Skincare, Yay or Nay?
Kita tidak menafikkan bahwa skincare telah menjadi kebutuhan wajib terutama bagi kaum hawa. Barangkali masih ada yang berpikir kalau skincare itu melulu produk kosmetik, but it's not. Skincare dari alam yang kita buat sendiri di rumah (seperti masker dari campuran putih telor dan lemon), itu juga termasuk skincare loh. Ok, sampai sini clear yah.
Ada beberapa tipe perempuan dalam memilih skincare. Pertama, mereka yang hanya terpukau dengan keunggulannya tanpa memedulikan ingredientsnya. Biasanya mereka membeli suatu produk karena kepopulerannya atau setelah melihat hasil dari teman atau kerabatnya yang sudah memakainya terlebih dahulu. Perempuan dengan tipe ini sangat berisiko terjebak dengan merk skincare yang justru berbahaya bagi tubuhnya.
Tipe kedua, mereka yang malas memakai skincare baik homemade maupun produk jadi. Mereka hanya mengandalkan kosmetik perias (bedak, foundation dsb.) sebagai penghias wajah. Meskipun biasanya mereka masih menggunakan face wash dan sabun mandi (ya iyalah 😂). Ini juga berbahaya, pasalnya face wash saja tidak cukup bagi kulit kita untuk kondisi bumi yang semakin menua dengan berbagai paparan negatif seperti saat ini. Terlebih jika mereka memiliki aktivitas padat di luar ruangan, akan lebih parah dampaknya.
Tipe ketiga, mereka yang anti dengan skincare buatan pabrik dan memilih skincare alami buatan sendiri. Sama seperti tipe kedua, mereka biasanya juga masih menggunakan face wash. Perempuan pada tipe ini beralasan bahwa produk-produk skincare buatan pabrik tidak ada yang benar-benar aman untuk digunakan dalam jangka panjang. But I think perempuan tipe ini jumlahnya ga banyak ya 😁.
Tipe keempat, mereka yang aware dengan produk skincare yang akan mereka pakai. Mereka dengan tipe ini biasanya tidak mematok harus produk di pasaran atau homemade. Mereka hanya mementingkan apa yang mereka butuhkan. Saya termasuk yang tipe ini, karena saya harus benar-benar memastikan ingredients dari produk yang akan saya beli dan fungsinya. Tentu hal ini juga memiliki kekurangan. Kekurangannya adalah saya harus mencoba banyak merk skincare untuk mencari yang benar-benar cocok dengan ingredients yang aman. Selain itu, saya biasanya juga mencari review dari beauty blogger dan mencari tahu kandungan apa saja dalam produk tersebut sebelum memutuskan untuk membelinya. Cukup ribet memang..
Beberapa merk skincare mengklaim bahwa produknya aman dengan bahan alami dan blablabla. Namun pada kenyataannya jika kita telusuri lebih detil maka kita akan menemukan 'bahan yang tidak aman buat kita.' Maksudnya tidak aman ini bukan berlaku general, karena kondisi kulit masing-masing orang berbeda, ada satu orang dengan jenis kulit tertentu aman dengan ingredients produk A dan ada yang tidak. Oleh karena itu saya harus memilih dan memilah produk mana yang cocok untuk kulit saya.
Karena alasan itu pula saya tidak terpaku pada satu merk saja. Meskipun merk A ini sudah mengklaim berbahan alami, terdaftar BPOM, cruelty free, no animal tested dan sebagainya, nyatanya mereka masih menyelipkan satu atau lebih bahan yang kurang aman buat jenis kulit tertentu. Hal itu mungkin karena tiap produk dikhususkan untuk jenis-jenis kulit tertentu: normal, kering, berminyak, atau kombinasi.
Seperti dalam kasus saya, essence dari merk A cocok untuk kulit saya, tapi serum dari merk tersebut kurang cocok. Inilah yang membuat saya menggunakan banyak merk untuk skincare rutin. Lalu apakah hasilnya bisa maksimal jika tidak memakai semua rangkaian dalam satu merk? Bagi saya selama ini tetap bisa maksimal kok, asal sudah cocok.
Saya juga tidak selalu cocok dengan skincare homemade. Karena pernah ketika memakai masker dari teh bekas, keesokan harinya muka saya justru meradang dan muncul bintik merah, persis seperti alergi. Setelah saya cari tahu, ternyata bahan alami pun juga memiliki kandungan yang terkadang tidak cocok untuk jenis kulit tertentu.
Lalu sebenarnya untuk apa sih kita harus merawat kulit? Ya, tentu semua perempuan ingin tampil cantik. Tampil cantik ini tidak melulu untuk show off, karena bagi saya yang sudah menjadi istri orang, akan merasa malu pada suami jika muka tidak terawat. Fortunately my hubby gimme financial support for my needs 😍. Meskipun belinya nyicil ga pernah sepaket, dan memang dari dulu ga pernah beli langsung sepaket karena alasan yang sudah disebutkan sebelumnya.
Untuk usia saya (29 tahun) skincare sudah menjadi kebutuhan pokok, karena pada usia ini kulit rentan mengalami penuaan dini. Ibarat kata air wudhu saja ga cukup buat menangkal radikal bebas untuk kulit yang tak lagi muda ini. Namun ini tidak lantas membuat kita harus memborong semua produk skincare, karena sebenarnya kita sendiri yang bisa menentukan kebutuhan dan budget kita. Tapi yang wajib banget ada menurut saya adalah face wash, pembersih (yang sekarang lagi ngetrend micellar water), dan moisturizer, ditambah produk ber-SPF (sun protection factor) jika beraktivitas di luar ruangan.
Kenapa face wash dan pembersih harus ada dua-duanya? Karena face wash saja ga cukup untuk membersihkan sisa debu yang menempel di kulit dan sel kulit mati yang tiap hari ada. Kalau saya, masih ditambah lagi dengan exfoliating atau scrub dan masker. Keduanya dibutuhkan untuk membersihkan sel kulit mati secara lebih maksimal.
Apakah kulit berminyak juga butuh moisturizer? Sebenarnya jenis kulit saya cenderung kering, ini hanya untuk meluruskan saja. Kulit berminyak juga membutuhkan pelembab loh, namun harus dicari yang pas, yaitu yang berbahan dasar air (hydrating) bukan minyak. Karena kulit yang lembab adalah yang seimbang antara kadar air dan minyaknya.
Anyway, saya juga sudah merasa perlu memakai produk anti aging, meskipun saat ini saya tidak memakai krim siang dan malam sama sekali. Essence dan serum menurut saya sudah cukup untuk menutrisi kulit agar tidak cepat menua. Memang untuk fungsi pencerahan cukup lambat karena tidak memakai krim khusus whitening. Namun itu sudah cukup membuat saya lebih confidence. Ya, bagi saya penampilan juga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat confidence dan kebahagiaan diri 😄.
















