Syahwat yang Tidak Akan Pernah Merasa 'Kenyang'
Syahwat perut akan meredam setelah kita merasa kenyang. Syahwat naluriah kita sebagai laki-laki dan perempuan pun bisa meredam setelah tersalurkan (dalam Bingkai pernikahan).
Namun ada 1 syahwat yang apabila diberikan ‘makanannya’, justru syahwat itu akan merasa semakin ‘kelaparan’. Semakin disalurkan, semakin bertambah besar (syahwat) nya.
Syahwat tersebut, kata Sayyid Ali Jufri, bernama cinta kedudukan diri. Syahwat ini sangat menyukai sanjungan, rasa hormat orang lain, juga kemasyhuran (popularitas).
Mungkin karena ini pula Rasulullah sangat mengkhawatirkan penyakit riya’ (senang dilihat saat melakukan amal kebaikan) menimpa kita, ummatnya. Pun kita bisa terlepas dari riya, kadang masuk ke perangkap syahwat ini yang lainnya, yaitu ujub (bangga diri). Seperti merasa sudah soleh, merasa sudah banyak berkontribusi untuk ummat, dan sejenisnya.
(Padahal kita bisa melakukan kebaikan itu karena dimudahkan oleh Allah. Padahal boleh jadi dalam amal kebaikan yang kita lakukan terdapat banyak cacatnya. Bahkan Nabi Ibrahim dan Ismail pun, setelah bertugas membangun fondasi Ka'bah, memohon agar Allah menerima amal ibadah mereka. Seakan-akan beliau berdua gak PeDe amalnya akan diterima Allah.)
Semoga Allah melindungi kita dari syahwat yang tidak pernah mengenal rasa 'kenyang’ ini. Terlebih di era media sosial yang sangat memanjakannya.
Patutlah kita, khususnya saya pribadi, untuk mengaudit setiap perkataan, perbuatan, bahkan niat atau lintasan hati dan pikiran kita dari memperturutkan syahwat ini. Baik itu saat sebelum, ketika, maupun setelah melakukan perbuatan, berucap, atau memposting sesuatu di media sosial seperti yang saya lakukan ini.
Apakah ini untuk Allah, apakah aku melakukan ini supaya disanjung, apakah aku memposting hal ini supaya termasyhur, dst.
Disclaimer:
Terkait popularitas, fokus perhatian saya pada tulisan di atas bukanlah terletak pada kemasyhuran-nya itu sendiri. Melainkan pada keterkaitannya hati kita terhadap rasa ingin termasyhur, sehingga pikiran dan diri kita tersibukkan olehnya.
Sebagaimana harta beda dan dunia-things lainnya. Letak bahayanya bukan pada harta bendanya itu sendiri. Karena kurang melimpah apa coba hartanya Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll. Kurang twrmasyhur gimana nama Khalid bin Walid yang belum pernah kalah dalam perang. Tapi mereka tetap mulia.
Letak kewaspadaan kita kepada dunia, kata guru saya, ada pada dua hal tadi. Terpautnya hati kepadanya dan tersibukkannya diri olehnya sehingga kita lalai dari amal shalih, Dzikir, dan segala hal yang bermanfaat untuk bekal pulang kampung kita.