Ada sebuah nasihat dari Imam Syafi'i;
"Ketika engkau menginginkan sesuatu, maka bayangkan jika saat itu juga engkau kehilangannya. Jika engkau merasa tidak apa-apa kehilangannya, itulah tanda bahwa aman bagimu memilikinya."
Alangkah dalam hikmah yang terkandung dari nasihat itu. Bahwa penting sekali bagi kita meneliti apa yang mendasari keinginan kita untuk memiliki. Sebab tanda jika keinginan untuk memiliki didominasi oleh hawa nafsu adalah muncul rasa kepemilikan sebelum dan setelah terkaruniai sesuatu yang diinginkan itu.
Rasa memiliki seringkali menjadi sebab kelalaian (kemaksiatan).
Coba perhatikan, bukankah orang yang merasa memiliki kuasa membuat ia jadi semena-mena pada yang dianggap berada di bawah kuasanya?.
Bukankah orang yang merasa memiliki harta bisa menjadikan ia sombong dan menganggap semua bisa dibeli dengan hartanya?.
Begitu pula ketika kita merasa memiliki seseorang (baik itu pasangan, anak, saudara, atau pun orang tua), bisa menjadikan kita tak rela ketika kehilangan (entah karena ia memutuskan pergi dari hidup kita atau karena Allah yang mengambilnya kembali dari sisi kita).
Padahal sejatinya, semua yang terkarunia hanyalah titipan dari-Nya. Kita tidak pernah benar-benar memiliki, kita hanya (saling) dititipi.
Oleh karena itu, saat kita menginginkan sesuatu, kata Imam Syafi'i, tolak ukurnya adalah dengan membayangkan seberapa lapang hati kita jika kehilangannya.
Kalau sebelum Allah karuniakan saja sudah ada rasa tak rela atau jadi takut sekali kehilangannya, berarti nafsulah yang mendominasi.
Maka, segera batalkan/tinggalkan. Karena yang seperti itu, jika tetap dipaksakan berpotensi menjadikan kita punya rasa kepemilikan yang akan melalaikan dan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.
Ingatlah, kebaikan itu selalu menenangkan. Yang sejatinya baik, tak akan membuatmu jadi khawatir berlebihan atau takut sekali kehilangan.