Menuliskanmu dalam kalimat-kalimat hikmah—tapi sepertinya kau sesuatu yang tak bisa dikiaskan oleh kata. Hanya mata yang dapat bicara mengungkapnya.
Melukiskanmu dengan warna-warna indah—nyatanya kau lebih merona dari bianglala di hari cerah.
Laksana membaca puisi—aku terbata menempatkan tanda baca, hingga kini, puisi ini tak kunjung usai dijiwai.
Laksana bulan purnama—namun nyata kau lebih anggun bercahaya dari purnama merah.
Jika dipikir mendalam, rasanya mustahil akan nihil. Ujung-ujung tali wajib ada tuk bersua, pada simpul tali tuk mengikat. Seperti akad yang mengikat dua kodrat.
Saat gelap langitmu, patutlah terang langitku. Saat terang langitmu, patutlah gelap langitku. Agar kau pun aku tahu, saling pahami rasa hingga satu rasa, dalam suka maupun duka.
Akhirnya, misteri tetap kan terungkap. Kita serupa bulan dan matahari yang selalu menerangi berganti, di suatu rumah tangga nanti.
Jika aku dengan cerita yang tak habis tuk kau kagumi, maka tetaplah kau dengan hidupmu yang selalu kan ku banggakan nanti.
Sejatinya tiap sudut bumi adalah sunyi, sunyi dari hingar bingar duniawi yang nanar. Sudut bumi dan sembunyi hanyalah satu arti, ialah sunyi.
Tak ada yang mampu menandingi kuasa Ilahi. Baik itu engkau atau bukan, Tuhanlah yang maha mengetahui. Lihatlah, satu tubuh dua tangan, kiri dan kanan. Beda guna berupa sama, satu dunia berwujud badan.
Maka, secuil emas tetaplah emas. Lautan buih tetaplah buih.
Mustahil merelakan, mustahil melepaskan. Sebab tak pernah menyemaikan. Biarlah benih tetaplah benih, benih rasa simpan di dada. Hingga tiba musim tanam nanti.
Lorong waktu, 03.41 | 27 Oktober 2020.