"Gw penasaran siapa jodoh lu"
"Kenapa dah emang wkwk"
"Ya siapa yang beruntung dapetin lu"
Percakapan via whatsapp itu sempat terhenti sejenak, lalu kemudian saya jawab
"Justru kayaknya gw yang bakal beruntung si dapetin doi"
Ya begitulah yang terjadi, sekarang saya jadi bahan 'serangan' karena belum menikah di antara yang lain. Tapi apakah saya marah? Ah engga juga, itu candaan yang biasa bagi saya, santai saja haha
Tapi, kemudian saya merenung, apakah betul menikah itu soal siapa yang beruntung? jika ada satu pihak yang beruntung, apakah ada pihak yang lain justru merugi? atau mungkin perlu dilihat dari dua POV, jangan-jangan sama-sama beruntung, atau sama-sama merugi? lho!
Pada waktu yang lain, Ummi pernah sedikit 'protes' dan saya mengamini protes itu, dan juga merenungi perihal protes itu. Untuk yang satu ini, tidak perlu detail sepertinya, hanya saja kisi-kisinya yaitu ada yang berniat baik, tapi seolah niat baik itu tidak mengonfirmasi terlebih dahulu, dan lebih terlihat ada motif 'bisnis' karena ada keunggulan materi.
Ah, memang rumit rupanya. Belum lagi keributan di sosial media X yang mungkin sedikit banyak membuat orang berfikir ulang. Mungkin kalimatnya penyadaran, tapi juga bisa apresiasi, tapi juga kerancuan akan syariat pernikahan, karena lagi-lagi konteksnya adalah in this economy!
Lalu dengan beberapa hal itu, saya benar-benar berfikir, dengan kapasitas yang saya miliki, sebenernya apa itu menikah? mengapa perlu menikah? benarkah menikah harus mapan terlebih dahulu? apakah menikah semenyeramkan itu?
Karena rasa-rasanya yang terjadi di rumah saya tidak seperti itu. Pun Mba perempuan saya, juga baik-baik saja. Pertemuan dengan senior-senior saya saat meminta nasihat juga tidak begitu heboh.
Atau memang hari ini banyak syubhat yang dimunculkan terhadap institusi keluarga, apalagi dengan konsep dasar yang salah, tidak sesuai dengan panduan diinul Islam.
Saya tidak ingin berpanjang lebar, walaupun rasanya ini perlu dibedah secara adil, jujur, dan berbasis informasi pengetahuan. Tapi yang jelas, sepertinya kita, orang awam hari ini, menempatkan pernikahan bukan dalam koridor sebagai syariat yang sudah Allah hadirkan, bukan sebagai sunnah Rasulullah yang sudah dicontohkan, atau bahkan tidak paham apa definisi menikah itu!
Dalam konteks pembacaan terhadap sirah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam misalnya, laki-laki dituntut mencontoh mahar beliau yang sangat luar biasa, tapi tahukah bahwa itu sepenuhnya bukan ditanggung beliau sendiri? ditambah, sudah selevelkah perempuan hari ini dengan beliau Ibunda Khadijah? yang support terhadap dakwahnya luar biasa hingga berkata "seandainya aku meninggal terlebih dahulu, gunakan tulang belulangku untuk dakwahmu" Sudahkah?
Ya walaupun secara fiqh, dalam masalah mahar, wanita berhak menentukan sebebas-bebasnya, tapi adakah hikmah yang ingin didapat dari syariat pernikahan atau hanya sekadar gengsi dan nafsu semata?
Sekali lagi, ini bahasan yang amat panjang dan berat. Namun perlulah bagi kita untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya; menikah adalah syariatNya. Sekaligus gunakan framework yang sesuai dalam pembahasan tersebut.
Semoga Allah jadikan kita sebagai hamba yang adil, jujur, serta taat pada syariatNya.