Semua orang tahu setiap hari ada hewan - hewan berdarah panas yang berkeliaran dimalam hari, ditengah hutan yang telah mereka hapal sejak lahir. Setiap malam, ketika hanya ada bulu - bulu yang ditinggalkan genetiknya untuk membuat mereka tidak begitu banyak mengeluarkan energi dari apa yang baru saja mereka makan hanya agar mereka tidak menggigil kedinginan. Meski telah diselimuti rapatnya pepohonan, rimbunnya dedaunan yang terus bernafas seperti mendengungkan bahasa bahasa lain yang mereka kenal tapi tidak mereka mengerti, udara dingin tetap berhembus melewati setiap helai bulu.
Itulah mengapa beberapa dari mereka membuat koloni, beberapa yang lain menyendiri bersembunyi. Ancaman bisa saja merambat melalui daun daun yang gemerisik seperti berbicara dibelakang, menggunjingkan, menambah perasaan kesepian.
Lalu jika si penyendiri ini salah melangkah atau kurang berhati hati mungkin nafas yang terus dia hidupi entah karena apa itu berhenti, dan seluruh dunia rasanya akan meratapi kehidupan-kehidupan yang entah kenapa baru merasa berharga tepat ketika mereka telah mati, membuat penyesalan, mencari-cari kesalahan.
Pernah suatu malam Si penyendiri merasakan kehangatan, bukan dari makhluk yang sama dengannya atau dari terangnya rembulan ketika cahayanya serasa menusuki sela sela dedaunan. Dia melihatnya hanya hidup, hangat, dan bercahaya. Makhluk itu mengeluarkan suara gemericik-gemericik seperti terus menggeram menggumamkan kata umpatan seolah dia terpenjara tapi tak bisa melakukan apapun. Si penyendiri melihatnya dari jauh, semakin didekati semakin panas dan tidak nyaman, dan umpatan-umpatan itu juga rasanya tidak perlu banyak didengar. Beberapa makhluk bergerak disekelilingnya seperti menjaga agar dia tidak kabur kemanapun. Mereka tinggi dan bergerak maju dengan dua kaki, seperti pohon-pohon yang berjalan namun tanpa daun daun yang rimbun, dan mereka sangat berisik. Kepada makhluk hangat ini, si penyendiri merasa kasihan.
Duduk bersembunyi dibalik benda berbentuk prisma segiempat yang berjajar menghadap makhluk mempesona itu, sambil merasakan kehangatan tidak biasa yang seperti matahari, dengan setia dia mendengarkan rintih-rintih umpatan yg terdengar samar setiap kali penjaga itu melemparnya dengan sisa batang pohon.
Dia ingin menghitung masa, tapi dia tidak mengerti dan dia juga tidak pernah peduli, hanya baru kali ini ketika fragmen-fragmen itu terasa berharga yang rasanya perlu dibungkus dan dibawa kemanapun dia pergi. Sayangnya ketika itu, dia hanya bisa merasakan kenyataan dari apa yang didapatnya.
Malam perlahan semakin hening, para penjaga tidak lagi begitu berisik, dan mereka menghilang satu persatu kedalam benda prisma segiempat. Si penyendiri masih setia menemani makhluk itu yang dengan tenang meliuk sambil memercik sedikit-sedikit. Seperti perlahan mulai kehilangan nyawa, hangatnya menurun dan si penyendiri mulai menghampiri, umpatannya tidak begitu banyak terdengar lagi. Si penyendiri membisik, "Maaf aku tak bisa banyak membantumu".
Dia menciumi tanah hitam yang terasa hangat, ah betapa dia merasa makhluk ini sangat berharga.
"Aku akan disini dulu sebentar menemani, sampai kau merasa kuat lagi dan bisa melarikan diri sebelum para penjaga itu keluar dan memukulmu dengan sisa pohon lagi", lalu dia merasa makhluk itu tersenyum seperti menjawab apapun yang dia katakan, hangat masih terus memancar mengenainya sampai ke ujung kaki. Si penyendiri tidak merasa lemah malam itu, tidak perlu mencari sudut-sudut gelap yang tersembunyi hanya agar bisa beristirahat dengan tenang. Rasanya dia bisa hidup selamanya dengan perasaan aman ini, "Bagaimana aku bisa menemukan matahari di dingin dan gelapnya malam hari?" pikirnya, "Aku benar-benar beruntung, dia benar-benar mengagumkan".
Esok hari ketika dingin benar-benar terasa menusuk dia baru menyadari bahwa makhluk itu sudah tidak ada lagi, hidungnya mencium bau embun yang segar, tapi bukan perasaan hangat dan terang makhluk itu. Dia mengitar-ngitari bekas tempat makhluk itu sebelumnya berada, tanah yang hitam itu telah menjadi basah. Dia melolong ketika telah memastikan makhluk itu benar-benar tidak ada, tanpa jejak, tanpa dia sama sekali tau kapan dan bagaimana dia beranjak.
"Jika memang dia benar-benar pergi tanpa memberitahuku, bagaimana bisa?Apakah itu benar? tapi apa tanah yang menghitam ini? Apakah dia kehabisan nyawa dan aku tak tahu sama sekali?”, dia melolong, melolong, melolong lagi dan lagi, sambil terus mengitari gundukan tanah hitam yang basah itu.
Tubuhnya terpelanting, tanpa dia sadari para penjaga sudah ada disekitarnya, dan salah satu kaki penjaga itu menubruknya serta merta, beberapa batu mengenai tubuhnya. Dia masih kebingungan, para penjaga membuat suara berisik yang memekakkan telinga, dia pergi berlari dengan perasaan panik dan tidak mengerti. Sampai sejauh dimana dia tidak mendengar suara berisik para penjaga itu lagi, dia mulai melambatkan larinya dan berjalan gontai. "Mungkin malam nanti aku bisa melihatnya lagi ditempat yang sama", pikirnya dan mulai mencari buah buah beri untuk dimakannya hari ini.
Di hari hari selanjutnya dia mengunjungi tempat itu beberapa kali diwaktu yang sama, tapi makhluk itu tak pernah muncul lagi. "Aku pikir dia abadi, ketika aku menyentuh perasaannya untuk pertama kali, perasaan itu seperti jatuh memenuhiku".
Si penyendiri tidak lagi membicarakan soal itu pada pohon pohon tempat biasa dia berteduh, tidak lagi mencoba mengingat percikan umpatan yang membuat malam itu menjadi ramai, atau warna liukan makhluk hangat yang seperti tersenyum tapi terus merasa resah itu. Hanya setiap kali malam terasa lebih dingin atau kaki kecil nya terasa lebih berat dia tahu, bahwa dulu pernah ada yg begitu hangat yang memberinya banyak alasan, sekaligus juga pernah ada harapan untuk langkah yang lebih ringan.