Apa itu citra? Nama orang? Nama perumahan? Ya, betul. Tahu bentuknya juga ga cuma bulat atau kotak, tahu juga kata kerja. Baca tulisan ini sambil makan tahu yang baru mateng. Siapa tahu kamu jadi makin tahu.
Di saluran televisi berita kita seringkali mendengar kata “pencitraan”, yang kata dasarnya adalah citra. Kata ini bisa saya umpamakan sebagai bayangan. Misalnya, tetangga depan rumah sedang memanaskan mobil dan lampu depannya nyala, apa saja yang lewat perlahan di depannya akan terlihat jelas bayangannya di tembok rumah. Perempuan atau laki-laki bahkan bisa kita ketahui dari bayangannya, tapi saat ada delman lewat misalnya, adik akan bertanya “apa itu?” Kita bisa saja memberitahukan itu adalah odong-odong. Dan adik akan keluar rumah mencari wujud asli benda yang lewat itu, memerhatikan, dan menyimpannya sebagai kosakata baru.
Citra adalah bayangan itu, mewakilkan wujud asli yang sesungguhnya. Sedangkan informasi sudah ada di kepala kita atau belum, setiap orang berbeda. Citra bila ditambah informasi yang dibuat dengan suatu tujuan, akan mampu mengarahkan persepsi.
Saat ini saya tertarik melihat kondisi politik negara ini, khususnya menjelang pilkada DKI 2017 nanti. Bagaimana prosesnya berlangsung, bisa jadi pelajaran sejarah tersendiri. Bisa dibilang sejarah karena peristiwanya sudah berlangsung dan terekam. Bisa kita lihat misalnya, bagaimana dulu Jokowi bisa sukses jadi RI1. Akankah jalannya semulus itu bila tidak ada stasiun televisi besutan Surya Paloh? Bila tidak ada program Kick Andy dan Mata Najwa? Dua program acara itu punya andil besar mengangkat nama Jokowi ke ruang publik. Bagaimana jika saat itu Fauzi Bowo yang terpilih kembali menjadi gubernur Jakarta dan bukan Jokowi? Akankah PDI-P tetap mengusung walikota Solo itu sebagai Capres? Itu semua ada hubungannya dengan citra; pembangunan citra positif guna meraih dukungan yang masif. Dan itu semua tergabung dalam ide besar bernama agenda setting. Semuanya terstruktur, terencana, dan terukur. Ada tujuan politik yang ingin dicapai, dan itu berhasil.
Politik. Apa sih itu? Mengutip dari Wikipedia, politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Dilihat dari sisi paling sederhana, proses pemilihan kepala daerah adalah proses politik, seni meraih simpati para pengguna hak pilih. Dalam demokrasi pilihan terbaik lahir dari kompetisi yang biasa disebut pemilihan umum. Kompetisi meraih kekuasaan tertinggi suatu wilayah guna mencapai tujuan politik tertentu. Setiap pihak yang berkompetisi berjuang mewakili tujuan-tujuan kelompok yang ada di belakangnya.
Aristoteles memang pernah berteori “politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.” Teori itu memang benar, hanya pada zaman itu. Saat Aristoteles hidup, masyarakat dunia belum terorganisasi dalam lingkup negara-negara seperti sekarang. Masih banyak koloni kecil yang hidup nomaden untuk bertahan hidup. Jadi untuk kebaikan mereka bersama Aristoteles mengajukan solusi untuk tinggal dalam suatu wilayah kekuasaan yang bisa menjamin kehidupan layak bagi mereka.
Pada era modern saat ini manusia bisa saling berperang demi satu kepentingan. Kekuasaan sejak dulu memang hal yang layak diperebutkan. Sebutkan nama semua perang yang telah terjadi, dan itu tak lepas dari tujuan kekuasaan. Bila kuasa atas suatu wilayah sudah didapat, tujuan ekonomi sebesar apapun akan mudah didapat.
Pernah kamu lihat kawasan Pantai Indah Kapuk di tahun 80-an? Daerah itu dulu isinya cuma rawa dan hutan bakau. Sekarang? Deretan rumah mewah mengisi cluster yang asri dan bersih. Itu adalah kemajuan ekonomi tersendiri, bagi para pihak pengembangnya. Dan kamu tahu siapa penghuni rumah-rumah mewah itu? Orang-orang yang beruntung itu umumnya berwajah oriental dan beberapa adalah businessman handal dari Tiongkok. Jangan kaget, di halaman belakang rumah yang terhubung dengan laut biasa diparkir kapal boat milik pribadi. Lalu apa hubungannya dengan peta politik Pilkada DKI? Untuk melihat hubungannya, silakan kamu warga Jakarta memilih gubernur inkumben di Pilkada 2017 nanti. Proyek reklamasi pulau G di pantai utara Jakarta sudah jadi indikasi utama tujuan ekonomi yang akan mereka capai sebentar lagi. Konglomerasi hadir sebagai bentuk baru penjajahan ekonomi oleh para pengusaha bermodal besar yang berkolaborasi dengan pejabat pemegang kebijakan.
Setiap bakal calon gubernur Pilkada DKI 2017 nanti bisa saja berucap tentang tujuan sucinya untuk mengabdi kepada seluruh masyarakat kota Jakarta. Tapi siapa yang tau ada agenda bisnis besar berdiri di belakangnya bila tujuan politiknya berhasil tercapai. Waspadalah teman-temanku warga Jakarta. Mari kita jadi penonton yang cerdas.
😀😀😀