DARI TANKA, TEBET LALU KE BALAM
Judul tulisan ini menggunakan singkatan, agar lebih sederhana dan mudah, itupun mengikuti kebiasaan lisan warga kota ini. Tanka kepanjangannya Tanjung Karang, sedangkan Tebet singkatan dari Teluk Betung. Lalu Balam apa? Bandar Lampung. Tanjung Karang-Teluk Betung dulu berstatus kotamadya hingga tahun 1999 naik tingkat menjadi kota definitif. Nama Bandar Lampung sendiri berubah pada pertengahan tahun 1983.
Silakan lihat Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik keluarga atau teman. Kalau lahirnya sebelum 17 Juni 1983, maka tempat kelahiran akan tercatat sebagai Tanjung Karang atau Teluk Betung. Jika lahirnya setelah tanggal tersebut, maka akan tertulis Bandar Lampung.
Perubahan nama kota tersebut tertera dalam PP Nomor 24 Tahun 1983 tertanggal 17 Juni 1983 yang sekaligus menjadi hari jadi ibukota provinsi ini. Tahun 2026 ini kota yang berada di daerah pesisir ini berulangtahun yang ke-344. Tulisan ini menjadi kado, hadiah kecil dari warga kepada kota tercinta.
Sejak berubah nama dari empat dekade lalu, tak terhitung juga perubahan di kota ini. Manusia, budaya, pendidikan, infrastruktur, transportasi, ekonomi, politik pemerintahan dll hanyalah sebagian contoh hal-hal yang berubah dari kota ini. Manusia tentu saja ada yang lahir dan mati, ada yang datang dan pergi, sudah menjadi hukum alam. Manusia membawa karakter masing-masing, yang kesemuanya memberikan warna dalam kehidupan kota. Ada Gen Z, Gen Milenial, Gen X, dan Baby Boomer.
Orang-orang yang datang dan menetap di Bandar Lampung berasal dari banyak suku yang membawa budayanya masing-masing. Sebut saja selain budaya Lampung, ada budaya Aceh, Minang, Batak, dan Jawa. Kemudian ada suku Sunda, Madura, Bali, Melayu, bahkan sampai Sulawesi. Tentunya dibandingkan empat puluh tahunan lalu, tidak terlalu banyak suku yang mendiami kota ini. Lihat saja ketika ada festival atau karnaval, hampir seluruh budaya di Indonesia ditampilkan oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Saat itu, jangankan pendidikan tinggi, pendidikan menengah saja masih belum banyak. Orang-orang akan menyekolahkan anak-anaknya ke Tanjung Karang dan Teluk Betung, karena ada beberapa SMA negeri yang menjadi tujuan (ditambah sekolah swasta masih sangat sedikit). Belum lagi pendidikan tinggi, belum ada selain di ibukota provinsi.
Dewasa ini, pendidikan menengah negeri dan swasta di kabupaten pun beragam sehingga memudahkan orangtua memilih pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Begitu juga dengan pendidikan tinggi, berbagai akademi, sekolah tinggi, bahkan universitas sudah menjamur, bukan hanya di Bandar Lampung namun juga di pusat-pusat kabupaten.
Bermacam jurusan mempermudah calon-calon mahasiswa, sesuai dengan minat bakatnya. Sebagai contoh di salah satu universitas swasta di Pringsewu, sudah ada jurusan kedokteran gigi, pencapaian luar biasa bagi Lampung.
Infrastruktur banyak yang berubah karena harus mengikuti perkembangan zaman. Setidaknya dalam kurun waktu 15 tahun ini Bandar Lampung seolah menjadi kota metropolitan dengan beragam fasilitas. Tercatat, ada 11 jembatan layang (fly over) dan 1 underpass di Jalan Hanoman. Pembangunan ini ditujukan untuk mengurai kemacetan di Bandar Lampung, walaupun pada saat jam sibuk (pagi dan sore), kota ini masih saja tetap mengalami kemacetan. Ditambah lagi ada pintu jalan tol di Kotabaru, dekat dengan perguruan tinggi bidang teknik.
Bukan hanya jalan, infrastruktur lain pun dibangun seperti fasilitas kesehatan, perbelanjaan, pendidikan, pariwisata, kuliner, dan banyak fasilitas lainnya. Lihat saja sudah bertumbuh fasilitas kesehatan tingkat pratama (puskesmas/klinik) hingga rumah sakit (tipe C, B, dan A) yang melayani masyarakat dengan pembayaran menggunakan layanan umum maupun asuransi (termasuk BPJS Kesehatan).
Pusat perbelanjaan, kini mall-mall maupun pusat perbelanjaan kecil dan menengah, tersebar meluas di beberapa kecamatan. Kalau dulu, berbelanja harus ke Tanjung Karang atau Teluk Betung, kini tidak lagi, katakanlah sekitar sepuluh menit dari rumah sudah tiba di mall.
Pariwisata lebih berkembang lagi, baik pariwisata darat maupun maritim. Sepertinya Bandar Lampung lebih mengembangkan pariwisata darat (alam/buatan) yang memadukan wahana permainan, titik-titik berswafoto, hingga pusat kuliner untuk memanjakan pengunjung.
Adapun pariwisata maritim lebih dapat ditemukan di dua kabupaten yakni Lampung Selatan dan Pesawaran. Hal baiknya adalah pengunjung pariwisata maritim tersebut menginap di berbagai jenis hotel di Bandar Lampung. Mulai dari kelas kecil sampai hotel berbintang lima, dapat dipilih dengan beragam fasilitas yang membuat betah para pengunjung. Bahkan salah satu hotel berbintang lima mendapat predikat sebagai bangunan tertinggi di Pulau Sumatra.
Pembangunan infrastruktur tersebut tentunya memengaruhi pembangunan di bidang lain seperti yang sudah dijelaskan di atas seperti transportasi, ekonomi, dan pariwisata. Adanya jalan tol yang menghubungkan Lampung dengan provinsi lain, penyeberangan pelabuhan yang meningkat saat musim liburan maupun hari besar keagamaan, menghidupkan Bandar Lampung di berbagai bidang.
Ekonomi bertumbuh pesat, per hari perputaran uang mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, apalagi kalau ada kegiatan-kegiatan yang dihelat di Bandar Lampung. Kalau sudah ramai pengunjung akan bertumpuk kendaraan bermotor roda empat dengan variasi nomor polisi yang jelas terlihat seperti plat A (Serang), plat B (Jakarta), plat BD (Bengkulu), plat BG (Sumatra Selatan), sampai plat BH (Jambi). Selain tentunya plat BE yang berasal dari kabupaten/kota di Lampung.
Bila dilihat dari sudut pandang politik pemerintahan sejak 2010 digaungkan bahkan mulai direalisasikan untuk memindahkan kantor gubernur sebagai pusat pemerintahan provinsi ke daerah Kotabaru di Lampung Selatan. Empat dekade lalu, situasi dan kondisi dirasakan masih kondusif menuju kantor gubernur.
Saat ini, hal itu tidak memungkinkan lagi. Dari pinggiran kota menuju kantor gubernur, paling cepat membutuhkan waktu 45 menit, sekiranya berangkat pukul 06.30 (di pagi hari). Kemacetan setiap hari sudah menjadi lahapan pengguna kendaraan bermotor, baik di jalan arteri maupun di gang-gang kecil.
Namun perpindahan ibukota tersebut tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Membutuhkan anggaran yang sangat besar dengan segala dampaknya. Apalagi pada tahun 2020-2021 dunia menghadapi wabah virus Corona yang sangat menyita APBNdan APBD. Lalu pada 2025 sampai dengan sekarang negara mengalami efisiensi secara besar-besaran di berbagai bidang pemerintahan.
Dalam dua tahun terakhir juga (sedang) diproses perpindahan delapan desa di Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan untuk masuk ke dalam Kota Bandar Lampung. Kedelapan desa tersebut akan dilalui apabila kantor gubernur sudah pindah ke Kotabaru, sehingga ibukota provinsi tetap di Bandar Lampung.
Terakhir, seperti Tanka, Tebet, dan Balam, ada beberapa tempat di Bandar Lampung yang penamaan secara lisan oleh masyarakat mengalami singkatan yakni Labora (Labuhan Ratu), Subaru (Susunan Baru), Pinjay (Pinang Jaya), dan Gunsul (Gunung Sulah). Lalu ada Gunter (Gunung Terang), Goro (Gotong Royong), Wendis (Way Kandis) dan Dupa (Durian Payung). Penyingkatan ini adalah hal yang tidak resmi, namun sudah berlaku sejak lama, bahkan mungkin menjadi konvensi tidak tertulis.
Sebagai penutup, selamat ulang tahun ke-344 kota tercinta. Semoga semakin bertumbuh, semakin maju, dan semakin berjaya. (Para pemimpin) jangan lupakan kesejahteraan wargamu, jangan semakin kumuh kota ini, jangan menjadi kota (yang rakyatnya) yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tulisan ini kupersembahkan untuk Bandar Lampung tercinta.














