Aku memang tidak merencanakannya. Tetapi jika Tuhan memberinya, aku siap. Hari itu antara percaya dan tidak, garis dua. Anak ketiga dan aku bahagia.
Aku tidak merasakan mual, muntah dan ciri-ciri seperti ibu hamil pada umumnya. Normalkah ini? Bismillah lancar sampai waktunya. Itu doaku selalu.
Kegiatanku begitu padat. Aku harus jaga ibu yang dimensia. Bolak-balik rumah sakit untuk kontrol, CT Scan, belum lagi kegiatan kerja yang tak ada luangnya. Sempat ke luar kota karena hajatan saudara.
Sabtu, 14 Juni 2025 - Ke luar kota
Minggu, 15 Juni 2025 - I'm okey, hanya terasa kram di kaki, mungkin perjalanan jauh. Perut nothing. Semua baik.
Senin, 16 Juni 2025 - Ke kota mencari kado untuk gurunya anakku. Motor mogok karena rem belakang kampasnya lepas. Dan bantuin suami nuntun motor, suami yang dorong plus ngangkat. Malamnya flek.
Selasa, 17 Juni 2025 - USG dan kantong samar susah ditemukan. Diberi vitamin. Dan masih flek. Sorenya gladhi bersih kegiatan perpisahan kelas 6 sampai pukul 7 malam. Selesai gladhi bersih, masih harus ke kecamatan sebelah untuk beli piala sebagai reward juara 1, 2 dan 3. Lelah dan flek masih berlanjut.
Rabu, 18 Juni 2025 - Acara inti perpisahan kelas 6, berhubung aku wali kelas 6, mau tak mau harus hadir karena memberi sambutan dan lain-lain. Acara sampai pukul 1 siang. Aku pulang dan masih flek. Habis magrib aku ke dokter obgyn lain untuk memastikan bagaimana kandunganku. Hasil USG kantong utuh tapi janin samar. Diberi obat penguat dan surat izin bedrest selama 3 hari (Kamis, Jumat, Sabtu)
Kamis, 19 Juni 2025 - Jam 5 pagi ke pasar. Belanja untuk acara tahlil rutin ayah ba'da isya. Jam 8 penerimaan raport Zahra. Ya aku datang karena perwakilan wali murid untuk tali asih dan sepatah dua patah kata kepada wali kelasnya. Pulangnya masak banyak. Terakhir aku bangunkan ibu dari duduk ke berdiri untuk buang air kecil. (Ibu lemah tak bertenaga). Aku merasakan ada yang keluar. Apa iya keguguran? Aku lihat mirip haid tapi sedikit. Sebelum tidur, masih minum obat penguat. Berharap semua baik-baik saja. Dini hari perut kram seperti akan haid, sakit sekali. Ternyata darah keluar banyak.
Jumat, 20 Juni 2025 - Penerimaan raport Syifa di SMP. Ya, aku datang untuk mengambilnya karena aku juga berperan sebagai komite sekolah. Sebelum pulang, mampir ke faskes 1 minta rujukan untuk ke dokter obgyn. Sore ke dokter obgyn ternyata dokternya sudah selesai praktek.
Sabtu, 21 Juni 2025 - Pagi ke dokter obgyn. Hasil USG kantong masih utuh tetapi tanpa janin. Kehamilan kosong. Harus ditindak. Iya kuretase. Dijadwalkan Senin pukul 8 pagi.
Minggu, 22 Juni 2025 - 10 Minggu 5 Hari - Pukul setengah 8 malam aku ke rumah sakit untuk daftar rawat inap. Semua proses administrasi lancar. Aku dibawa ke IGD untuk infus dan diambil darah. Lalu pindah ke kamar khusus pasien obgyn. BPJSku kelas 2. Satu kamar ada 4 pasien. Pasien sebelah melahirkan. Beberapa kali bayinya menangis. Hati ini rasanya pilu. Rindu akan tangisan bayi. Jatuh air mata ini. Pukul 9 malam, diberi obat untuk membuka jalan lahir. Kata perawat efeknya mules seperti akan lahiran. Alhamdulillah aku tidak merasa mules atau sakit, tetapi darah mulai keluar banyak dan semakin banyak. Gumpalan-gumpalan juga keluar. Aku tidak menyangka bahwa darah ibu hamil banyak sekali. Bisa jadi literan volumenya. Darah itu kurasakan mengalir di sela-sela paha dan hangat. Diiringi suara bayi pasien sebelah, darahku terus keluar. Betapa sakitnya hati ini, tidak ada bayi yang bisa kulihat. Bahkan jenis kelaminnya saja aku tak tahu.
Aku pernah mendengar bahwa janin yang gugur akan menuju surga dan menunggu orang tuanya datang lalu menjemputnya menarik tangannya dan meminta pada Allah agar diberi kesempatan untuk menjadi anak dari orang tua di dunia yang tak sempat ia rasakan. Jadi ia akan menarik tangan orang tuanya ke surga. Aamiin.