Fiksi mini sekali
Budi akhirnya mau kawin juga dengan seorang gadis. Namun baru malam pertama, ia sudah kapok saja. Ketika si gadis membuka lebar selangkangan, ia meringis. Benar-benar, pikirnya, itu momok yang menakutkan.
tumblr dot com

Love Begins
Cosmic Funnies

Origami Around
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Sade Olutola
cherry valley forever

PR's Tumblrdome

oozey mess
Noah Kahan
macklin celebrini has autism
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
h
RMH
Fieri Frames
The Bowery Presents

#extradirty
art blog(derogatory)
untitled

if i look back, i am lost

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from India
seen from United States

seen from TĂźrkiye

seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Ecuador

seen from United Kingdom

seen from Australia

seen from Serbia

seen from United States
seen from Australia

seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from Italy
seen from Russia

seen from Germany
seen from Mexico

seen from United Kingdom
@yokeuda-blog
Fiksi mini sekali
Budi akhirnya mau kawin juga dengan seorang gadis. Namun baru malam pertama, ia sudah kapok saja. Ketika si gadis membuka lebar selangkangan, ia meringis. Benar-benar, pikirnya, itu momok yang menakutkan.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Sosis
Dia tentu senang punya pasangan yang mandul. Setiap malam tak usah pakai kondom. Tinggal lep!
Resolusi 2017 yg ke-15
Ketika membaca novel Asmaraloka mpunya Danarto, saya terhenyak pada satu bab. Padahal barang sekalimat. Yakni: âOrang yang tidak tahu, wajib diam.â
Eh tetiba di dalam benak, saya berencana bikin satu klub futsal. Namanya: Orang yang Tidak Tahu, Wajib Diam. Kecuali Bertanya. FC.
Semoga tercapai.
Art is a lie that makes us realize truth at least the truth that is given us to understand.
Pablo Picasso
Yang telah Membuatnya Kenyang
Dan ia masih berjalan tak karuan, sedangkan hujan turun deras sekali disertai angin kencang. Mulutnya sudah kenyang minum air hujan. Segala pori-pori di kepala dan di seluruh badannya ikut membantu pekerjaan mulutnya. Juga kemaluannya melakukan fungsinya dengan otomatis, begitu saja, tanpa takut pada apa-apa. Baginya kencing sendiri lebih nyaman ketimbang kesturi. Meskipun di hadapannya ada berbagai macam makanan lezat yang dibawa oleh aliran selokan yang tumpah ke jalan, ia merasa tak ingin lagi mendekatinya. Ia sudah lumayan kenyang oleh air hujan. Ia tidak berpikir apakah nanti sesudah hujan reda dan ia lapar kembali ia akan mengobrak-abrik bak sampah lagi atau sudah cukup sampai di sini. Ia sudah lama tidak memikirkan masa depan. Apa yang akan dilakukannya nanti sudah ia serahkan kepada nalurinya sendiri. Mau mati pun ia tak peduli.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Catatan 256
Saya lagi bikin cerpen nih. Tapi memang saya musti riset dulu. Paling tidak saya harus kembali buka sejarah. Yang paling aman mungkin dari buku. Saya tidak mungkin menggunakan ingatan-ingatan saya sewaktu menerima pelajaran sejarah waktu dulu sekolah. Ingatan-ingatan itu sudah berserakan serta beberapa kali mengalami distorsi oleh sebab cerita-cerita kenangan, dari almarhum kakek misalnya. Untung peristiwa yang harus saya buka kembali itu bukan berkisar di tahun 65-an. Membingungkan dan ambigu sekali sejarah Indonesia tahun segitu. Kecuali kalau memang saya tidak mau ambil pusing mengenai data-data. Saya tak perlu begitu mempertanyakan otentisitasnya. Tetapi berhubung saya sangat ingin menghindari kemelanturan, maka sebisa mungkin datanya tidak terlalu meleset, syukur-syukur sesuai dengan kenyataannya. Adapun tahun peristiwa yang saya butuh lacak adalah lebih jauh dari 65, yaitu sekitar 20 tahunan sebelumnya, waktu Jepang masih asyik ngangkang-ngangkangin kakinya di Indonesia. Kita mendengar Jepang begitu biadab, lebih parah dari Belanda. Meski mereka di Indonesia hanya tiga setengah tahun, namun rakyat Indonesia begitu sangat menderita. Diceritakan bahwa makanan pokok pun berganti dari beras ke RO (ranginang oyek). Saya kurang tahu macam apa ranginang oyek itu. Pokoknya itu makanan adalah makanan yang paling menyedihkan yang pernah dimakan oleh kakek saya. (Dari sini saya tahu sedikit tentang sejarahnya lagu Genjer-genjer yang dinyanyikan Lilis Suryani. Itu lagu menceritakan tentang makanan alternatif pengganti beras. Genjer-genjer adalah makanan bebek. Tapi sewaktu diolah, rasanya enak. Secara sekilas, saya tak menemukan koneksi genjer-genjer dengan peristiwa 65.) Pakaian pun begitu. Bekas karung goni dijahit alakadarnya untuk menutupi aurat. Edan sekali ya Jepang itu. Belum lagi tentang Romusha. Kalau saya dengar, itu Romusha adalah hal yang sangat mengerikan. Kalau kata almarhumah nenek saya mah, Romusha itu kerja paksa sampai mati (bagi beliau, yang paling menyakitkan dari penjajahan Belanda adalah ia harus ikut-ikutan menyembah matahari sambil nyanyi-nyanyi dengan bahasa Jepang).
Catatan 255
Setelah saya tidak lagi mengajar, saya mau ngapain? Oh, saya belum tahu. Sempat kepikir mau cari kerja, kerja apa saja yang gajinya gede dan di luar dunia kebersekolahan (mudah-mudahan saya tidak jadi fobia pendidikan). Tapi mau kerja apa? Di perusahaan mana? Teman saya kasih saran: cobalah melamar di percetakan buku. Boleh juga. Tapi masak saya harus begitu? Karena dalam benak saya, paling-paling saya akan jadi tukang pikul dus-dus yang berisi buku-buku, memasukkannya ke dalam mobil box lalu mengeluarkannya kembali di tempat tujuan. Saya waktu mahasiswa, pernah kerja begituan di salahsatu percetakan buku-buku pelajaran milik senior kuliah saya yang sudah kelewat senior. Penghasilannya tidak seberapa. Kalau penjualan bagus, yang ke sayanya juga agak banyak. Lha kalau sedikit, ya tentu saya tak boleh berkecil hati. Kepikiran juga mau buka usaha, praktisnya dagang. Tapi tentunya saya bingung oleh sebab pertanyaan susulan: mau usaha/ dagang apa? Sepanjang perjalanan hidup saya, tak pernah tuh saya mendapatkan hasil yang optimal dari dagang. Tak punyalah saya skill dalam hal itu. Padahal, kakek dan nenek saya dari pihak ibu, adalah pedagang. Uwak-uwak saya pedagang. Bibi dan paman saya pedagang. Mungkin gegara ibu saya aja yang agak nyeleweng dari tradisi keluarga besar itu, Ibu saya malah jadi PNS. Jadi guru SD. Oleh sebab itulah mungkin anak-anaknya tidak ada yang merasa berdarah waisya (pedagang). Kakak saya guru SD. Kakak saya yang kedua guru SMK. Saya juga kemarin-kemarin guru SMA. Luar biasa ya ibu saya, mampu merubah orientasi mempertahankan hidup dari dunia pertukaran barang ke pertukaran jasa. Dari kongkret ke abstrak. Hasilnya juga sekarang bisa dibilang sangat signifikan. Duit ibu saya lebih banyak ketimbang bibi dan uwak saya. (Ke anak-anaknya juga berpengaruh. Anak-anak ibu saya, khususnya saya, dinilai lebih songong dari anak-anak uwak maupun bibi. Mereka mah gitu aja we, manggut-manggut kalau sedang diceramahin teh. Saya mah gak bisa begitu. Sering membangkang saya mah. Barulah kalau ibu saya sudah memanggil nama saya sesuai dengan nama yang tertera di kartu keluarga, saya nurut.) Maka kalau begitu, saya tidak mau jadi pedagang. Takut duit saya sedikit (selain juga takut anak saya kuâuleun). Tapi saya punya cita-cita nih. Kemarin waktu saya di Bandung dan menikmati uang sejuta, saya kepikiran enaknya kalau kerjaan saya cuma jalan-jalan tidak karuan, main-main saja begitu, tapi duit di ATM banyak sekali. Mungkin gak ya saya bisa begitu? Mungkin aja, kata teman saya, si Arfi. Mungkin bagaimana? Saya mah gak percaya ah kalau yang bilangnya cuma si Arfi. Kuliah aja belum selesai-selesai dia mah. Padahal cuma D3 (Anjir eh, nista!). Eh kebetulan juga kemarin itu saya baru selesai membaca bukunya pak Murakami. Iya, Haruki Murakami. Di buku âWhat I Talk about when I Talk about Runningâ itu saya jadi tahu kalau kerjaan pak Murakami hanya lari-lari gak jelas sebagai latihan sebelum beliau ikutan lomba lari marathon. Dia mah gitu aja kerjaannya sambil nulis novel. Tapi dia dengan gampangnya pergi ke sana ke mari (bisa dibilang keliling dunia) naik pesawat tanpa mempersoalkan biaya tiketnya. Duit tiket pesawat aja gak dipikirin, apalagi biaya hidup sehari-hari. Edan si bapak eta euy! Eh tapi sebenarnya saya agak terinspirasi juga sama pak Murakami. Beliau baru memutuskan untuk jadi seorang penulis pada usia 30-an. Selain itu juga beliau meninggalkan bisnis kedainya yang sudah cukup maju. Katanya, usaha kedai itu menganggunya dalam menulis. Mestilah total biar hasilnya tidak setengah-setengah, ucapnya. Adapun perihal hobinya dalam berlari, itu merupakan salahsatu usahanya untuk tetap membuat otak dan insting kepenulisannya tetap segar. Baginya, menulis dan berlari adalah yang paling penting di dalam hidupnya (buku What I Talk about when I Talk about Running merupakan hasil dari kombinasi kedua hobinya, menulis dan berlari). Dan terbukti kan sekarang bagaimana hasilnya? Pak Murakami jadi salahseorang penulis besar di dunia. Beliau beberapa kali direkomendasikan untuk dapat penghargaan nobel. Saya juga ah. Maka saya kembali mulai menulis. Tapi saya gak suka lari kayak pak Murakami. Untuk itu, sebagai pengganti lari, saya jatuhkan pilihan saya pada futsal. Saya lumayan jago dalam futsal. Itu hobi saya. Nanti di puncak karier saya, saya mau nulis buku tentang saya yang suka main futsal. Lalu nanti, akhirnya, cita-cita saya yang tempohari dibenarkan oleh si arfi, tibalah menjadi kenyataan. Amin. Eh... eh... tapi, tapi, bisa gak ya saya mengikuti jejaknya Pak Murakami? Karena di buku itu (What I Talk dst.) juga disebutkan kalau dalam menulis itu dibutuhkan bakat dan usaha. Mestilah kedua unsur itu ada. Kalau bakat tanpa usaha, sama aja dusta. Kalau usaha banyak tapi bakatnya nol, juga gak ada faedahnya. Terus saya flasback, duh saya mah novel aja dimaki-maki sama si mufti. Sama si mufti itu teh, anak yang teu nyakola dan tak mengenal tatakrama, apalagi sama orang lain. Mana ada yang mau menerbitkan novel saya kalau begitu. Malah kalau sudah terbit juga mana ada yang mau beli. Atau jangankan membeli, baca ini mah baca, tidak akan ada yang sudi. Bukan maksud meng-under-estimate terhadap diri sendiri, tapi saya lihat kenyataan saja. Karya-karya terkenal macam Eka (Kim) Kurniawan saja tetangga saya gak ada yang tahu, apalagi karya saya meureun? Duh jadi gimana ya? Jadi guru lagi gitu? Iya ah, saya mau ngajar lagi. Udah dulu ya, saya mau nyiapin lamaran kerja. Bissmillah..
Catatan 254 (aku nulis ini tanpa diedit. Yee)
Sering sekali saya ini mendengar istilah: masalah adalah salahsatu ciri dari kehidupan. Di mana pun manusia hidup, pastilah punya masalah. Ya sudah, jadinya saya tidak terlalu kaget kalau hidup saya bergelimpangan masalah. Dipikor secara lebay juga, ini merembet ke arah eksistensialisme. Saya bermasalah, maka saya ada. Hahaha.
Salahsatu contonya adalah dalam dunia karir mengajar saya. Saya ini kan guru. Lulusan sebuah universitas yang tiap tahun sebanyak tiga kali memproduksi ribuan sarjana, puluhan magister, dan beberapa doktor, juga beberapa guru besar sebagai tenaga pendidik di institusi pendidikan formal. Saya salahsatu di antara mereka. Saya akhirnya berhasil menyelesaikan studi saya di universitas tersebut dengan menghabiskan uang dan waktu yang banyak dan dengan sedikit pikiran dan tenaga. Mengingat hal yang demikian, tentu saya berusaha untuk membuat ilmu (gelar) yang saya emban di sana jadi bermanfaat. (Kalau dipikir-pikir, ilmu yang saya dapatkan itu saya manfaatkan untuk diri sendiri karena dapat honor dalam bentuk uang dan kenaikan derajat sosial, serta bermanfaat bagi sekolah tempat saya ngajar karena dengan saya mengajar di sana, itu sekolah jadi tidak kekurangan tenaga pendidik yang katakanlah professional di bidangnya dan yang lebih penting sistemnya yang berjalan dengan normal tanpa kekurangan suatu apa, terutama bisa terhindar dari tuntutan masyarakat dan orangtua siswa baik secara terstruktur maupun urakan.)
Dapat saya catat, kalau saya selalu punya masalah di semua sekolah yang pernah saya masuki. Pun ini jauh sudah tercium sejak saya mengontrak matakuliah PPL di semester delapan. Waktu itu, selain saya setiap harinya selalu ditegur baik oleh guru pamong maupun guru bidang study lain karena cara mengajar saya yang terkesan asal-asalan, saya di akhir masa PPL menutupnya dengan mengencani seorang siswi kelas dua. Saya berumur hampir 23 tahun saat itu. Dan si siswi kurang lebih 17. Dengan usia terpaut kurang lebih enam tahun itu, tidak menghalangi kami untuk saling dekat. Lucu juga waktu dia saya bonceng naik motor sambil dia masih manggil saya bapa. Saya risih dong dengan panggilan itu. Jadinya saya menyuruh dia untuk bisa membedakan  situasi di dalam dan di luar sekolah. Saya kasih saran supaya dia manggil saya âAaâ. Kalau sekarang saya mengingat hal itu, saya merasakan kegelian yang hakiki. Saya memang bejad sih ya. Jadi guru kok malah memacari siswinya.
Saya ini mahasiswa yang sukar menyelesaikan tugas akhirnya kala itu. Di saat teman seangkatan sudah pada daftar S2 dan juga ada yang kawin, serta adik dua tingkat di bawah saya sedang pada sibuk mengejar-ngejar dosen pembimbing guna memperoleh perizinan dan keterangan bahwa skripsi yang dia buat (baca: copypaste) sudah layak sidang, saya malah sibuk nonton film India dan Korea di leptop kecil pemberian ibu saya beberapa tahun yang lalu waktu ibu saya dapat tunjangan guru yang kalau saya sebutkan jumlah uangnya, bisalah buat beli motor matic keluaran terbaru tanpa kredit lengkap dengan segala pernak-perniknya. Nah di saat itulah teman saya berdiri di pintu sambil bercak-pinggang dan ngomong perihal sebuah sekolah yang lagi membutuhkan jasa seorang guru bidang studi yang saya kuliahi. Pikiran saya waktu itu: ah daripada nganggur tiada berujung, lebih baik saya ambil nih kesempatan. Saya kira ini adalah kesempatan buat saya untuk mulai punya uang sendiri dan menghentikan segala aktivitas transfer uang oleh ibu dan bapak saya. Ya, saya bilang. Besoknya saya pergi ke sekolah tersebut setelah menyiapkan beberapa persyaratan. Meski kuliah saya masih terbengkalai, itu sekolah tetap saja menerima lamaran kerja saya. Mungkin sedang membutuhkan sekali pada sosok saya. Mungkin. Saya langsung masuk salahsatu kelas dan ngajar. Tiga kelas saat itu. Dan syukur, semua berjalan dengan lancar. Saya sebetulnya kurang menguasai materi. Tapi mungkin gara-gara saya jago ngeles, jadinya saya kelihatan intelek di hadapan siswa-siswa. Apalagi pemikiran anak SMA itu kan cuma segitu-gitunya, gak mungkin lebih intelek dari saya. Kalau pun ada, tetaplah mereka itu akan merasa hina karena saya punya senjata untuk menanggulanginya. Bagaimanapun, guru itu adalah orang yang pintar, banyak tahu, dan terutama: sakti.
Sampai pada suatu ketika, saya berpapasan dengan beberapa siswa di depan pintu kelas. Mereka sedang mengerubungi sesuatu entah apa. Saya lewat dan mereka menyapa saya sambil bersalaman dan menempelkan punggung tangan saya ke jidat mereka. Sebuah kesalahpahaman terjadi. Saya yang hobinya bercanda sama mereka, tidak sengaja mengangkat tangan tinggi-tinggi dan kelihatan seperti ingin memukul kepalas siswa. Di saat itu terjadi, Tuhan penguasa alam dan kejadian mentakdirkan kepala sekolah lewat dan menyaksikan hal itu. Kepala sekolah menyuruh saya menghampirinya. Saya hampiri beliau. Diajaknya saya gak bersembunyi di belakang dinding kelas. Dan marahlah beliau kepada saya. Saya gak enak hati dong diperlakukan macam begitu. Saya ladeni saja kemarahan beliau. Jadinya kami kelihatan seperti pasangan yang sedang bertengkar. Pertengkaran rumah tangga. Pertengkaran rumah tangga mana yang tak kelihatan chaosnya? Saya pun waktu itu sempat chaos dengan bu kepala sekolah. Chaos sekali. Siswa juga ada yang menyaksikan kejadian itu. Wah benar-benar harga diri saya diinjak-injak waktu itu. Saya sakit hati. Setelah saya mengambil tas, saya datang menemui lagi bu kepala sekolah. Saya sampaikan waktu itu kalau saya mengundurkan diri. Dengan dingin seolah tak ada kejadian apa-apa, itu kepala sekolah bilang ya silahkan saja. Sedikit pertengkaran juga terjadi waktu saya mau cabut itu.
âLulusan taun berapa kamu?â
âSaya belum lulus!â
âOh pantesan! Kuliah di mana kamu?â
âDi UPI!â
âSaya juga dari UPI..â
âSaya tidak tanya.â potong saya, lalu bilang, âmari, assalamualaikum!â Kemudian saya berdiri dari kursi dan berjalan dengan gontai tanpa pernah ada lagi tolehan pada itu muka kepala sekolah. Saya rasa saya berhasil memenangkan pertempuran.
Eh besoknya, murid-murid jadi pada tahu kejadian itu. Mereka langung pada menghubungi saya lewat twitter dan BBM. Keadaan jadi ramai sekali. Saya pun jadi trending topic di itu sekolah. Saya bangga aja. Saya jadi bahan perbiancangan di ruang kepala sekolah, di ruang guru, di kelas, dan di setiap penjuru sekolah. Bahkan katanya sang penjaga sekolah pun sempat mengenangkan saya waktu saya ngasih rokok sebatang pada dia.
Dalam beberapa hari saya selalu berhubungan dengan murid-murid. Mereka sering mengabarkan situasi di sekolah yang berhubungan dengan saya. Kebanyakan dari mereka, menyayangkan kepergian saya dari sekolah mereka. Tak ragu juga mereka menempatkan saya sebagai guru favorit. Guru yang paling bisa mengerti dan penuh pengertian pada murid-muridnya. Mereka berencana untuk mendemo pihak sekolah dan menginginkan saya dibawa kembali ke sekolah sebagai guru dan mengajari mereka di dalam kelas di depan papan tulis putih seperti biasa. Selain itu juga mereka punya rencana kepingin piknik dengan saya dengan syarat saya mesti pakai baju SMA, putih abu. Saya semangat dalam menyambut rencana piknik itu. (Tetapi rencana piknik itu tak pernah terlaksana.) Saya waktu itu berasa jadi artis. Ponsel saya tak pernah sepi. Selalu saja ada yang menghubungi, baik sms, telepon, maupun BBM. Kalau saya men-tweet di twitter, selalu di-favorit atau paling tidak di-retweet oleh itu para siswa. Saya bangga. Seolah saya jadi idola mereka. Salahsatu dari mereka saya dengar sempat merubah cita-citanya. Katanya dia kepingin jadi guru basa Sunda. Aduh.
Sampai pada akhirnya saya bertanya-tanya pada ke mana murid-murid itu karena sudah seharian tidak ada kontak dengan saya. BBM tidak dibalas. Twit-twit saya di twitter tidak ada yang meretweet lagi seperti biasa, apalagi yang mijit tombol favorit. Yang biasa nge-mention saya juga hilang. Setelah saya selidiki (dengan memaksa salahseorang siswa untuk menceritakan apa yang sudah terjadi), saya jadi tahu kalau pihak sekolah mengeluarkan larangan untuk berhubungan dengan saya. Barang siapa siswa yang kedapatan masih suka mention-mentionan dengan saya, apalagi chatingan, akan diganjar hukuman yang sangat berat, yakni di-DO. Yaa maghadiiiirâŚ
Ternyata pihak sekolah sudah lama mengintai pergerakan saya dan murid-murid itu. Salahseorang staff sekolah yang melek medsos, men-stalk akun twitter saya. Setelah cukup bukti, dia print tweet-tweet saya dan tweet murid-murid. Siswa yang kelihatan paling aktif dalam perbincangan twitter itu diberikan teguran keras. Pihak sekolah harus sampai pada perlakuan macam intelejen negara begini guna mengantisipasi hal-hal yang tak diharapkan, mengingat saya dianggap membawa pengaruh buruk kepada parasiswa dalam keadaan psikis mereka yang sangat labil.
Kalau saya lihat-lihat lagi isi perbincangan saya dengan mereka di twitter itu memang kebanyakan tentang keburukan sekolah. Mereka sering mengeluhkan cara belajar di sana. Mereka juga sering membanding-bandingkan saya dengan guru-guru yang lain. Saya kira ini tidak baik. Namun saya tidak langusng menegur mereka. Saya pikir kurang baik juga kalau mereka langsung ditegur ketika menyampaikan kritikan-kritikan mereka yang sangat pedas itu. Rencananya saya akan meladeni keluhan-keluhan mereka dulu sebelum saya bantu mereka mencari solusinya sendiri serta menitik beratkan tentang bagaimana menyampaikan kritikan dengan minimal tak ada pihak yang merasa diserang atau dirugikan. Tapi itu tak keburu. Saya didahului pihak sekolah. Saya tak sempat menunaikan rencana saya. Yang ada dalam anggapan pihak sekolah, saya ini orang goblok dan berbahaya, sesegera mungkin harus dijauhkan dari parasiswa.
Tentu kejadian tersebut menjadi pengalaman saya yang banyak memberikan pelajaran. Ada beberapa kesalahan yang tak boleh saya ulangi supaya kejadian semacam ini tak berulang. Saya benar-benar pahami peristiwa ini. Namun rupanya saya lebih mirip keledai ketimbang manusia. Untuk selanjutnya saya seolah jatuh di lubang yang sama.
Setelah saya akhirnya dinyatakan lulus kuliah, saya pulang ke kampung halaman. Paman saya yang jadi kepala sekolah, menawari saya untuk jadi guru di sekolahnya. Saya tolak. Saya merasa tak enak saja. Hubungan kedekatan sebagai sanak famili sedikitnya membuat saya tak mau menerima tawaran tersebut. Saya memutuskan untuk melamar di sekolah lain yang sudah saya pastikan tak seorang pun keluarga saya yang ada di sana. Saya memasukan lamaran di beberapa sekolah. Semuanya tak ada kabar. Sampai sebelum waktu tahun ajaran baru tiba, saya dapat panggilan di salahsatu sekolah yang saya lamar. Kebetulan itu sekolah adalah bekas sekolah saya dulu. Beberapa tahun yang lalu saya mendapatkan ijazah SMA dari sekolah ini. Mereka sedang membutuhkan seorang guru basa Sunda. Sebetulnya sudah ada guru bidang studi tersebut. Namun karena dinas pendidikan tidak menghendaki satu pelajaran diajarkan oleh guru yang tidak linear, pihak sekolah memutuskan untuk menerima lamaran saya. Secara status, saya lebih berhak atas bidang studi tersebut. Ya sudah, saya menyambut kabar itu dengan gembira. Saya jadi guru lagi.
Satu tahun setengah berjalan. Saya sekarang memutuskan untuk cabut dari sekolah itu. Tentu pengunduran diri saya ini bukan tanpa masalah yang mengiringinya. Satu tahun setengah bagi saya adalah waktu yang cukup untuk tahu dan sadar pada kenyataan tentang bobroknya pendidikan khususnya di daerah saya. Kalau dulu saya mencium kebobrokan sekolah adalah dari pengalaman-pengalaman saya sebagai murid yang hanya fokus pada cara bagaimana seorang guru mengajari murid-muridnya. Tapi sekarang, sesudah saya ikut terlibat lebih dalam pada dunia sekolah ini, barulah saya sadar, keadaan sekolah ini jauh lebih menyedihkan lagi.
Saya tidak akan banyak mengumbar kebobrokan-kebobrokan itu di sini. Cukuplah saya bilang sarana dan prasarana itu sekolah kurang memadai disertai maraknya praktek kecurangan dan keculasan dalam menjalankan amanah yang ada dalam pembukaan UUD 45, mencerdaskan kehidupan bangsa⌠Tentu hal ini sangat saya benci.
Saya akan terlalu jauh dan tidak sanggup kalau sampai mengurusi masalah-masalah itu. Tetapi juga saya punya hati yang terus-terusan gatal oleh sebab diam saja melihat praktek-praktek hina itu berlangsung di depan penglihatan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk sedikit beraksi.
Dalam sela-sela memberikan materi ajar di kelas, sering saya menyampaikan beberapa fakta di hadapan siswa tentang sistem sekolah yang sedang mereka jalani. Sedikit-sedikit saya mulai memberikan provokasi-provokasi. Saya merasa ini perlu saya lakukan, supaya minimal mereka mencari informasi yang sebenar-benarnya sebagai pembanding atas fakta dan opini yang saya berikan. Syukur-syukur mereka menindaklanjuti. Ah tapi rupanya mereka ini jauh dari harapan. Doktrin yang saya kasih, akan selalu terhapus dari memori mereka ketika jam pelajaran saya habis dan digantikan oleh guru-guru yang lain. Seperti ketika mereka manggut-manggut setuju dengan pendapat saya mengenai nilai yang sering oleh paramurid dipuja-puji yang oleh saya mengatakan tak perlulah begitu, karena nilai, layaknya uang, bukanlah segalanya sehingga tak perlu juga ia diburu dengan berbagai cara termasuk dengan nyontek dan begadang semalaman sebelum ujian. Tapi anggukan mereka tak bertahan lama. Kembali mereka akan memenuhi ruang guru guna memastikan nilai mereka di rapot akan baik-baik saja.
Bukan hal itu saja yang saya lakukan. Ketika saya menyaksikan praktek korupsi dan eksploitasi tenaga kerja oleh seorang âAâ guru pembimbing di sebuah organisasi di bawah naungan OSIS, saya melancarkan aksi. Saya tahu ini guru sudah kelewat batas. Enak-enakan saja dia memanfaatkan posisinya sebagai guru pembina ekskul. Banyak uang yang ia gelapkan disertai dengan eksploitasi siswa yang sangat berlebihan. Saya tak perlu menyebutkan detailnya. Cukuplah saya bilang dia itu âAâ dan budak harta, serta tak lupa, gila hormat.
Mungkin ini adalah usaha kudeta yang pertama kali saya lakukan. Saya pakai jurus lama, doktrinisasi dan boikot yang berujung pada perebutan kekuasaan. Tetapi pada prakteknya, saya gagal 100 persen. Saya telusuri hal apa saja yang membuat saya gagal. Ternyata saya terlalu percaya sama orang. Rencana ini mestilah dijalankan dengan sangat rahasia. Kalau bocor, maka bisa langsung digagalkan, mengingat subjek dari aksi ini adalah para siswa yang sungguh-sungguh pikirannya membutuhkan pegangan.
Ketika rencana ini terlanjur bocor, dia (âAâ guru) cepat-cepat mengantisipasinya dengan merebut kembali kepercayaan massa yang mereka-mereka itu adalah bahan kekuatan utama dari rencana boikot saya. Mereka berbalik badan. Saya kaget. Saya menyerah. Tak mungkin saya ambil mereka kembali untuk berbalik badan lagi sesuai dengan sikap mereka yang pertama sebelum pikiran mereka dicemari sang âAâ. Kapasitas mereka sebagai anak SMA saya rasa belumlah baik jika dibingungkan macam begini. Akhirnya saya menyerah dan membiarkan mereka kembali dibohongi dan dieksploitasi.
Ketika saya menyerah, ternyata ada satu siswa yang masih menjalankan operasi (katakanlah begitu). Benarlah jika ada yang bilang setiap orang itu beda-beda. Saya kira akuisisi massa yang dilakukan pak âAâ itu berhasil sehingga semua siswa balik badan. Namun ternyata tidak semuanya. Sisa satu orang. Tanpa sepengetahuan saya, dia melancarkan aksinya seorang diri. Ya namanya juga anak SMA, sematang apapun jalan pikirannya, tetaplah rentan pada kecerobohan. Si anak itu rupanya tak mampu membedakan mana persoalan pribadi dan mana persoalan yang sesungguhnya yang patut ia jadikan sasaran. Maka, ia kena batunya. Jika saya dulu melakukan aksi ini dengan hati-hati dan disertai bahasa yang diedit supaya tidak melebar dari pokok permasalahan dan tidak seolah mencerminkan rasa kebencian, sedangkan si ini anak melakukannya tanpa banyak dipikirkan terlebih dahulu dan sering diungkapkan dengan pembahasaan yang tidak mengalami penyaringan, selain juga objeknya terlalu diperluas dan diperdengarkan pada publik yang terlalu luas juga (sampai orang yang tak besangkut-paut pada persoalan ini ikut menerimanya).
Saya terlambat mengetahui hal ini. Ketika sudah ramai pada membicarakan itu anak, barulah saya mengetahuinya. Saya dipanggil oleh pak âAâ. Saya agak deg-degan juga waktu menerima pesan singkat dari beliau yang mengatakan bahwa saya mesti datang padanya guna mendengarkan kejadian yang sesungguhnya. Di pesan singkat yang agak panjang itu juga beliau sempat memberikan semacam apa ya, kalau boleh saya bilang itu semacam awal dari usahanya dalam meredakan keadaan (meskipun bagi saya itu justru yang membuat api semakin berkobar). Saya bertanya-tanya hal apakah kiranya yang perlu beliau jelaskan kepada saya? Karena apapun dan bagaimanapun beliau menjelaskan, tetaplah saya tidak akan mudah percaya. Persoalannya sudah sangat jelas. Tidak ada kesempatan bagi siapapun (yang mengetahui persoalan ini) untuk merubah kepercayaan atas keyakinan yang sebelumnya ia pegang hanya oleh sebab mendengarkan penjelasan beliau.
Namun bagaimanpun juga, tidak baik kalau saya tidak mengindahkan undangannya. Saya mendatangi beliau dengan perasaan yang tidak menentu. Ketika saya masuk ke ruangannya, saya mendapati beliau sedang duduk. Rupanya sudah sejak beberapa saat yang lalu duduk seperti itu menantikan kehadiran saya. Tatakrama mestilah tetap berjalan. Maka saya salim, menempelkan punggung tangannya pada jidat saya. Dan pembicaraannya langsung ia mulai. Tanpa panjang lebar (awalnya), beliau membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi (kenyataan versi beliau, pak âAâ). Selebihnya, saya hanya mendengarkan beliau menjelek-jelekkan si anak itu tanpa banyak fakta yang saya yakini kebenarannya. Anehnya, beliau seolah tidak mencurigai saya, bahwa sebenarnya si anak itu bisa jadi begitu oleh sebab omongan-omongan saya yang ia terima dan tafsirkan seenak perutnya. Karena, secara tidak langung sayalah penyebab semua ini. Jadi agak pelik ketika beliau menganggap saya yang dipengaruhi si anak itu. Tetapi bukankah sesungguhnya saya yang mempengaruhi itu anak? Di bagian ini menurut saya sedikit lucu juga. Atau jangan-jangan sebenarnya dia mengetahui bahwa saya biangkeroknya, tetapi hanya pura-pura tidak tahu. Tetapi untuk apa berlaku begitu? Saya tidak tahu.
Sementara itu wujud konkret dari batu yang si anak itu terima adalah perlakuan dari teman-temannya yang seolah memperlakukan seorang kriminal yang tadi malam kedapatan maling ayam. Yang lebih parahnya, ada beberapa siswa lain yang tidak tahu samasekali duduk persoalannya tetapi ikut-ikutan menghakimi dan mencaci-maki. Si anak ketakutan mendapatkan perlakuan semacam itu. Ia jadi semakin sering bolos sekolah (sebelumnya juga ia sering mangkir, bukan oleh sebab ia ingin nongkrong seperti anak berandalan pada umumnya, ia tidak sekolah karena tidak mau saja dan lebih ingin diam di rumah). Setelah saya coba hubungi dia, dia mengaku takut untuk datang ke sekolah. Kemudian dia punya rencana untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Padahal dia itu sudah kelas tiga, enam bulan lagi, atau pada kenyataannya hanya tinggal empat bulan lagi, ia akan lulus. Saya menyayangkan rencananya itu. Saya bilang ke dia supaya dipikir-pikir lagi. Menurut saya, anak semacam dia mestilah merasakan atmosfer kehidupan mahasiswa di perhuruan tinggi mana pun asal tidak di kota ini. Dia mesti terdaftar sebagai salahsatu mahasiswa di sana. Persoalan selesai atau tidak perkuliahannya itu merupakan hal yang lain. Dan tidak penting menurut saya. Tetapi sekarang, bagi saya dia sangat penting untuk menyelesaikan SMA-nya. Ini demi perkembangan dirinya. Kecuali kalau dia punya mental yang sangat kuat. Sedangkan yang saya ketahui, mental dia terlalu lembek. Saya memaklumi kondisinya. Anak seumuran itu, saya anggap sudah luar biasa, terlepas dari salah atau tidak kelakuannya itu.
Saya rasa, saya belum cukup untuk meyakinkannya supaya tetap bertahan. Maka, saya mengunjungi rumahnya untuk membicarakan hal ini lebih jauh dengan orangtuanya. Si anak menyambut rencana saya itu dengan gembira, karena dia juga bilang orangtuanya sudah tidak mau percaya lagi. Kedua orangtuanya sekarang lebih percaya pada pak âAâ. Beberapa hari sebelumnya orangtua si anak ditelepon pak âAâ. Ibunya yang menerima telepon itu. Setelah ia tutup telepon, si ibu, berdasarkan pengakuannya pada saya, menangis sejadinya. Wajar sajalah si ibu menangis karena dari keterangan pak âAâ, dia mendengarkan cerita tentang kelakuan anaknya di sekolah. Orangtua mana yang tidak percaya pada apa yang ia dengarkan dari mulut seorang guru tentang anaknya. Jadinya, tujuan saya mengunjungi orangtua si anak itu ada dua: pertama, meyakinkan supaya anaknya itu tetap melanjutkan sekolah, kedua, menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Saya berhasil mencapai dua tujuan saya itu. Orangtuanya kini jadi percaya pada si anak dan bertekad untuk tetap menyekolahkannya. Selain orangtuanya menyampaikan rasa terimakasih atas kesediaan saya datang ke rumahnya, mereka juga meminta saya untuk mencari solusi lebih lanjut. Saya katakan, kalau memang si anak mau melanjutkan sekolah tetapi sedikit pun tidak mau datang ke sekolah, maka satu-satunya cara adalah pindah. Saya ceroboh juga bilang begitu. Karena yang terjadi selanjutnya adalah saya diminta untuk mengurus kepindahan si anak. Saat itu, tanpa pikir panjang, saya menyanggupinya. Dengan demikian, si anak sepenuhnya jadi tanggung jawab saya, kecuali masalah keuangan. Orangtuanya bilang jangan khawatir masalah biaya. Mereka sanggup-sanggup saja, asal saya mampu mengurus semuanya. Mereka tahu bayar dan anaknya baik-baik saja. Ketika saya pamitan mau pulang, berkali-kali orangtuanya mengucapkan terima kasih pada saya sambil menempelkan amplop di telapak tangan saya saat bersalaman. Aduh. Saya tidak enak. Beberapa kali saya tolak dengan hormat pemberian prangtuanya itu. Sungguh tidak enak rasanya hati saya jika menerimanya. Orangtuanya semakin memaksa saya untuk segera mengantongi amplop yang saya yakin itu berisi uang. Ya sudah, saya kantongi amplop itu meski pun sungguh malu benar saya saat itu (kelak uang itu saya pakai juga). Beban semakin bertambah berat saya pikul.
Di jalan mau pulang, saya terus memikirkan bagaimana caranya memindahkan itu anak, terlebih saya tidak tahu bagaimana prosedurnya. Saya berpikiran ini akan susah sekali. Akal sehat saya bilang, mudahkah anak kelas tiga yang sekitar tiga bulan lagi mau ujian nasional langsung dipindahkan. Data-data sudah terlanjur diinput. Nomor peserta ujian sudah diurutkan. Jika anak ini pindah, semua siswa satu sekolah nomor pesertanya jadi berubah. Berubah satu angka. Meski satu angka, tetaplah itu pekerjaan yang memusingkan. Dan justeru karena hanya satu angka, pekerjaan merubah nomor peserta ini jadi sangat menjengkelkan.
Untuk sedikit mengurangi kepusingan saya, saya memutuskan untuk bertanya kepada orang yang saya kira dapat membantu. Wakil kepala sekolah-lah yang saya kungjungi rumahnya (kemarin pagi, wakasek ini menemui saya untuk memastikan nilai anaknya baik-baik saja. Anaknya itu salahsatu anak didik saya). Awalnya saya tidak akan menceritakan terlalu jauh persoalan ini. Niat saya, saya hanya akan meminta wakasek ini, atas nama pihak sekolah, memberikan izin kepada anak yang saya maksud untuk bisa pindah sekolah. Wakasek bilang boleh-boleh saja. Namun ketika beliau tahu kalau si anak itu sudah kelas tiga, dia buru-buru bilang tidak bisa. Saat itulah, saya terpaksa membeberkan alasannya seraya menceritakan segalanya.
Menyesal juga saya telah berlaku begitu. Saya benar-benar ada dalam posisi yang sulit.
Alih-alih memberikan izin, wakasek malah ingin membikin satu pertemuan, mediasi, antara kedua belah pihak yang dalam hal ini adalah pihak si anak beserta orangtuanya dan pihak pak âAâ beserta bala bantuannya (seminggu ini pak âAâ memanggil para alumni dan semua anggota ekskul baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak, ini beliau lakukan untuk menceritakan kejadian sebenarnya yang tentu saja itu hanya versi beliau, untuk kemudian memastikan bahwa para alumni dan semua anggota itu ada dipihaknya seraya siap membela dan ikut membenci si anak). Mediasi tersebut adalah upaya menyelesaikan persoalan ini dengan seberes-beresnya tanpa ada buntut apapun. Katanya, pihak pak âAâ akan menjadikan ini sebagai perhatian atas apa yang sudah beliau perbuat, juga bagi pihak si anak, tetap akan melanjutkan sekolah tanpa harus pindah seraya tak mengulangi perbuatannya yang berlebihan.
Saya tak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Tetapi kalau dipikir agak jauh, betul juga upaya mediasi ini. Saya menganggap ini adalah kesempatan saya untuk bicara lebih banyak tentang sesuatu yang sebenar-benarnya fakta, langsung di hadapan pak âAâ dan di hadapan pihak sekolah. Saya akan membeberkan segalanya. Semuanya. Tanpa tendeng aling-aling apapun lagi. Dan tentunya tetap dengan bahasa yang santun juga enak didengar, jauh dari campuran rasa benci
Ketika mediasi dilakukan, orangtuanya datang ke sekolah. Pak âAâ juga. Semua dipanggil oleh pihak sekolah. Kecuali saya. Saya kecewa. Saya memutuskan untuk pergi ke Bandung, menemui kawan-kawan saya di sana. Sedikit liburan baik buat otak saya. Saya menganggap persoalan ini selesai. Pihak sekolah telah mengambil-alih tanggung jawab saya.
Saya keliru. Persoalan ini masih menyisakan buntut. Yaitu si anak tetap tak mau datang ke sekolah. Saya mengerti kondisi psikologinya. Saya juga membayangkan kalau jadi dia, belum tentu saya bisa hidup tenang, bersiul-siul sambil berjalan di koridor kelas dan melupakan semuanya. Pihak sekolah hanya memberikan izin. Perihal sekolah mana yang dituju, mereka seolah tidak mau tahu. Dalam tidur yang nyenyak di sebuah kontrakan di daerah Setiabudhi, saya mendengar ponsel saya berdering. Saya angkat, dan itu dari orangtua si anak. Mereka menagih janji. Menagih pertolongan saya. Saya jadi pusing. Panik. Tidak tahu harus bagaimana. Saya harap masih ada waktu untuk mencarikan sekolah baru bagi si anak. Sampai sekarang, orangtuanya belum dapat kepastian. Meski begitu, saya tetap mengusahakannya.
Kalau boleh jujur, saya memaksakan diri untuk membantu itu anak sampai sejauh ini. Saya membantu dia bukan dengan niat yang tulus. Bukan saya ingin mendapatkan imbalan dari orangtuanya atas apa yang saya lakukan. Saya tak memikirkan hal itu. Namun, di balik diri saya, ada semacam perasaan. Perasaan takut dianggap tidak bertanggung jawab. Jika dirunut, adalah saya yang paling bertanggung jawab atas apa yang si anak itu alami sekarang. Perasaan ini jauh lebih besar ketimbang rasa peduli saya padanya. Saya sendiri sedih melihat saya ada punya perasaan macam begitu itu.
Sementara itu, di sisi lain, saya seolah telah menjadi orang yang durhaka, culas, dan tidak tahu balas budi. Bagaimanapun juga, saya ini adalah anak didiknya pak âAâ. Saya juga alumni dari ekskul yang beliau bina. Dulu, banyak penghargaan yang saya terima dalam lomba-lomba atas jasa beliau. Beberapa keterampilan dasar berhasil saya kuasai atas jasa beliau juga. Dulu (juga sekarang) saya menaruh hormat yang tinggi kepada beliau. Sampai-sampai saya tanpa sungkan menganggap beliau adalah ayah saya yang kedua. Istrinya saya anggap ibu saya juga. Rumahnya adalah rumah saya yang kedua. Anak-anaknya juga saudara-saudara saya. Pernah saya satu kamar dengan salahsatu putranya waktu kuliah di Bandung. Sering saya tidur di rumahnya sambil makan seenaknya. Sering saya menghabiskan waktu bersama beliau. Sering juga saya mendapatkan pertolongan beliau.
Maka saya tak habis-habisnya bersoal: patutkah apa yang sudah saya lakukan? Benarkah saya ini hanya cari perhatian dan terlalu berlebihan dalam menyikap suatu persoalan? Benarkah saya ini adalah contoh orang yang hanya sok-sokan saja membela kebenaran biar mendapatkan pandangan positif dan pujian? Saya sempat menganggap soal-soal semacam ini tak perlu ada. Pertanyaan-pertanyaan konyol ini hanyalah bias dari ketakutan saya. Saya sudah melakukan apa yang baik dan juga benar. Namun, ketika mengingat bahwa saya tak pernah sekalipun menyelesaikan pekerjaan saya dengan damai tanpa diikuti masalah, sepertinya saya harus menyempatkan waktu yang lama untuk merenungi kembali pertanyaan-pertanyaan itu.
Kecoa Terbang
Saya sangat takut kecoa. Saya punya kisah traumatis. Dulu, sewaktu umur masih anak-anak, saya melihat seekor kecoa berkeliaran di rumah. Saya yang masih kecil penasaran pada hewan kecil itu. Makhluk apa itu? Saya terus memperhatikan ke mana kecoa melangkahkan kaki-kakinya yang lentik itu. Si kecoa memanjat tembok yang berada beberapa meter di depan. Namun tiba-tiba, si kecoa terbang lalu hinggap di hidung saya. Saya menjerit-jerit ketakutan dan semenjak itulah saya membenci kecoa. Padahal, meski si kecoa hinggap di hidung, si kecoa sedikit pun tidak menggigit. Namun saya tahu, kalau si kecoa kaki-kakinya terlalu menyeramkan, dan badannya yang sangat bau berhasil membuat saya muntah-muntah. Suatu saat ketika saya sudah besar, saya tahu kalau kecoa itu ada yang bisa terbang, dan ada yang tidak. Saya tidak begitu mempedulikan perbedaan itu. Saya tidak mau tahu. Bagi saya, kecoa itu terbang dan menakutkan. Sejenak, saya memikirkan sebuah kemungkinan: si kecoa itu adalah utusan Tuhan untuk membuat saya mikir-mikir lagi tentang keinginan saya untuk menjadi seorang jagoan.
Menghayati Substansi
Memang sulit untuk tidak bersikap subjektif. Tapi, begini: Tidak ada salahnya kalau kita pulang ke rumah dan membuka buku pelajaran sejarah SD lalu membaca bab "devide et impera."

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Catatan 8
Kamis, 03 November 2016 Sudah masuk ke awal bulan memang. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya pula kalau saya tak kunjung gajian. Biasanya sekitar tanggal sepuluh. Padahal uang saya sudah habis. Itu ada tiga puluh ribu, tapi itu adalah hasil minta ke orangtua. Keadaan ini membuat saya perihatin karena tidak bisa membeli barang dengan seenak perut. Saya mesti mempertimbangkan banyak hal sebelum mengeluarkan serupiah pun. Saya jadi mikir: sudah punya kerja saja begini melaratnya, apalagi jika nanti sudah tak punya. Memang saya punya rencana untuk resign dari sekolah tempat saya mengajar. Saya nanya-nanya ke Pak Diki (seorang guru TIK yang muda tapi lebih tua dari saya) tentang rencana ini, bahwa bagaimanakah caranya saya mengajukan resign dan kepada siapakah saya harus membicarakan perihal ini selain kepada kepala sekolah karena kepala sekolahnya baru sehingga saya belum kenal dan canggung untuk sekedar bicara. Pak Diki bilang, âke wakasek kurikulum,â dan saya mengucapkan terimakasih. Saya pikir cukup sampai di situ, bahwa Pak Diki seoranglah yang tahu mengenai rencana ini. Tetapi guru-guru yang lain jadi pada tahu tentang rencana resign saya dari sekolah. Saya tidak tahu bagaimana caranya mereka mengetahui ini. Mungkin dalam suatu kali ngobrol, Pak Diki keseleo lidahnya, atau mungkin juga guru-guru itu punya ilmu kebatinan sehingga bisa tahu meski tak diberi tahu (ilmu laduni). Maka setiap saya berpapasan dengan seorang guru atau lebih, mereka akan menanyakan perihal resign saya untuk kemudian mereka memberikan saya semacam wejangan-wejangan. Sampai-sampai ada yang punya inisiatif memberikan wejangan itu lewat whatsapp. Katanya saya mesti berpikir-pikir lagi karena banyak orang yang ingin jadi guru di sini (ini seolah saya mensia-siakan kesempatan), katanya juga semester depan data guru akan diurus langsung dari provinsi sehingga para guru, termasuk saya, akan mendapatkan tunjangan sampai tiga juta setiap bulannya, dan akhirnya mereka sampai menyuruh saya untuk salat istikharah. Kemudian katanya lagi, âidealis boleh. Saya juga orangnya idealis, tapi idealis realistis!â Saya tidak tahu mengapa, kok, saya kepingin ketawa mendengar wejangan-wejangan tersebut. Apakah mungkin hati saya sudah kelewat pekat sehingga menganggap lucu sesuatu hal yang mereka anggap baik dan berpahala karena yang mereka lakukan adalah mengingatkan seseorang yang sedang khilaf dan berusaha menyadarkannya. Saya merasa tak perlu mencari alasan atas rencana saya ini apalagi jika sampai alasan ini diberitahukan kepada mereka. Karena sekalipun alasan itu ada dan saya beritahukan kepada mereka, mereka tidak akan membenarkannya dan tetap memandang saya sebagai orang muda yang meletup-letup, berambisi, idealis, dan ada-ada saja (dan sayanya juga tak perlu pembenaran dari mereka). Saya juga merasa tak perlu mengindahkan wejangan-wejangan yang mereka berikan (dengan sangat bijaknya) kepada saya. Saya percaya bahwa orang mesti hati-hati dalam membuat sebuah keputusan dan mesti juga dibawa dalam berpikir matang-matang, hingga sampai pula kepada salat istikaharah, meminta petunjuk kepada Tuhan Allah swt. Tetapi masalahnya, apakah hal-hal tersebut perlu dilakukan jika yang akan kita perbuat hanyalah semacam mandi membersihkan badan dari segala kotoran?
Catatan 7
Senin, 31 Oktober 2016 Sekarang, ketika saya menuliskan catatan ini, waktu masih pagi, sekitar jam enam. Tidak banyak di dalam ingatan yang dapat saya tuangkan. Karena, hari masih pagi dan kegiatan yang saya lakukan hanya baru bangun pagi dan hal-hal yang sebagainya. Kecuali kalau memang di waktu kemarin atau kemarinnya lagi, tetapi yang layak untuk saya ceritakan sungguh tidak ada. Seperti misalnya ketika kemarin saya pergi ke bandung untuk menjemput si Arfi, lalu pulangya tidak langsung ke rumah karena biar ada alasan untuk tidak pergi mengajar ke sekolah, atau ketika saya pergi ke pesta perkawinan saudara sepupu saya yang kebetulan namanya juga Pupu yang di bibirnya punya tahilalat seperti saya, atau ketika saya beserta Ibu, Bapak, dan Uwak saya pergi menjenguk saudara yang sedang di rawat di rumah sakit karena terkena satu penyakit langka yang kemudian dia diberi pelayanan oleh pihak rumah sakit dengan pelayanan yang sangat buruk dan tidak manusiawi, atau ketika saya mendengar suaranya Rendra Sujono yang mengantarkan Persija kalah dua nol tanpa balas dari Borneo FC, atau ketika saya dengan mata terkantuk-kantuk nonton Jodi Foster dan Antoni Hopkins di leptop Ibu saya yang sebelumnya saya bawa leptop itu dengan cara mengendap-endap dari kamarnya dan kemudian saya tidak tahu bagaimana akhirnya lakon dua manusia itu karena sayanya juga ketiduran dan bangun pukul empat lebih tiga puluh, atau ketika akhirnya saya kembali membuka microsoft word untuk memulai catatan ketujuh ini, semuanya saya kira tak ada yang istimewa sehingga tak perlu saya ceritakan. Bagaimanapun sebuah cerita mestilah menarik. Akhirnya saya merasa perlu di setiap harinya melakukan kelakuan-kelakuan yang seru dan tak biasa, biar ketika saya tuliskan, itu menjadi cerita yang menarik dan layak untuk dibaca oleh teman-teman atau juga oleh siapapun. Atau jangan-jangan, saya tak perlu melakukan hal-hal yang begituan, karena ternyata yang mestinya saya lakukan adalah hanya mengubah cara bagaimana memandangnya, terlebih cara saya menceritakannya.
Catatan 6 (Edisi Sumpah Pemuda)
Jumat, 28 Oktober 2016
Saya tidak begitu tahu tentang sumpah pemuda selain bahwa itu terjadi di tahun 1928 tanggal 28 Oktober. Hanya itu yang saya tahu. Mungkin ini karena angka pada tahun dan tanggal bahkan bulannya sungguh unik (menurut saya). Tanggal 28 tahun 1928 dan di bulan 2 tambah delapan (sama dengan 10). Setelah saya lihat-lihat lagi, ternyata angka 10 adalah maksud dari semua angka tanggal, bulan, dan tahun tersebut. Pertama, di angka 28 yang menunjukkan peristiwa itu terjadi tanggal 28. Kalau ditambahkan ya menjadi sepuluh. Kedua, bulannya bulan Oktober yang merupakan bulan kesepuluh dalam kalender masehi. Itu sudah jelas, tak perlu diberi operasi penambahan. Ketiga, tahun 1928 terbagi menjadi dua kelompok angka, yaitu 19 dan 28. Dari sana bisa kita lihat 1 tambah 9 berapa? Dan seperti kita sudah tahu bahwa 2 tambah 8 berapa? Ya, semuanya merujuk pada angka sepuluh. Bisaan.
Ada maksud apa ini para pahlawan kita?
Tentu saya bertanya-tanya dong. Terserah kalau anda tidak merasa heran atau menganggap ini tak penting. Bagi saya ini penting mengingat segala hal yang terjadi (khususnya yang disengaja oleh campur tangan manusia) memuat tanda-tanda yang mesti digali supaya kentara maknanya.
Jadi mari kita amati!
Pertama-tama, saya mencari-cari keterkaitan yang memungkinkan 'sepuluh' itu mewakili sesuatu yang lain mulai dari Oktomaniani yang pastinya lahir bulan Oktober dan bernomor punggung 10 di timnas rezim Alfred Riedle yang kebetulan itu tahun 2010, juga jumlah malaikat yang wajib diketahui ada sepuluh, serta dasadarma pramuka yang jumlahnya sepuluh, dan tak ketinggalan Mbah Tejo yang gandrung pada sosok Rahwana yang memiliki muka sampai sepuluh rupa. Tapi saya kira, dari hal-hal tersebut, tidak ada yang relevan dengan peristiwa Sumpah Pemuda, sampai akhirnya saya agak sedikit putus asa.
Seiring berjalannya jam dinding di kamar saya, saya akhirnya nemu. Angka sepuluh itu, yang akhirnya nyangkut dalam otak saya, adalah tentang nilai. Dulu, sebelum penilaian skala 100 diberlakukan oleh mentri pendidikan, penilaian skala 10-lah yang berlaku. Saya masih ingat betapa senangnya hati saya ketika dapat nilai sepuluh, seolah saya adalah anak yang paling pintar dan bisa menjawab pertanyaan apa saja. Maka mungkin itu merujuk pada kesempurnaan. Ah tapi kalau para pahlawan kita dulu hanya bermaksud pada kesempurnaan, asa tidak mungkin karena hal itu terlalu dangkal untuk disembunyikan dalam sebuah tanda.
Baiklah saya akan gali lagi, siapa tahu ada maksud lain.
Angka sepuluh (10) itu terdiri dari dua bentuk, yang satu panjang dan yang satunya lagi berbentuk lingkaran. Ini merujuk pada apa yang dipunyai oleh laki-laki dan perempuan, yang satu panjang (punya laki-laki) dan yang satunya lagi lingkaran (punya perempuan). Adakah teman-teman sepikiran sama saya kalau ini bermaksud pada berkembang biak? Oh mungkin saja, karena, kemerdekaan bisa lahir atas terwujudnya nasionalisme. Sementara rasa naionalisme ini mestilah disebarkan. Nah, daripada susah-susah mengajarkan nasionalisme kepada orang lain, lebih baik terapkanlah nasionalisme kepada anak-anak kita karena itu lebih mudah. Maka dalam rangka mempermudah penyebaran nasionalisme, buatlah anak sebanyak-banyaknya. (Dan saya jadi curiga, peribahasa âbanyak anak banyak rejekiâ pertama kali dicetuskan pada acara sumpah pemuda dan disebar-luaskan lewat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah sampai saat ini).
Saya merasa puas atas penggalian makna yang sungguh tak terduga ini. Maka dengan ini, saya hentikan pencarian dan penggalian makna dari angka sepuluh (10) yang dirujuk oleh para pahlawan kita dalam kongres pemuda 88 tahun silam. Bagaimana dengan anda?
Catatan 5
Senin, 24 Oktober 2016 Tadi malam saya tidur. Di dalam tidur, saya bermimpi. Di dalam mimpi itu, saya sedang tidur dan hampir bermimpi basah. Hampir. Ke-hampir-an dan mimpi-dalam-mimpi itu membuat saya bersedih hati dan teringat akan kata-kata Bapak dan Ibu saya mengenai pernikahan. Kata orangtua saya, usia ideal untuk menikah itu 25-an. Orangtua saya bilang begitu ketika melihat saya sedang melipat baju-baju yang sudah saya cuci dan jemur sendiri. Tentu saya menganggap orangtua saya secara tidak langsung menyuruh saya untuk segera menikah. Kalau suruhan-suruhan secara langsung sih itu sudah sering, apalagi itu dikemas lewat sindiran-sindiran, semisal ketika saya sedang mencuci baju, Bapak datang menghampiri sambil bertanya: âNaha atuh nuju angkat ka mana istrina?â atau yang lebih menyedihkan ketika Bapak bilang begini ke Ibu: âAri si Okeu teh bogoheun ka awewe teu nya?â Saya hanya bisa ketawa kecil saja, semacam ketawa formalitas yang timbul dari hati saya yang sesungguhnya sudah porak poranda (red: peurih). Suruhan-suruhan semacam itu bukannya saya tidak mau segera mengindahkannya. Saya harus kawin dengan siapa di tengah keadaan saya yang serba rapuh mental ini? Saya tidak takut tidak makan dan juga tidak takut pada persoalan-persoalan perekonomian selepas saya punya istri dan punya anak nanti. Saya terlanjur menjadi orang yang percaya bahwa pintu-pintu rezeki begitu terbuka lebar bagi yang percaya dan tak sungkan untuk dengan mantap melangkahkan kakinya memasuki pintu-pintu itu. Namun sekali lagi, masalahnya siapakah gerangan wanita yang masih mempunyai kepercayaan semacam itu ketika ia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang dari sana dapat diterawang tentang suramnya masa depan. Belum lagi masalah-masalah lain yang menyangkut urusan diri sendiri tak kunjung saya temukan pemecahannya. Saya harus selesai dengan diri saya sendiri sebelum saya beranjak lebih jauh masuk ke dalam skala hidup yang lebih besar. Saya kira usia ideal untuk menikah itu, yang menurut orangtua saya 25, (harus) mengalami konversi disebabkan perbedaan pertumbuhan cara berpikir dan pengalaman masing-masing individu. Saya jadi ingat istilah âkedewasaan tidak ditentukan umur.â Jadinya tidak mesti di usia 25. Lima belas tahun pun kalau ia sudah mumpuni, kenapa tidak. Begitu pula jika usia di atas 25 dan kelakuannya masih kekanak-kanakan (belum insyaf), tak patut dipaksakan untuk menikah sekali pun ia sudah 30 atau 40 tahun, terlebih jika belum ada jodohnya, masak ia mesti kawin sama lubang pintu. Ini biar hukum menikahnya juga jadi ideal, yaitu sunnah. Karena juga, bagi saya menikah adalah sebuah titik kulminasi dari berbagai pencapaian dan pencarian orientasi hidup, tetapi belum masuk ke dalam hakikat kenyataan yang sesungguhnya (semacam khatam intro). Jika tidak, pernikahan hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru, rumit, dan seolah tak terpecahkan.
Catatan 4
Sabtu, 08 Oktober 2016 Hari Sabtu itu saya mengunjungi kampus STKIP Garut yang tengah mengadakan Lomba Baca Puisi se-Priangan Timur. Saya datang ke sana terlambat. Acara lombanya sudah selesai, tapi pengumuman juaranya belum dilaksanakan. Ah, tidak apa-apalah, pikir saya, pengumuman juara juga menarik untuk disaksikan, bahkan lebih menarik ketimbang lombanya sendiri. Ketiga dewan juri sudah tiba di mejanya masing-masing dan sudah bersiap pula untuk segera mengumumkan juara. Tapi sebelum itu, ketiga dewan juri, yang notabene adalah seniman, yang kesatu Gusjur Mahesa, seorang aktor kelas atas dan juga penyair pendatang baru yang baru melahirkan sebuah buku kumpulan puisi âMending Gelo daripada Korupsiâ, yang kedua Acep Z Noor (bukan saudara Arifin C Noor) seorang penyair juga pelukis ternama, dan yang ketiga adalah Godi Suwarna yang orang tidak ragu-ragu lagi menjuluki beliau dengan julukan Kang Godi, diminta panitia untuk mempertontonkan kebolehannya dalam berkesenian di atas panggung. Mereka pun mengamini permintaan panitia tersebut, karena meskipun tidak diminta, mereka, atas inisiatif sendiri juga disertai dengan keikhlasannya akan naik panggung juga. Salut saya.. Giliran pertama jatuh kepada penyair baru kita, Gusjur Mahesa. Beliau lantas naik dengan yakinnya ke atas panggung. Beberapa puisi diambilnya dari buku ciptaannya sendiri dan yang paling menarik adalah puisi terakhir yang beliau bacakan. Puisi terakhir itu judulnya âMending Gelo daripada Korupsiâ. Terpujilah Gusjur Mahesa ini. Beliau membacakan puisi tersebut dengan penuh penghayatan dan ekspresi yang meledak-ledak luar biasa, yang di dalam puisi tersebut beliau beberapa kali mengucapkan ujaran-ujaran yang dapat kita temui di obrolan sehari-hari, misalnya: âGoblog siahâ, âAnjing siah!â, âTai itu Bau, Rujit anjing!â dan seterusnya. Saya terharu dan salut sama mas Gusjur ini. Bagaimana tidak, Gusjur mengucapkan kata-kata barusan dengan lantang dan penuh penekanan dan penghayatan, kendati di hapadan Mas Gusjur tengah duduk anak-anak SD yang didampingi oleh guru sekolahnya. Yang saya sayangkan adalah kenapa ada beberapa guru yang mengajak keluar anak didiknya di tengah-tengah Gusjur mengumandangkan puisinya yang luar biasa itu? Ah, Padahal puisi Mas Gusjur itu bagus lho! Tapi untungnya ada juga guru dan siswa yang tetap bertahan di kursinya masing-masing sampai puisi mas gusjur selesai dibacakan, dan bahkan ada yang bilang hore kegirangan. Giliran kedua adalah Acep Z Noor. Kang Acep juga membacakan puisi dari buku puisi yang beliau ciptakan sendiri. Berbeda dari Mas Gusjur, Kang Acep membacakan puisinya dengan tidak banyak ekspresi. Datar-datar saja dan terkesan asal-asalan saja. Tentunya beliau tidak asal-asalan. Saya pribadi yakin kalau beliau membacakan puisinya juga dengan penuh penghayatan tapi dengan cara yang berbeda. Namun sayang, di puisinya kang acep itu tidak ada âanjingâ-nya seperti puisinya Mas Gusjur. Ucapan terimakasih dari kang Acep mengakhiri puisinya dan langsung disambut oleh tepuk tangan penonton yang membahana. Di antara yang bertepuk tangan itu, ada beberapa anak SD, SMP, dan SMA. Saya salut pada mereka, karena saya pikir, di usia mereka yang masih belia itu (apalagi yang SD) mampu memahami dan menikmati puisi Kang Acep yang saya mah tidak mengerti samasekali. Giliran terakhir yang merupakan saya tunggu-tunggu, Kang Godi, sang maestro sajak Sunda. Kang Godi naik ke atas panggung dengan semangat sekali meski kita semua tahu kalau beliau itu sudah udzur dan sakit-sakitan. Sama halnya seperti kedua dewan juri yang barusan tampil, Kang Godi juga membacakan puisi miliknya sendiri. Dengan badan kecil dan rambut yang hampir menyerupai wig padahal rambut asli itu, beliau membacakan puisi dengan indah sekali. Ketiga dewan juri itu sudah selesai mempertunjukkan kebolehannya masing-masing dalam membaca puisi. Mudah-mudahan pembacaan puisi yang dilakukan oleh ketiga dewan juri tersebut bisa memberikan suri tauladan dan contoh yang baik dalam membaca puisi yang baik dan benar kepada anak-anak sekolah yang ingin mahir membaca puisi. Mungkin mudah-mudahan juga ada dari anak-anak sekolah itu yang berpikiran bahwa salahsatu cara untuk membaca puisi yang bagus itu adalah dengan membaca puisi ciptaan sendiri. Tidak panjang lebar lagi, panitia akhirnya mengumumkan juara-juaranya. Para peserta beserta para pendampingnya berharap-harap cemas mendengarkan pengumuman juara. Setiap nama yang dipanggil, diikuti oleh sorak sorai gegap gempita guna menyambut sang juara. Sorak sorai itu berasal dari teman-teman dan para pendampingnya sendiri. Maka jika nama orang lain yang dipanggil, tentu mereka tak ikut serta bersorak sorai, cukup dari teman-teman dari si nama yang dipanggil itu saja. Yang dipanggil jadi girang, dan yang tidak, kecewa. Maka peristiwa yang terjadi selanjutnya adalah: banyak peserta yang tadinya berantusias sekali sekarang jadi murung dan tampak kecewa karena rupanya dia tidak mendapatkan kenyataan yang sesuai dengan apa yang dia harapkan. Kasihan. Dan yang kebetulan mendapatkan juara, semringahnya tak juga reda. Ia kelihatan sangat ceria. Sambil menerima ucapan selamat dari orang lain, dia juga sibuk berpotret ria dengan piala juara di tangannya. Nah di sebelah sini, saya jadi bingung sendiri. Karena,,,,,,, Kamu tahu tahlilan gak? Iya itu acara berdoa bersama di sebuah rumah yang dilakukan tujuh hari berturut-turut setelah meninggalnya si pemilik rumah. Tahlilan itu kan awalnya merupakan salahsatu strategi para wali dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Sebelum Islam masuk, masyarakat kita didominasi oleh agama Hindu. Kalau saya tak salah, waktu itu masyarakat mendoakan orang yang meninggal dunia dengan berkumpul di sebuah rumah (atau tempat ibadah?) untuk memanjatkan pujian-pujian kepada dewa-dewa mereka selama tujuh hari berturut-turut. Begitu para waliyullah datang, acara puja-puji kepada dewa itu tidak langsung ditinggalkan, tetapi dijadikan alat dakwah dan strategi syiar Islam. Yang tadinya kalimat-kalimat pujian kepada dewa, sedikit-sedikit diganti dengan kalimat-kaliamat yang diambil dari ayat-ayat al-Quran dan kalimat tahlil. Lama-kelamaan acara puja-puji itu berlangsung dan secara bertahap mengalami perubahan hingga akhirnya acara puja-puji itu menjadi full berisikan kalimah-kalimah yang datang dari Islam dan dinamakan tahlilan dan malah banyak yang beranggapan kalau acara tahlil itu hukumnya mendekati wajib. Hingga sampai pula tahlil itu menjadi bahan perdebatan dan pertentangan. Bahkan tak sedikit para orangtua memasukkan setuju/tidak setuju tahlil menjadi salahsatu kriteria utama menerima calon suami/istri dari putra/putrinya. Kadang-kadang saya ingin menemui para wali di zaman dahulu untuk saya bawa ke zaman sekarang untuk menjelaskan duduk perkaranya dan mudah-mudahan pertentangan dan salah kaprah segera mereda. Tapi kan itu tak mungkin.. Jika tahlil itu strategi para wali dalam penyebaran Islam, maka puisi juga sama demikian, menurut saya. Saya berpikir kalau lomba baca puisi itu adalah salah satu strategi dari para seniman untuk mengenalkan âpuisiâ kepada masyarakat, dengan harapan, lambat-laun masyarakat dan terutama anak-anak sekolah jadi mencintai âpuisiâ. Saya bertanya-tanya sendiri kenapa orang mesti kenal âpuisiâ? dan saya menjawabnya sendiri: karena mudah-mudahan dengan berpuisi orang jadi semakin lembut hatinya, jadi semakin peka perasaannya, jadi semakin meningkat intelektualitasnya, serta jadi semakin memahami bagaimanakah sesungguhnya hakikat dari kehidupan manusia yang rumit ini, hingga akhirnya hidup ini jadi tentram, nyaman, dan asyik. Tentunya hidup tentram, nyaman dan asyik yang saya maksud tidak diwarnai dengan kegiatan harap-harap cemas menanti-nanti siapakah pemilik piala kuning keemasan yang harganya paling dua puluh ribuan itu. Dan sepertinya, saya harus segera menemui para seniman untuk memberi tahu pada mereka tentang strategi pengenalan puisi yang kurang berjalan dengan baik. Tapi ke siapa ya? Ke si Mas Gusjur Mahesa gitu? Ah kalau saya bilang masalah ini ke si mas gusjur, palingan dia mah bakal jawab gini: rujit anjing!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
Catatan 3
Kamis, 08 September 2016 Tadi malam, penghakiman atas draft satu saya sudah dilaksanakan. Mungkin itu berhasil membuat saya menjadi murung untuk beberapa hari ke depan. Tapi tidak apa-apa-lah ya. Saya sudah tahu bahwa hal yang seperti malam tadi itu bakal terjadi. Yang penting mudah-mudahan mereka tetap ingin bermain dengan saya dan meminjamkan barang-barangnya. Dan akhirnya saya akan memulai bikin draft dua. Banyak yang harus saya buang. Kiranya 124 halaman draft satu itu bisa dibuat cerpen dengan sebanyak kurang lebih 2000 kata. Tentu saya akan tetap membuat itu jadi novel, tidak ganti wahana. Tinggal sekarang bagaimana caranya supaya saya punya pikiran yang lebih mumpuni untuk bikin itu novel jadi padat tanpa menambah cerita yang bersifat dibuang-sayang. Kita tunggu saja. Hua ha ha ha ...
Dear diary
Senin, 29 Agustus 2016 Sekarang jam setengah empat lebih dua menit. Meski ini masih subuh, saya tetap dibilang bagun kesiangan. Rencananya saya mau bangun jam satu lebih lima belas pas kickoff Barca. Tapi alarm tidak mempan. Saya siuman dua jam kemudian ketika pertandingan baru saja diselesaikan. Sungguh bukan main saya kecewa. Tapi tidak apa-apa. Sekarang ada waktu sekitar setengah jam menuju adzan subuh. Akan saya gunakan untuk menulis. Mudah-mudahan cukup.
Belum ada kemajuan apa-apa dari usaha saya dalam mencapai mimpi saya itu. Karena apa? Karena sayanya juga tidak melakukan apa-apa. Sejak kemarin saya hanya membaca beberapa buku dan menonton sebuah film dengan subtitle bahasa Inggris. Saya memutuskan untuk tidak dulu memusingkan diri saya dalam pengerjaan novel pertama saya itu. Selain karena masih menunggu penghakiman dari si Mufti, juga saya masih ingin menikmati masa-masa penenangan otak dan batin. Dua bulan sudah saya dedikasikan untuk menulis draft satu itu. Begitu kelelahan saya membuatnya. Ini semacam refresh mental. Atau mungkin juga seperti masa iddah atas keberpikiran saya yang banyak dijamah oleh keblingeran saya sendiri.
Paling kemarin itu saya banyak diskusi dengan beberapa teman tentang seputar penciptaan karya. Ada salahsatunya Mang Acuy. Dia mahasiswa S2 UNPAD jurusan Kajian Budaya. Sekarang lagi ngurus-ngurus tesis katanya. Sebetulnya diskusi yang kami lakukan ini lebih seperti kuliah karena si Mang Acuy ini ngomongnya dominan dan saya lebih banyak memperhatikan. Hanya sesekali saya menanggapi dan mengajukan pertanyaan. Salahsatu yang banyak disebut dalam diskusi itu adalah âStruat Hall, Political Reprecentationâ. Katanya itu buku yang mesti dimiliki oleh seniman. Isinya menjelaskan hal-hal seputar penciptaan karya seni dan politik seni. Buku ini muncul di tengah-tengah perbincangan ketika kami membahas tapal batas konstruksi, rekonstruksi, dan dekonstruksi. Lalu dari sana masuk ke contoh-contoh kasus yang memuat perkara rekonstruksi dan dekonstruksi. Yang paling menarik itu di dekontruksi. Pembongkaran dan pemberontakan terhadap pakem-pakem penciptaan karya seni yang sudah begitu mantap diimani oleh banyak seniman. Pertanyaan Mang Acuy: Kenapa orang harus pusing oleh pakem-pakem itu? Sebenarnya hal ini sudah dari dulu saya pikirkan. Seorang seniman, baik itu penulis atau perupa atau apapun itu, dalam penciptaan karyanya, selalu mempertimbangkan titik temu antara idealisme, pakem, dan pasar.
Tidak terlalu banyak yang saya pahami dari diskusi itu. Paling hanya beberapa saja, di antaranya, pemberontakan atas pakem-pakem dan konvensi, penghindaran dari penciptaan karya seni yang bersifat âonaniâ, serta karya seni dan identitas kesenimanannya.
Mungkin catatan untuk kali ini saya cukupkan sekian dulu. Ada sekitar lima belas menit sebelum adzan dikumandangkan. Saya mau baca cerpennya Edgar Allan Poe,The Black Cat. Buku boleh minjem dari si Arfi.