Soal apa yang akhir-akhir ini dihadapi.
Alhamdulillah..akhir-akhir ini aku punya kesempatan untuk "memilih" pekerjaan. Di tengah masa yang terasa sulit bagi sebagian orang. Mencari stepping stone selanjutnya. Sebagai pengembangan diri, katanya. Dan..seperti cerita quarter life pada umumnya. Pilihan yang ada nggak pernah mudah.
Aku dihadapkan, mungkin lebih tepatnya Allah memberikan aku kesempatan untuk interview di sebuah biro arsitek. Aku apply sebagai desainer grafis. Sebelumnya, aku telah membaca buku dan profil principal arsitek di biro tersebut. Singkat cerita, aku terkesan dengan karya dan value yang beliau bawa. Sangat membawaku flashback ke masa akhir perkuliahanku, dimana aku mendapat seorang dosen pembimbing yang dalam ilmunya. Di setiap bimbingan, kami selalu diceritakan hal-hal aneh dan lucu. Yang ternyata konklusinya terhadap proses desain itu sendiri. (Ya, ada kalanya beliau serius juga). Bagiku, cara beliau mengajari kami membuat riset desain dan karya desain, way.....to beyond imagination. Nggak hanya soal desain, aku merasa kehadiran sosok ayah pada dosen pembimbingku. Dan, ini juga yang kurasakan kembali saat membaca buku principal arsitek tersebut. Membawa nilai, bukan hanya desain tapi juga kehidupan. Bagaimana tidak rindu?
Namun qadarullah, karena pandemi yang melanda. Aku nggak bisa berangkat ke biro tersebut dan posisi graphic designer (yang rasanya sudah dekat sekali melihat proses interview yang cukup mulus) diisi oleh orang lain. Qadarullahu maa syaa fa'al..
Aku kembali mencari opportunity di luar sana. Alhamdulillah, saat ini udah mendapat offering dari perusahaan yang cukup dikenal. Tinggal menunggu one month noticeku selesai.
Tapi rasanya hati dan rasa nggak bisa dinafikan. Masih saja aku mengintip instagram biro arsitek itu dan mengira-ngira ada aktivitas apa disana. Ada pelajaran apa disana. Rasanya..aku heran pada diriku sendiri. Apa sih yang kamu cari?
Aku terus bertanya..apa? Kenapa? Apa? Apa yang dicari?
Ternyata.. aku hanya butuh tempat untuk berpijak, menjejakkan kaki. Menemukan lingkungan yang suportif dan apresiatif terhadap karya dan pribadiku. Mendapat pembinaan dari seseorang yang sudah mengalami lebih banyak hal dan melihat matahari lebih lama daripada aku, yang memiliki banyak mutiara hikmah. Membuat sebuah safety net untuk aku berpijak ke jenjang kehidupan selanjutnya. Sesuatu yang rasanya..sulit kutemukan di dalam rumah. Sesuatu yang aku yakini ada pada principal arsitek tersebut beserta bironya. Mungkin ini juga yang membuatku selalu ingin merantau.
Ya.. Nggak pernah mudah ya, jadi anak seperempat abad? Banyak bingungnya, banyak khawatirnya. Banyak harapnya. Keliatannya jadi sedikit syukurnya. :)
Apapun itu yang aku dapat hari ini, nggak lepas aku berdoa..semoga Allah kasih yang terbaik. Mungkin memang yang terbaik kerja di Jakarta. Tidak usah jauh-jauh mencari wangsit sampai ke timur pulau Jawa. Nggak pernah mudah memang bagi aku, manusia yang dzhaluuman jahuula, menerima ketetapanNya, al-Aliim, al-Muhsin. Semoga Allah selalu memberi aku hidayah dan kelapangan hati.