. Aku menyimpannya baik-baik. Aku pengingat yang baik sepertinya. Tapi kamu pasti tidak akan mengiranya.
Di balik hujan yang teduh ini, aku bermunajat. Semoga kamu baik-baik disana, dan semoga aku juga disini. Semoga banyak hal hebat yang akan segera datang, semoga banyak hal baik yang akan selalu terbit, semoga segala luka segera pulih, semoga segala getir segera pergi, dan semoga akan banyak bintang yang berhasil kita raih. Gemintang berisi mimpi dan cita-cita yang sengaja kita gantung disana, kita tebar di hamparan gulita, malam itu.
Aku pernah membaca sebaris kalimat. Katanya, hujan selalu membawa kenangan. Dan benar, hujan memang membawamu kemari, tapi hujan tak benar-benar bisa mengantarmu kembali kesini.