Ada satu kabar dari China yang sempat membuat banyak orang mengernyit. Negara itu pernah menjadi sorotan karena punya aturan yang menekankan kewajiban anak untuk memperhatikan orang tua lanjut usia, termasuk sering mengunjungi atau menghubungi mereka. Aturan itu masuk dalam perubahan Undang-Undang Perlindungan Hak dan Kepentingan Lansia, dan mulai berlaku pada 1 Juli 2013. Banyak media menyorotnya karena terdengar ganjil. Sampai urusan anak menjenguk orang tua saja harus ikut dibawa ke ranah hukum. Tapi kalau dilihat lebih dalam, kabar ini sebenarnya bukan sekadar soal aturan yang terdengar aneh. Ini justru tanda bahwa ada masalah yang makin terasa di banyak tempat, yaitu rasa sepi yang datang ketika umur bertambah, sementara anak-anak mulai sibuk dengan hidup mereka sendiri.
Kalau dipikir-pikir, rasa sepi itu memang sering bertambah diam-diam. Waktu masih kecil, rumah terasa penuh. Ada suara piring, suara televisi, suara orang keluar masuk, ada yang bertanya sudah makan atau belum, ada yang ribut soal hal kecil, ada yang mengingatkan ini itu. Lalu waktu berjalan. Anak-anak tumbuh, sekolah, kerja, menikah, pindah kota, bahkan pindah negara. Rumah yang dulu terasa sempit karena terlalu ramai, pelan-pelan terasa luas karena terlalu lengang. Ini bukan berarti anak-anak berubah jadi jahat atau lupa diri. Hidup memang bergerak ke sana. Setiap orang makin dewasa, lalu punya beban baru, tanggung jawab baru, dan lingkaran hidup yang makin melebar. Masalahnya, saat hidup anak makin penuh, hidup orang tua justru sering makin sunyi.
Banyak orang baru sadar soal ini ketika masuk usia matang. Dulu rasanya punya banyak teman, banyak acara, banyak tenaga, banyak alasan buat keluar rumah. Tapi makin bertambah umur, lingkaran pergaulan biasanya makin kecil. Tenaga tidak sebanyak dulu. Kesibukan berubah bentuk. Ada yang pensiun, ada yang kehilangan pasangan hidup, ada yang teman-temannya mulai jarang bertemu, ada yang badannya mulai tidak senyaman dulu untuk bepergian. Akhirnya, dunia seseorang bisa mengecil tanpa ia sadari. Bukan karena dia tidak ingin dekat dengan orang lain, tapi karena kesempatan untuk terhubung makin sedikit. WHO juga menegaskan bahwa kesepian dan keterasingan sosial adalah masalah kesehatan publik yang penting, termasuk pada orang tua, dan dampaknya bisa mempengaruhi kesehatan fisik, mental, kualitas hidup, bahkan umur panjang.
Di sinilah kabar dari China tadi jadi terasa masuk akal. Sebab yang sedang dihadapi bukan cuma soal sopan santun keluarga. Ini soal perubahan zaman. Hidup modern membuat orang makin mudah terhubung, tapi tidak otomatis makin dekat. Ada yang setiap hari aktif di grup keluarga, tapi sudah lama tidak benar-benar duduk menemani orang tuanya. Ada yang rajin kirim uang, tapi jarang kirim waktu. Ada yang merasa sudah berbakti karena tagihan beres, padahal orang tua kadang cuma ingin ditemani sebentar sambil makan, atau ditanya kabarnya tanpa terburu-buru. Hukum memang tidak bisa menciptakan kasih sayang. Tapi ketika sebuah negara sampai merasa perlu menulis soal perhatian kepada orang tua ke dalam aturan, berarti masalahnya sudah tidak bisa dianggap sepele lagi.
China punya alasan kuat kenapa isu ini dianggap mendesak. Penduduk lansia di sana terus bertambah sangat cepat. Data resmi National Bureau of Statistics of China menunjukkan bahwa pada akhir 2024, jumlah penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 310,31 juta orang atau 22 persen dari total penduduk. Setahun kemudian, pada akhir 2025, jumlah itu naik lagi menjadi sekitar 323,38 juta orang atau 23 persen. Penduduk usia 65 tahun ke atas juga sudah mencapai sekitar 223,65 juta. Angka sebesar itu bukan angka kecil. Artinya, orang lanjut usia bukan kelompok pinggiran. Mereka adalah bagian sangat besar dari masyarakat. Ketika jumlahnya terus naik, isu yang mereka alami juga otomatis makin besar, termasuk soal kesepian, keterasingan, dan rasa ditinggalkan oleh ritme dunia yang terlalu cepat.
Sebenarnya, rasa sepi di usia yang makin tua itu sangat manusiawi. Bahkan bisa dibilang hampir semua orang akan bersinggungan dengan rasa ini dalam kadar yang berbeda. Semakin besar, seseorang memang sering jadi lebih selektif. Ada yang menyebut dirinya makin introvert. Ada juga yang bukan makin introvert, tapi makin lelah. Lelah dengan obrolan yang dangkal, lelah dengan keramaian yang tidak memberi rasa dekat, lelah dengan basa-basi, lelah memulai lagi. Pada orang tua, rasa ini bisa lebih berat. Sebab mereka bukan hanya sedang menghadapi perubahan karakter, tapi juga perubahan peran. Dulu mereka dibutuhkan setiap hari. Dulu rumah berputar di sekitar mereka. Dulu ada banyak hal yang membuat mereka merasa penting. Ketika anak-anak sudah mandiri, kadang yang hilang bukan sekadar keramaian, tapi juga rasa dibutuhkan.
Itulah kenapa ada orang tua yang kelihatannya baik-baik saja, padahal sebenarnya mulai merasa sepi. Mereka tidak selalu mengeluh. Tidak selalu minta ditemani. Tidak selalu bilang kangen. Kadang justru sebaliknya, mereka bilang tidak usah pulang, tidak usah repot, fokus kerja saja, jaga kesehatan di sana. Kalimat seperti itu terdengar dewasa, tapi sering menyimpan kenyataan bahwa mereka sedang belajar menerima rumah yang tidak seramai dulu. Mereka tahu anak-anaknya punya hidup sendiri. Mereka paham dunia sekarang tidak mudah. Mereka tidak mau jadi beban. Tapi memahami keadaan tidak otomatis menghapus rasa sepi. Orang tua bisa sangat mengerti, tapi tetap merasa kosong.
Masalahnya, banyak anak sering salah mengukur kebutuhan orang tua. Kita kira yang utama itu uang. Padahal tidak selalu. Uang memang penting. Obat penting. Makan penting. Rumah yang layak juga penting. Tapi setelah semua itu ada, masih ada satu kebutuhan yang tidak bisa dibeli, yaitu kehadiran. Kehadiran itu bentuknya sederhana, tapi nilainya besar. Telepon yang tidak cuma menanyakan kesehatan lalu buru-buru ditutup. Kunjungan yang bukan sekadar singgah lima menit. Obrolan yang tidak sambil menatap layar lain. Mendengar cerita yang mungkin berulang, tapi tetap didengarkan. Hal-hal kecil seperti ini sering terlihat remeh bagi anak yang sedang sibuk. Tapi bagi orang tua, itu bisa jadi bagian paling hidup dalam satu minggu.
Makanya, inti dari aturan di China itu sebenarnya cukup menyentil. Negara itu seperti sedang mengingatkan bahwa menafkahi orang tua saja tidak selalu cukup. Ada kebutuhan batin yang juga harus dijaga. Dari penjelasan lembaga resmi di China, semangat aturan itu memang bukan sekadar mewajibkan anak pulang secara mekanis, tapi menekankan bahwa keluarga tidak boleh mengabaikan kebutuhan emosional orang tua lanjut usia. Jadi yang diingatkan bukan cuma kewajiban materi, tapi juga perhatian. Bukan cuma soal transfer, tapi juga kontak. Bukan cuma soal tanggung jawab formal, tapi juga soal hubungan manusia yang seharusnya tetap hangat.
Kalau dilihat lebih luas, ini juga bukan masalah khas China saja. WHO menyebut bahwa kesepian dialami oleh orang dari berbagai usia, dan orang tua termasuk kelompok yang rentan. Jadi, cerita tentang orang tua yang merasa makin sepi ketika anak-anak sibuk bukanlah hal asing. Ini ada di banyak keluarga, di banyak kota, bahkan mungkin di banyak rumah yang dari luar tampak baik-baik saja. Rumahnya berdiri kokoh, kebutuhan tercukupi, anak-anak sukses, cucu-cucu sehat, tapi suasananya tetap bisa terasa lengang. Sebab yang membuat rumah hidup bukan cuma barang yang lengkap, melainkan orang yang hadir dengan sungguh-sungguh.
Yang ironis, sering kali anak juga bukan tidak sayang. Justru sayang. Hanya saja sayang itu kalah oleh ritme hidup. Bangun pagi buru-buru. Pulang malam sudah capek. Akhir pekan ingin istirahat. Belum lagi tekanan kerja, urusan rumah tangga, cicilan, anak sendiri, target karier, dan segala hal yang terus minta perhatian. Akhirnya, orang tua ditempatkan di ruang yang aman dalam pikiran, seolah mereka akan selalu ada dan selalu mengerti. Karena merasa mereka mengerti, kita jadi menunda. Nanti saja telepon. Nanti saja pulang. Nanti saja ngobrol lama. Nanti saja kalau kerjaan sudah reda. Padahal hidup jarang benar-benar reda. Yang ada, kita cuma makin terbiasa menunda hal yang sebenarnya penting.
Di situlah rasa sepi pada orang tua sering tumbuh. Bukan karena tidak punya anak. Bukan karena tidak punya keluarga. Tapi karena hubungan itu makin jarang disentuh. Kesepian paling berat kadang bukan saat sendirian, melainkan saat merasa tidak lagi jadi bagian aktif dari hidup orang-orang yang dulu paling dekat. Orang tua bisa tinggal di rumah yang penuh foto keluarga, tapi tetap merasa sendirian. Bisa punya anak yang rutin kirim uang, tapi tetap merasa jauh. Bisa punya cucu yang lucu-lucu, tapi hanya melihat mereka lewat layar. Ini bukan soal kurang bersyukur. Ini soal kebutuhan dasar manusia untuk merasa terhubung.
Dan kalau mau jujur, banyak anak mungkin akan mengalami hal yang sama suatu hari nanti. Saat masih muda, semua orang sibuk membangun hidup. Itu wajar. Tapi roda hidup terus berputar. Suatu saat nanti, orang yang sekarang terlalu sibuk menelpon orang tua mungkin akan berada di posisi yang sama, menunggu kabar dari anak yang juga sedang sibuk membangun hidupnya. Karena itu, pembahasan seperti ini seharusnya tidak dibaca sebagai ceramah untuk menyalahkan anak-anak. Lebih tepat kalau dibaca sebagai pengingat bahwa relasi keluarga tidak bisa dibiarkan berjalan otomatis. Kalau tidak dijaga, ia bisa tetap ada secara status, tapi kosong secara rasa.
Semakin bertambah umur, banyak orang memang merasa makin nyaman dengan kesendirian. Itu benar. Ada yang memang lebih tenang sendiri. Ada yang tidak suka keramaian lagi. Ada yang lebih senang suasana damai. Tapi nyaman sendiri dan merasa kesepian itu dua hal yang berbeda. Seseorang bisa suka suasana tenang, tapi tetap ingin diperhatikan. Bisa senang di rumah, tapi tetap ingin diingat. Bisa tidak suka banyak acara, tapi tetap ingin ada orang yang datang dengan tulus. Jadi jangan keliru menganggap orang tua yang pendiam berarti tidak butuh siapa-siapa. Kadang yang paling pendiam justru yang paling lama menyimpan sepi.
Itu sebabnya paragraf-paragraf semacam ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena isinya bukan tentang teori rumit. Ini tentang hal yang semua orang bisa lihat di sekitar. Tentang ayah yang sekarang lebih sering duduk diam. Tentang ibu yang lebih sering bilang rumah sepi. Tentang orang tua yang senang sekali kalau anak mendadak pulang. Tentang betapa panjang rasanya hari bagi orang yang sudah tidak punya banyak kegiatan, sementara anak-anaknya menjalani hari yang terlalu padat. Kontras ini nyata sekali. Di satu sisi, ada generasi yang merasa waktu kurang terus. Di sisi lain, ada generasi yang justru merasa waktu berjalan terlalu lambat.
Kalau begitu, apa yang bisa dipelajari dari cerita China tadi. Bukan berarti semua negara harus membuat hukum yang sama. Bukan juga berarti kasih sayang harus dipaksa lewat pasal. Tapi setidaknya ada satu pelajaran yang sangat jelas. Ketika sebuah negara sampai merasa perlu mengingatkan anak agar tetap hadir dalam kehidupan orang tuanya, berarti kesepian pada usia tua memang bukan hal sepele. Ini bukan urusan baper. Ini bukan sekadar perasaan yang bisa dikesampingkan. Ini masalah kemanusiaan yang nyata, dan bahkan lembaga kesehatan dunia pun mengakuinya sebagai isu penting.
Akhirnya, pembahasan ini mungkin paling pas ditutup dengan satu kesadaran sederhana. Makin besar, hidup memang makin sibuk. Makin dewasa, orang memang cenderung lebih selektif, lebih tertutup, dan kadang lebih nyaman sendiri. Tapi bagi orang tua, kesepian sering datang bukan karena mereka ingin menjauh, melainkan karena dunia di sekitar mereka bergerak terus sementara lingkaran hidup mereka pelan-pelan menyusut. Anak-anak yang dulu menjadi isi rumah, sekarang tumbuh menjadi tamu yang datang sesekali. Dan itu sangat manusiawi, tapi tetap meninggalkan ruang kosong.
Jadi inti ceritanya bukan sekadar China membuat hukum baru. Intinya adalah ini. Semakin bertambah umur, semakin banyak orang merasakan sepi. Orang tua merasakannya lebih dalam, apalagi ketika anak-anak sudah punya kehidupan masing-masing. Karena itu, perhatian kecil jadi terasa besar. Kabar singkat jadi terasa hangat. Kunjungan sebentar jadi terasa berarti. Dan mungkin, di zaman ketika semua orang sibuk mengejar banyak hal, salah satu bentuk bakti yang paling mahal justru bukan hadiah besar, tapi kesediaan untuk tetap hadir sebelum semuanya terlambat.