There they are, My Lomsky Family !!
And for this once, let me write you one by one to keep us remain close...
KIROKAZE
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

ellievsbear

Discoholic 🪩
art blog(derogatory)

Love Begins
Xuebing Du

oozey mess

blake kathryn
Cosimo Galluzzi

hello vonnie
dirt enthusiast
almost home

pixel skylines
Today's Document
NASA
trying on a metaphor

izzy's playlists!

seen from United States

seen from United States

seen from TĂĽrkiye
seen from Syria
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from TĂĽrkiye
seen from United Kingdom
@amtrisakti
There they are, My Lomsky Family !!
And for this once, let me write you one by one to keep us remain close...

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Wonderful Rihlah di Bumi Seribu Masjid
Segala kebaikan tak terkira yang kita terima katanya sering bermuara pada dua hal, yaitu hal baik yang pernah kita tanam jauh hari sebelumnya, baik yang masih teringat maupun sudah terlupakan, dan doa-doa tulus yang pernah terlantun tentang sebuah keinginan namun Allah lebih memilih untuk memenuhi apa yang kita butuhkan melalui tangan orang-orang baik sebagai perantaranya.
Well, paragraf di atas adalah prolog yang paling tepat untuk menggambarkan keseluruhan cerita yang sedang saya tulis ini. Singkat cerita, setelah melalui berbgai proses perundingan yang lumayan panjang dan sering tertunda, akhirnya saya dan Irfan (salah satu cesan di kampus) memutuskan untuk menjalankan ibadah short-escape untuk beberapa hari. Karena yang mau kita jalani adalah short-escape, maka tidak ada jalan lain bagi kami berdua selain harus menjadi escapist (I mean the true escapist karena liburan kali ini ga bisa terwujud kalau ga ada acara kabur-kaburan dari kantor).
      Dalam perjalanan menuju Lombok, kami berdua harus mengambil jadwal penerbangan yang berbeda, tak lain karena alasan teknis. Atau lebih jelasnya, Irfan dengan statusnya sebagai keluarga karyawan Garuda Indonesia Airlines mendapatkan privilege gratis 5 penerbangan ke manapun (domestik dan mancanegara), dan akhirnya memilih Lombok sebagai salah satu destinasinya. Nah, sedangkan saya yang cuma laki-laki biasa dan ga punya orang dalem di maskapai manapun, tidak ada pilihan lain selain harus mencari tiket yang paling ekonomis dengan segala kondisi yang ada.
      Proses sampai keberangkatannya pun lumayan rumit karena harus main akal-akalan. Sebenarnya, tanggal 28 maret (hari keberangkatan) kemarin sudah settle schedule dengan teman-teman STT PLN, mereka mengirim undangan kepadku untuk menjadi juri sekaligus pembicara dalam acara pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat universitas yang mereka selenggarakan. Berhubung di kantor juga lagi lumayan hectic dengan urusan administrasi dan terkendala beban moril habis ngambil libur tiga hari dari kantor gara-gara hadiah edutrip ke Singapore dari kampus tepat dua minggu sebelumnya, akhirnya kuusahakan agar agenda dengan di STT PLN itu tidak bentrok dengan agenda di kantor yang pada pukul 09.00 – 12.00 ada rapat bulanan terkait progress pemeliharaan infrastruktur SIMS. So, direquest-lah ke panitia penyelenggaranya agar agendanya running pukul 13.00 beberapa hari sebelumnya dan Alhamdulillah waktu itu diterima. Niatnya, setelah selesai rapat langsung berangkat ke kampus, setelah dari kampus langsung ke bandara.
      Tapi Allah berkehendak lain, tiba-tiba dapat konfirmasi dari mereka kalau jadwalnya di majukan jadi pukul 08.00-selesai. Karena ga mau pusing plus capek-capek pikir panjang, aku minta jadwalnya di cancel saja malam itu juga.
“Schedule has been cancelled, but holiday must go on”
Rabu, 28 Maret 2018. Aktivitas di kantor tetap jalan seperti biasa. Slide presentasi, MOM, risalah rapat, semua terselesaikan sangat tepat pada waktunya. Memang suka rajin sih kalau lagi ada mau. Cuma satu yang belum dapat, izin dari bos -_-. Pak Bos sebenarnya bisa saja memberikan izin walau tanpa harus kujelaskan secara lugas dan berbelit-belit. Cuma karena respect dan rasa ga enakan sebagai anak baru yang kerjanya setahun aja belum cukup tapi udah berani minta cuti, akhirnya kujelaskan satu demi satu kondisi yang ku hadapi kepada Pak Priyono.
Dia cuma bertanya…
“Berapa hari?”
“satu hari pak, kamis besok”
“oh ya, yasudah”
Dalam hati berkata, “|Whatt..semudah itu?” hmm…relasiku sama Pak Pri memang lumayan bagus sih, karena di banding teman-teman yang lain, bisa dibilang aku yang paling sering ketemu beliau, ngurusin BAST, BAP, ceklis pemeliharaan, dan lain-lain, jadi yaa gitulah. Akupun sadar, bahwa dalam beberapa kondisi, rekan-rekan kerja di kantor ada yang merasa iri karena dalam 1 bulan (maret) kemarin aku sudah ambil izin 4 hari, yang sebenarnya kalau mau based on contract, cutinya baru bisa di ambil setelah bekerja selama 1 tahun dan di ambilnya pun harus di bulan ketiga kerja, which means butuh waktu 1 tahun 3 bulan baru bisa ambil jatah liburan yang sebenarnya. But, I don’t care, yang penting bisa LIBURAN lagi, selama kerjaannya beres dan dapat kompromi dari bos sendiri, aku ga akan pernah merasa bersalah karena melanggar apapun.
Karena jadwal flight yang tertera pada tiket pukul 20.00, jadinya harus meninggalkan kantor lebih awal dari biasanya. Takut teledor, kan ga lucu kalau harus ketinggalan peswat. Akhirnya jam 15.30 sudah meninggalkan kantor setelah sebelumnya pake nitip tas di mba-mba receptionist biar keluar ruang kerjanya ga kelihatan bawa tas :v. Sampai Stasiun Soedirman Baru 15 menit sebelum kereta menuju bandara berangkat. Alhamdulillah sudah sampai bandara jam 5 sore atau tiga jam menjelang keberangkatan.
Di ruang tunggu, ba’da sholat maghrib, tiba-tiba dapat pesan WA dari Mega (teman dari Lombok)
“sak kabarin kalau udah mau berangkat ya.”
Mega dkk memang sudah merencanakan penjemputan untuk kami berdua, walau sebenarnya aku tau persis kalau agenda mereka di minggu ini super padat, bahkan sampai pindah-pindah kabupaten ckckckck. Ngeri aku baca rundown yang dia kirimin. Karena ga bermaksud negerepotin mereka, aku juga udah berkali-kali bilang kalau selama di sana silahkan tetap sibuk dengan kegiatan kalian, urusan liburan biar aku saja sama Irfan yang urus sendiri, toh nanti bisa minta tolong juga ternyata sama orang-orang di rumah singgah untuk guide kita ke mana-mana. Tapi ya, karena aku sadar bahwa aku cuma rakyat biasa sementara dia adalah tuan Putri yang sudah hampir menguasai seluruh NTB, jadi dengan sangat terpaksa aku terima saja tawarannya dengan senang hati (terpaksa tapi dengan senang hati, gimana ceritanya wkwkwkwk).
Beberapa saat sebelum berangkat aku sempat merenung, apa benar ini sudah saatnya? Hujan, langit, dan suasana Lombok yang biasa dikisahkan Mega dengan penuh semangat dalam Countingday selama dua tahun belakangan, pada akhirnya akan kujumpai malam ini juga. Satu hal yang paling kusukai ketika ia berkisah ialah caranya menyusun kalimat demi kalimat yang sangat terkesan apa adanya, begitu jujur, dan semua kesederhanaan tersebut didukung dengan ketypoan yang hakiki. Benar-benar apa adanya. Well, memang ini yang kuinginkan. Bertandang ke tempat di mana Mega menghabiskan hari-harinya menuliskan September yang sudah dua tahun ini selalu kami nantikan.
And…Here I am, Alhamdulillah touchdown di Bumi Seribu Masjid pukul 12 malam waktu setempat. Tak cukup semenit waktu berlalu di Praya, ternyata sudah ada pesan dari Ibu Mega yang katanya sudah nungguin di luar. Lombok masih terasa begitu asing, setidaknya untuk malam itu. Dibanding ngobrol sama Mega, aku malah lebih banyak mikirnya. Setelah mengucapkan salam dan sedikit basa basi di perjalanan menuju mobil, pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang akan kulakukan di sini?” atau “akan seperti apakah Lombok dalam beberapa hari kedepan?” ternyata berhasil menyita waktu untuk beberapa saat. Weslah, yang penting dinikmati saja, mikirnya nanti aja lagi kalau udah di Jakarta. Orang ke Lombok buat liburan kok, bukan buat mikir wkwkwkwk.
Oh iya, selama beberapa hari di sini, selain Mega, ada dua kawan lagi yang dengan baiknya mau ikutan nemenin kita liburan, namanya Ijang dan Fani, dua orang luar biasa dan super prestatif yang setiap hari jadi tandemannya Tuan Putri. Katanya sudah bersahabat sejak SMA dan bersama-sama membentuk tim debat andalan SMANSA Mataram. Lebih lanjut mengenai Ijang dan Fani akan kukisahkan di cerita selanjutnya. Intinya, pertemuan dengan mereka bertiga di malam itu adalah definisi kesyukuran yang hakiki. Alhamdulillah, Allah benar-benar mengirimkan orang-orang yang bukan hanya baik, tapi juga sangat menginspirasi untuk menemani liburan kami kali ini.
Sepanjang perjalanan, obrolan yang terjalin lumayan berat. Maklum, waktu di mobil ngobrolnya kebanyakan sama Ijang, Mr. Debater yang sudah menaklukkan kancah perdebatan Nusantara wkwkwkwk. Mulai dari prediksi mengenai kans Ahyar-Mori untuk merebut kursi NTB-1, Politic Cost, Parlementary Treshold, sampai kepada kiprahnya sebagai debater semasa di bangku kuliah, semua tak luput ia jelaskan secara lugas dan sistematis. Emang dasar first-speaker andalanlah teman saya yang satu ini.
Pembicaraan kami terus berlanjut hingga memasuki kota Mataram. Tak lama setelah itu, ibu Mega menyela, “sebentar lagi kita akan lihat Islamic Center”, katanya dengan nada semangat. Seketika aku menghentikan pembicaraan, saking penasarannya dengan bangunan megah yang sudah kutatap baik-baik sejak di atas pesawat itu. Assalamu’alaika ya Hubbul Wathan ! Persis seperti yang pernah dikisahkan sahabatku, kau memang sangat menakjubkan, disinari pendaran yang terus berganti setiap detiknya, bergiliran. Sebenarnya waktu itu aku punya niatan untuk langsung turun melaksanakan dua raka’at tahiyyatul masjid, tapi karena kondisi kurang memungkinkan (teman-teman udah pada capek), akhirnya permintaannya ditahan dulu wkwkwkw.
Perjalanan malam itu akhirnya berakhir di rumah Ijang, setelah sebelumnya kami makan sop ayam lalu mengantar Mega dan Fani pulang ke rumah untuk beristirahat. Alright, karena khawatir nantinya kepanjangan, cerita kedua akan aku post di satu tulisan terpisah. Sekian dulu prolog perjalanan di Pulau Lombok. Wassalam.
#3
Dari sudut bandara aku menaksir jarak tempuh
Mengira-ngira, sambil berlatih menyembunyikan kebahagiaan
Aku tak tahu akan sedekat apa aku dengan pintu rumah dan gerak langkahmu
Setahuku jarak sudah tak di sini...Ia sedang mengejar ruang yang pergi jauh meninggalkannya
-amtrisakti, cgk-lop 28th March 2018
#2
“Seadanya saja, ingatan ini kusisakan untukmu
Tak sebanyak kata yang tertulis hingga ia sepadan dengan harga sebuah kabar
Sederhana saja sajak ini tersusun runtut
Seringkas harap yang akan terus memanjang hingga ia terkabul; aku ingin menantang hujan bersamamu...”
-amtrisakti, jkt 27th March 2018
#1
Jika saja suara dan soremu berhasil kurengkuh waktu itu
Darat dan laut yang membuatku jauh harusnya sudah menjadi pantai di samping rumahmu
Dan mungkin...sesak akan berlalu, ketika romanmu datang seumpama tabir di tengah lantunan ayat tentang rindu yang bergegas menuju Tuhanku
Kepadanya aku mengadu...kuceritakan tentang dirimu, kuceritakan tentang diriku, yang sangat berharap bisa menemuimu dalam hari-hari yang terhitung
Bolehkah aku ?
-amtrisakti, jkt 26th March 2018

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Prolog
“Aku bisa menuliskanmu di mana saja jika aku mau
Di atas kertas, di balik gitar, atau di tumpukan berkas yang aku rapikan setiap hari
Aku juga bisa menyebutkan namamu ke siapa saja, jika kau mau
Hanya jika kau mau, dan itu yang aku tak tahu”
-amtrisakti, jkt 21st March 2018
Takkan ada lagi pertemuan
Di belakang percakapan yang terlanjur berubah menjadi berkas-berkas ilusi
Atau di hadapan jarak, yang menyempit setelah dipandang ragamu yang sudah utuh
Tatapanmu, adalah sebabku terdiam di tengah luasnya belantara kata
Bukan kau yang salah, jika melarut sukmaku bersama gerimis yang tak pernah kuharapkan datangnya
Bibirku saja yang tak pandai berterus terang pada prasangka
Bahwa aku...senang melihat mega terenggut kepalan malam
Kuingin kau di sini saja, temani aku menerjemahkan hikmah yang kau samarkan sendiri
Bersamaku saja, lupakan fajar yang belum tentu hadir pagi nanti
Bapak di Mata Kami
Sebuah fakta menunjukkan, orang tua yang lahir pada tahun 1960 ke-bawah akan mendidik anaknya sebagaimana ia dididik. Mungkin karena hal inilah kami dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Bapak benar-benar ingin membuat kami merasakan apa yang pernah ia rasakan semasa dibesarkan oleh kakek dan nenek. Sekilas mungkin terdengar kejam dan tak adil, tapi itu hanyalah prasangka yang didapatkan jika didikan bapak dihakimi dari sudut pandang orang ketiga.
Beliau dinamai Andi Hatamuddin oleh kedua orang tuanya, aku tak tau persis arti dari nama itu beberapa hari yang lalu aku mencoba mencari “hatamuddin” lalu “khatamuddin” lewat google, namun juga tidak ditemukan artinya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana, sejak kecil telah merasai pahit getirnya kehidupan, pernah mengenakan kain bekas berwarna putih usang sebagai seragam sekolah dasarnya, atau dibantai oleh kakek ketika sekeping 5 rupiah milik kakek ia ambil tanpa izin.
“Kenapa uang bapak kamu ambil ga bilang-bilang?”
“Kalau saya bilang, ga mungkin bapak mau ngasih”
Suaranya lirih ketika menceritakan kisah ini kepada kami bertiga. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehidupan yang seadanya saja, akhirnya Bapak tumbuh sebagai laki-laki yang keras dan pantang surut semangat juangnya. Anak-anaknya dididik di tengah kesederhanaan walau sebenarnya untuk sekedar memanjakan kami, ia sanggup. Karena ia tahu arti penderitaan dan pengorbanan orang tua jugalah, sebagai anak pertama, ialah yang kemudian memegang tanggung-jawab untuk menyekolahkan adik-adiknya hingga lulus dan pada akhirnya dapat merasakan kemapanan hingga saat ini.
Bapak sekarang sudah hampir kepala enam, waktu berlalu begitu cepat. Hingga di usianya yang ke-58 tahun ini, jarak itu masih terasa. Karena demikian segannya, kami hampir tak pernah bertemu dalam guyonan-guyonan ataupun obrolan ringan yang harusnya sangat bisa kami lakukan, apalagi didukung selera humor bapak yang begitu khas. Entah, mungkin karena bapak terlalu berhasil menjaga kewibawaannya ataukah aku sendiri yang sebenarnya telah membuat-buat jarak semu di antara kami berdua.
Padahal sewaktu masih kecil, kami sudah diakrabkan dengan perasaan rindu kepadanya. Ketika bapak masih menjadi pegawai di biro keuangan Kantor Gubernur Sul-Sel, kami menetap di kota yang berbeda (aku, mama, dan kakak-kakakku di Bulukumba, sedangkan bapak di makassar), namun jarak 150 KM setiap hari jumat ia tempuh, lalu kembali lagi ke Makassar di hari minggu, begitu terus 18 tahun lamanya. Barulah pada tahun 2006 Bapak meminta untuk dipindahdinaskan ke kabupaten Bantaeng (sekitar 30 meter dari rumah), lalu akhirnya ke Bulukumba tahun 2008. Tahun ini, di usianya yang genap 58 tahun, bertepatan dengan kelulusanku, bapak secara resmi pensiun dari tugasnya sebagai pegawai negeri sipil. Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku baru tau kalau ternyata ia sempat mau daftar jadi pegawai BI, tapi ternyata sudah lulus tes di pemprov akhirnya niat itu diurungkan.
Sampai saat ini, obrolan-obrolan yang kami hidupkan setiap kali aku ada kesempatan untuk pulang selalu saja mengenai masa depan, entah itu pendidikan, pekerjaan, rencana hidup mendatang, dan #ehmm sekarang beliau sudah agak sering membahas tentang pernikahan, obrolan terkahir dengan bapak adalah tentang “harus 25 tahun” yang pada akhirnya berubah menjadi “ga apa-apa di bawah 25 tahun yang penting tetap kuliah dan ga keluar dari garis teritori Sul-Sel”, belakangan, Auliyah, kakak pertamaku mengabarkan kalau Bapak sudah bisa diajak berkompromi, ketetapan yang sudah ia pegang kini sudah bisa dinegosiasikan. Ini adalah kali pertama kulihat sisi beliau yang negosiatif, biasanya segala ketetapan yang keluar dari mulutnya selalu absolut tidak dapat di ganggu gugat, mungkin karena dalam perkara tertentu mama selalu mengambil peran untuk mengimbangi.
Bapak mungkin selamanya akan tetap seperti ini, menyembunyikan kasih sayangnya di balik perangai yang biasa saja, tetap tak banyak bicara walau sejuta kepelikan memenuhi pikiran. Aku bangga, dibesarkan oleh seorang ayah yang lahir pada tahun 1959 dengan didikannya yang telah mengekalkan kesederhanaan kedalam pribadi, kami bangga mewarisi cara hidup bapak yang sudah akrab dengan perjuangan dan berpayah-payah. Ia tak pernah bermaksud menyelisihi sunnah Rasulullah SAW tentang seruan mendidik anak sesuai masanya, buktinya ia terus belajar, berusaha memahami, dan banyak mendengarkan saran mama yang lahir pada 1963.
Apalah Arti Sebuah Nama?
Tanpa harus diperdebatkan, kita tentunya sudah sepakat bahwa setiap nama hadir dengan artinya masing-masing, di mana pada makna dari nama tersebut melekat doa dan harapan dari kedua orang tua untuk anak-anaknya. Orang tua yang menyematkan kata “Muhammad” pada nama anaknya tentu mengharapkan anak tersebut mewarisi keagungan akhlak baginda SAW, begitupun dengan nama-nama lain semisal Hanif, Syafi’i, Umar, dll.
Pembahasan ini secara tidak langsung mengantarkanku pada kontemplasi terhadap nama sendiri, Andi Muhammad Tri Sakti. Jika diurai satu persatu, setiap kata dalam nama tersebut juga memiliki makna, Andi untuk menunjukkan gelar semacam raden pada lelaki Jawa, Tengku di Aceh, maupun Lalu di Sasak, Muhammad merupakan doa agar sedikit dari kesempurnaan akhlak beliau SAW bisa terrefleksikan melalui pribadi, Tri untuk anak ketiga, dan Sakti menerangkan bahwa aku lahir di hari kesaktian Pancasila. Mengenai kata yang terakhir, sejujurnya masih jadi tanda tanya, aku belum pernah benar-benar merasa menjadi sosok yang Pancasilais, sejarah tentang penumpasan 30SPKI yang penuh kesimpangsiuran pun nyatanya tak pernah masuk dalam deretan sejarah yang kuanggap menarik untuk dipelajari.
Masih tentang nama, beberapa waktu yang lalu, ada adik tingkat beda jurusan yang juga kader aktivis dakwah kampus menanyakan biografi salah satu muhaddits dan fuqaha terbaik umat, Ibnu Hajar Al-Asqalani. Katanya ada project pembuatan komik yang secara langsung  ingin membahas biografi dan keteladanan beliau, dan dapat amanah sebagai penulis naskahnya. Karena tak terlalu paham dan selama ini hanya sering mendengar nama beliau tanpa mencari tahu biografinya, daripada penasaran, mending buka youtube, nonton ceramahnya ust. Adi Hidayat yang detail menjelaskan makna “Ibnu Hajar Al-Asqalani”. Dari ceramah beliau, Alhamdulillah dapat pencerahan yang sangat berharga, diawali dengan makna Al-Asqalani yang sudah pasti merupakan nama tempat tinggal, dimana beliau merupakan orang Asqalan, kota yang terletak di selatan Palestina, namun karena kolonialisasi zionis, sekarang sudah diklaim sebagai bagian dari daratan Israel (mereka menyebutnya Askhelon).
Bagian yang paling menggugah ialah bahwa ternyata “Ibnu Hajar” hanyalah sebuah nama pena dari Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad, sosok pemuda yang sangat bebal dan begitu sulit mencerna pelajaran dari syaikh-nya. Akirnya dengan penuh kekesalan, beliau meninggalkan ruang majelis, berlari melawan hadangan rintik-rintik berkah hujan yang menjatuhi kepala, hingga deras hujan tersebut mengantakannya ke sebuah gua untuk berteduh. Dalam peristirahatan, ia kemudian melihat tetesan hujan menghantam batu yang ada di bawahnya, dilihatnya tetesan tersebut tak terlalu deras, tak sederas hujan yang langsung menjatuhi bumi tanpa penghalang, namun ternyata tetesan-tetesan kecil tersebut mampu membekaskan lubang pada wujud batu yang sangat keras.
Dari pemandangan tersebut, beliau berhikmah bahwa segala kesanggupan dan kesuksesan selalu berawal dari sebuah kekuatan bernama Azzam. Seperti air hujan yang walau dengan fisik yang tiada banding dengan batu, karena konsistensinya untuk terus menetes atas kehendak Allah, ia akhirnya berhasil meski harus melawan kepadatan molekul batu yang jauh lebih solid. Akhirnya lahir sosok Abul Fadhl yang baru, pemuda yang awalnya bahkan sangat sulit menghafal satu hadis saja, kini mampu melahap habis Shahih Bukhari, tak hanya itu, ia kemudian membuat syarah hadits-hadits tersebut dan menghadiahkannya kepada umat melalui Fathul Bari, kitab yang sangat besar faedahnya sebagai rujukan ummat muslim bahkan di usianya yang sudah menginjak lebih kurang tujuh abad, hingga benarlah sebuah ungkapan “Laa hijrata ba’dal fathi” (tak perlu berhijrah ke kitab hadits lain selama ada Fathul Bari). Apakah pribahasa “tetesan air mampu mengalahkan kerasnya batu” diangkat dari kisah beliau? Wallahu a’lam, yang jelas “Ibnu Hajar”, yang jika diartikan secara harfiah berarti anak batu, adalah nama yang paling pas untuk mengilustrasikan pribahasa tersebut.
Sudah sampai seberat apa perjuangan yang kita ambil? Seberapa konsistenkah kita mengulang-ulang ihtiar di hari-hari yang kian menjenuhkan? Atau sudah seteguh airkah Azzam yang telah tertanamkan dalam hati? Walau hati masih kelu menjawab, setidaknya arahkan ia menuju jalan-jalan yang telah ditapaki luapan semangat Ibnu Hajar Al-Asqalani.
"or let's just leave these days and keep our time from waiting each other...something is not gonna happen untill the very end anyway, indeed those stories aren't meant to be written"

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Jika menutupi aib adalah sebuah kemunafikan, sudah berapa banyak wajah Tuhan yang pernah anda lihat? Sungguh tiada aib semakhlukpun yang luput dari lindungan-Nya"
Geliat Politik PAKEM (mau dibawa ke mana?)
      Entah dari mana datangya, paradigma “Kampus merupakan miniatur negara”, sudah menjadi terlalu familiar dalam benak mahasiswa yang konsen terhadap pergerakan politik kampus, beberapa mungkin sudah jenuh ketika menjumpai kalimat itu di setiap artikel maupun diskursus ilmiah yang mengatasnamakan kemahasiswaan. Entah, ataukah itu hanyalah dogma yang digunakan untuk menguatkan hegemoni politik di dunia pendidikan, dengan kampus sebagai pilar utamanya. Siapa yang menyangka, nyatanya paham yang dianggap dogma bawaan rezim pra reformasi tersebut berhasil menyeret sejumlah organisasi kepemudaan bernuansa pendidikan sekaliber HMI, PMII, PII, IMM, dan tak lupa tentunya sang kuda hitam #ehmm LDK. Salah satu perbedaan mencolok antara organisasi-organisasi kepemudaan di atas dengan LDK adalah di saat panggilan “Kanda” dan “dinda” begitu khas untuk memesrakan hubungan senior-junior, anak-anak LDK begitu bangga dengan Akhi-Ukhti-nya, sebagai penegasan bahwa organisasi tersebut tidak bersifat foedal dan jauh dari segala bentuk senioritas, walaupun tetap ada marhalah yang dijadikan acuan untuk membedakan jenjang kader sesuai dengan pengalaman dan kompetensinya terkait dunia ke-LDK-an
      Kiprah politik LDK di setiap kampus pada masa reformasi mungkin sudah tampak, namun sikap politik yang mereka pegang barulah secara zahir terlihat pada detik-detik menjelang runtuhnya rezim orde baru, dengan terbentuknya Komunitas Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang lahir melalui konsolidasi LDK seluruh Indonesia dalam naungan FSLDK, tak genap sebulan menuju tanggal reformasi. Kepercayaan diri para pemuda tarbiyah dalam memegang sikap politik tersebut hingga ke dalam kampus kemudian diperkuat dengan terbentuknya Partai Keadilan di bawah pimpinan Hidayat Nur Wahid pada Agustus 1998. “Dari Masjid Ke Kampus”, slogan yang membuktikan konsen mereka dalam mensyamilkan Islam ke dalam setiap sendi kehidupan masyarakat, termasuk kampus sekalipun. Oleh karena itu, tak usah heran kalau ternyata senat mahasiswa di kampus-kampus ternama di Indonesia semisal UI, UGM, ITB, UNDIP, maupun IPB selalu didominasi oleh kader LDK, bahkan ketua BEM Seluruh Indonesia (BEM-SI) juga berasal dari mereka.
      Bagaimana bisa anak kemarin sore yang planga-plongo dan katanya cuma tau ngaji tiba-tiba bisa jadi 01 di kampus? Tunggu dulu! Sepertinya banyak yang tidak tahu, termasuk beberapa orang dari kalangan aktifis dakwah kampus sendiri mengenai kentalnya nuansa politik dalam nafas harakah Ikhwanul Muslimin sebagai muara untuk setiap gerakan tarbiyah di Indonesia. Harakah yang mampu menyulap para petani, tukang kebun, guru SD, dan berbagai latarbelakang profesi lainnya seketika menjadi cendekiawan multidisiplin dengan hanya bermodal pertemuan rutin dalam sebuah lingkaran kecil. Adapun output dari muwashofat yang mereka jalankan ialah terbentuknya generasi Rabbani, di mana istilah Rabbani tersebut, menurut Imam Ath-Thabari hanya dapat dicapai jika umat mampu memenuhi lima kriteria, di mana salah satu dari kriteria tersebut adalah Bashirun Bis Siyasah (melek politik), pendalaman pengetahuan umat Islam akan politik dimaksudkan agar mereka mengetahui strategi konkret tentang bagaimana agar syariat Islam dapat diterapkan secara syamil (paripurna) dalam kehidupan masyarakat. Jika politik atau siyasah diartikan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, maka Islam haruslah menjadi jalur sekaligus tujuan akhir bagi kekuasaan tersebut. Rasanya terlalu naif jika berharap menjadi penentu sistem namun sama sekali tak memegang legitimasi.
      Ngomong-ngomong saol politik kampus, sudah dua tahun berturut-turut PAKEM (Partai Keadilan Mahasiswa) memegang kendali kekuasaan eksekutif dan legislatif FIKOM Universitas Mercu Buana. Partai ini sebenarnya merupakan aliansi seluruh ormawa (HMJ dan Klub) FIKOM untuk membalas kekecewaan terhadap pengurus BEM-DPM tahun 2014/2015. Selama dua tahun berturut-turut pula partai ini diketuai oleh kader LDK atau lebih spesifiknya lagi LDF Ta’lim Alif, yaitu Andi di tahun pertama, dan saya sendiri di tahun kedua. Namun karena tidak adanya pembekalan berupa halaqah siyasah dan titipan LDK yang kami terima, beberapa agenda yang sudah terrencanakan seringkali terbengkalai dalam eksekusinya. Kader Ta’lim Alif memang memegang jabatan kepemimpinan, tapi mereka masih bingung, tak tahu pasti apa yang harus mereka lakukan.
      Di tahun ketiga ini, PAKEM kembali harus menata strategi, sikap, dan haluan politiknya. Mau maju lagi kah, atau mau diserahkan saja estafetnya ke partai sebelah? Kalau mau dikesebelahkan, ada kawan-kawan dari Ikhwanul-FIS yang dengan senang hati mau menerima, toh sepertinya mereka sudah sangat rindu dengan kekuasaan politik fakultas. Mau kemana PAKEM selanjutnya? Apakah mau terus berlanjut meskipun belum terlalu bashir ? Semua akan terungkap di September, bulan politiknya FIKOM.
"Kau sebentar lagi terbangun menemui pagiÂ
Melupakan mimpi yang kau jumpai semalamÂ
Sedang aku baru saja berbaringÂ
Melanjutkan mimpi tentang kita di beranda toko, ruang tamu, dan tempat rahasia yang ingin kau tunjukkan..."
Melepas Waktu
tak semua waktu layak dibunuh.. Tahan dendammu untuk beberapa di antara mereka, seperti halnya menit-menit yang kita hidupkan di atas bangku..biarkan saja seperti itu Biarkan saja... Biarkan ia membagi ruang untuk percakapan agar matamu tak hanya melihat sisiku yang beku Hingga tiba saat dimana kau harus kembali menyusun langkah di atas batas-batas temu Seseorang tak perlu larut menyesali kepergian seorang lainnya..juga resah tak usah berbalik memandangi rindu dan tanda tanya yang kau bawa menyeberangi pintu Tanda tanya itu, aku yang akan memecahkannya Bersama waktu yang membayangiku mengitari sudut-sudut dimensin perjalanan Lagi, dan lagi, hingga kutemukan kau bersama jawaban yang pernah singgah di bangku ruang tunggu
Puisi Tak Jadi
Hai...aku hidup kembali Setelah kau hadiahkan sajak-sajak penuntas rindu, rindu yang sudah sewindu hilang kendali Aku istirahat dari mati Di setiap spasi dalam bait tentang kota tua yang kau dengungkan berkali kali Sore ini... Lantai menopang punggung di hadapan kertas-kertas puisi setengah jadi Baris-baris itu gagal kujadikan balasan untuk kota tua dan lampu jalan yang mencuri matamu di tepian pagi Sebab kau adalah lantai dan puisi-puisi ini Dingin, mengundang letih Mungkin aku sebaiknya kembali Menyibukkan nyawa, memainkan hati di dalam peti

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
JENGAH
Sedetik setelah kujamah jemari setengah basah Bias-bias prasangka menggelayut mengiring gemetar Aku menyesal sedetik kemudian Namun sumringah di belasan jam selanjutnya
kau lalu terpaku di irisan kebetulan dan takdir Sedang aku, menatap jengahmu dari salah satu beranda himpunan Kau, aku, terhalang notasi kala itu
Kita, dua pemalu yang terperangkap senja Terkurung malam di bawah sinaran purnama Sendiri, hingga subuh aku bersiap diri Agar tak kelu mengucap selamat pagi…
Dimana Allah pada hatimu? Semoga Ia selalu pada ruang yang terbesar, yang terlega. Yang mendominasi hati, jiwa dan pikiran. Dimana Allah pada harimu? Semoga Ia selalu pada awal harimu. Bukan hanya di sela-sela kegiatan saja, apalagi di akhir hari yang melelahkan.
Well. Selamat menempatkan Allah sebaik-baiknya :)