Sebuah fakta menunjukkan, orang tua yang lahir pada tahun 1960 ke-bawah akan mendidik anaknya sebagaimana ia dididik. Mungkin karena hal inilah kami dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Bapak benar-benar ingin membuat kami merasakan apa yang pernah ia rasakan semasa dibesarkan oleh kakek dan nenek. Sekilas mungkin terdengar kejam dan tak adil, tapi itu hanyalah prasangka yang didapatkan jika didikan bapak dihakimi dari sudut pandang orang ketiga.
Beliau dinamai Andi Hatamuddin oleh kedua orang tuanya, aku tak tau persis arti dari nama itu beberapa hari yang lalu aku mencoba mencari “hatamuddin” lalu “khatamuddin” lewat google, namun juga tidak ditemukan artinya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sederhana, sejak kecil telah merasai pahit getirnya kehidupan, pernah mengenakan kain bekas berwarna putih usang sebagai seragam sekolah dasarnya, atau dibantai oleh kakek ketika sekeping 5 rupiah milik kakek ia ambil tanpa izin.
“Kenapa uang bapak kamu ambil ga bilang-bilang?”
“Kalau saya bilang, ga mungkin bapak mau ngasih”
Suaranya lirih ketika menceritakan kisah ini kepada kami bertiga. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kehidupan yang seadanya saja, akhirnya Bapak tumbuh sebagai laki-laki yang keras dan pantang surut semangat juangnya. Anak-anaknya dididik di tengah kesederhanaan walau sebenarnya untuk sekedar memanjakan kami, ia sanggup. Karena ia tahu arti penderitaan dan pengorbanan orang tua jugalah, sebagai anak pertama, ialah yang kemudian memegang tanggung-jawab untuk menyekolahkan adik-adiknya hingga lulus dan pada akhirnya dapat merasakan kemapanan hingga saat ini.
Bapak sekarang sudah hampir kepala enam, waktu berlalu begitu cepat. Hingga di usianya yang ke-58 tahun ini, jarak itu masih terasa. Karena demikian segannya, kami hampir tak pernah bertemu dalam guyonan-guyonan ataupun obrolan ringan yang harusnya sangat bisa kami lakukan, apalagi didukung selera humor bapak yang begitu khas. Entah, mungkin karena bapak terlalu berhasil menjaga kewibawaannya ataukah aku sendiri yang sebenarnya telah membuat-buat jarak semu di antara kami berdua.
Padahal sewaktu masih kecil, kami sudah diakrabkan dengan perasaan rindu kepadanya. Ketika bapak masih menjadi pegawai di biro keuangan Kantor Gubernur Sul-Sel, kami menetap di kota yang berbeda (aku, mama, dan kakak-kakakku di Bulukumba, sedangkan bapak di makassar), namun jarak 150 KM setiap hari jumat ia tempuh, lalu kembali lagi ke Makassar di hari minggu, begitu terus 18 tahun lamanya. Barulah pada tahun 2006 Bapak meminta untuk dipindahdinaskan ke kabupaten Bantaeng (sekitar 30 meter dari rumah), lalu akhirnya ke Bulukumba tahun 2008. Tahun ini, di usianya yang genap 58 tahun, bertepatan dengan kelulusanku, bapak secara resmi pensiun dari tugasnya sebagai pegawai negeri sipil. Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku baru tau kalau ternyata ia sempat mau daftar jadi pegawai BI, tapi ternyata sudah lulus tes di pemprov akhirnya niat itu diurungkan.
Sampai saat ini, obrolan-obrolan yang kami hidupkan setiap kali aku ada kesempatan untuk pulang selalu saja mengenai masa depan, entah itu pendidikan, pekerjaan, rencana hidup mendatang, dan #ehmm sekarang beliau sudah agak sering membahas tentang pernikahan, obrolan terkahir dengan bapak adalah tentang “harus 25 tahun” yang pada akhirnya berubah menjadi “ga apa-apa di bawah 25 tahun yang penting tetap kuliah dan ga keluar dari garis teritori Sul-Sel”, belakangan, Auliyah, kakak pertamaku mengabarkan kalau Bapak sudah bisa diajak berkompromi, ketetapan yang sudah ia pegang kini sudah bisa dinegosiasikan. Ini adalah kali pertama kulihat sisi beliau yang negosiatif, biasanya segala ketetapan yang keluar dari mulutnya selalu absolut tidak dapat di ganggu gugat, mungkin karena dalam perkara tertentu mama selalu mengambil peran untuk mengimbangi.
Bapak mungkin selamanya akan tetap seperti ini, menyembunyikan kasih sayangnya di balik perangai yang biasa saja, tetap tak banyak bicara walau sejuta kepelikan memenuhi pikiran. Aku bangga, dibesarkan oleh seorang ayah yang lahir pada tahun 1959 dengan didikannya yang telah mengekalkan kesederhanaan kedalam pribadi, kami bangga mewarisi cara hidup bapak yang sudah akrab dengan perjuangan dan berpayah-payah. Ia tak pernah bermaksud menyelisihi sunnah Rasulullah SAW tentang seruan mendidik anak sesuai masanya, buktinya ia terus belajar, berusaha memahami, dan banyak mendengarkan saran mama yang lahir pada 1963.