Allah adalah PENCIPTA terbaik.
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Japan
seen from United States
seen from Chile
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from China
Allah adalah PENCIPTA terbaik.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Negeri kita memang (sedang) tidak baik-baik saja.
Kemarin dan hari ini, Indonesia benar benar terbukti tidak baik-baik saja.
Setelah sebelum-sebelumnya kita bersabar, akhirnya baterai kesabaran tersebut habis juga. Pecah tumpah ruah hari ini..
Bercandaan meme untuk pindah negara rasanya sudah tidak lucu, bukan jahat tapi menjadi perkataan yang “bisa gak sih pindah beneran?” benar-benar menarik dalam artian sebenarnya, akibat rakyat yang sudah benar-benar lelah.
Banyak dari kita semua sudah memprediksi kekacauan ini akan terjadi, karena jika kita lihat pengalaman sebelumnya bahwa pemerintah dan “kebanyakan” DPR tidak perduli dengan apa yang menjadi kepentingan rakyat dan pada akhirnya menumbalkan kita semua yang ada di lapangan, ya kita rakyat Indonesia. Berulang kali terjadi adu domba antara polisi, tni, mahasiswa buruh. Sedang mereka duduk manis di kursi empuk dan ruangan berAC.
Perjuangan ini memang milik kita para pemuda, seperti lagu-lagu yang kita gaungkan dimasa menjadi mahasiswa baru, seiring waktu saya benar memahami esensi dari lagu-lagu tersebut. lagu buruh tani, totalitas perjuangan, dan juga seruan seruan Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! memang haruslah ada dalam diri kita, gairah-gairah nasionalisme sebagai Rakyat Indonesia.
Dan benar juga faktanya, mereka yang duduk di kursi-kursi perwakilah rakyat adalah mereka-mereka yang dipilih rakyat, meski ada karena uang, terpaksa, dan lain hal. Mereka yang kita bilang menjabat “asal-asalan” mungkinkah karena rakyat juga memilih mereka dengan “asal-asalan?”
Ada pepatah dari pak Mardani
Kita boleh marah dan kesal menyuarakan #mositidakpercaya pada pemerintah, tapi pastikan kita pilih mereka yang amanah pada periode selanjutnya.
Menyalakan lilin-lilin kecil lebih baik daripada merutuki kegelapan
Oh iya saya hanya berpendapat, bahwa dalam permasalahan, rakyat tidak boleh hanya bertindak represif tapi juga harus proaktif. kita harus berusaha memberikan sebuah solusi jangka panjang.
Hidup Mahasiswa ! Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Perempuan Indonesia!
Video Oleh @rdnwra @mahatiir
Bandarlampung | sarabita
Why Starting Is Easier Than You Think
The barrier to trying an AI girlfriend feels bigger than it is. On SweetDream you're a few simple choices away from a companion who already feels like someone, no learning curve, no friction.
And once you start, the quality keeps you going. The chat is warm, the visuals are lovely, and the deeper features are there when you want them. sweetdream.ai makes the first step the easy part.
Sudah hilangkah nilai Nasionalisme mu bapak/ibu DPR?
Tidak tahu sampai kapan negeri ini akan mempunyai pahlawan-pahlawan bangsa, layaknya masa kemerdekaan dahulu kala.
Tidak malu kah bapak & ibu dengan semua darah yang tertumpah demi memajukan, membebaskan, memerdekakan bangsa ini dari penjajah? Tidak malu kah bapak & ibu, jika anakmu, cucumu bahkan semua keturunanmu tahu bahwa engkau salah satu perusak negeri ini?
Tidak kah anda memikirkan sedikit saja kepentingan bangsa ini, daripada kepentingan egomu, golonganmu & dompetmu itu....
Saya tidak pernah tahu bahwa ada pahlawan di era saat ini, yang saya tahu pahlawan di Indonesia hanya ada pada zaman kemerdekaan...
Mereka rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga bahkan nyawanya demi kemajuan negeri ini.. Lantas mereka sampai saat ini dikenang oleh keturunannya bahkan kami sebagai generasi pelanjut mengenang dan menghormati jasa-jasa mereka.
Sedangkan anda Bapak & ibu DPR yang terhormat ...
Apakah yang nanti akan kamu ceritakan ke semua keturunanmu?
Apakah yang nanti akan kamu banggakan setelah dibalut sehelai kain putih?
Apakah yang nanti akan orang bicarakan tentang dirimu?
Apakah yang akan kamu pertanggung jawabkan kepada Sang Pencipta?
Sia sia semua yang kau lakukan saat ini
Sia sia semua uang yang kau rauk saat ini
Sia sia semua jabatan yang kau capai saat ini
Jika semuanya tidak bermanfaat untuk kemajuan negara ini....
Kau akan punah layaknya debuh dibawa oleh angin...
Asing, Aseng dan Alien
Indonesia sebagai sebuah bangsa besar itu kurangnya cuman satu, yaitu pede. Sebenarnya apa sih yang nggak bisa dilakuin sama orang Indonesia? DI saat orang luar baru nemuin MRI sama mesin rontgen, orang-orang pintar kita udah bisa kasih masuk paku dalam perut orang lain tanpa operasi. DI saat NASA berlomba-lomba cara kehidupan lain di luar angkasa, kita malah hidup bareng dengan alien. Beneran, dengan kulit kuning, cadel, mata semu sipit, dan anehnya ngomong jowo medhok. Masih mau bilang Indonesia itu kurang keren?
Cerita ini bukan tentang pseudo-sains makhluk lain di luar kehidupan di bumi. Apalagi kisah motivasi tentang orang Indonesia yang melanglangbuana sampai ke planet tetangga. Bukan, boro-boro ke luar angkasa, wong buat bayar ongkos pesawat saja mboten sanggem. Tapi saya curiga bukan itu alasannya, orang kita terlalu rendah hati nan tidak sombong saja. Hingga tak perlu jauh-jauh sampai ke Mars sana buat meet up sama alien. Cukup pergi ke warung kelontongan, di sana Anda akan bertemu alien, Koh Ibun namanya.
Etnis Tionghoa atau warga negara lain yang kebetulan lahir dan tinggal di Indonesia memang selalu dijadikan sasaran empuk bagi nasionalisme. Entah karena sentimen rasisme atau memang nyatanya warga asing selalu unggul dalam urusan bisnis di negeri kita. Sentimen ini ditambah dengan bumbu nasionalisme yang menurut saya entah, terlalu melayu rasanya.
Wacana nasionalisme memang telah diusung sejak masa kolonial lalu. Trilogi tanah air, bangsa dan bahasa sebagai sebuah kesatuan nyatanya mampu mendongkrak cikal bakal nasionalisme sebagai perasaan sama yang dimiliki masyarakat saat itu. Perasaan ini yang kemudian membangun sebuah counter hegemony –meminjam istilah Gramscian-- atau serangan balik atas narasi kolonialisme Belanda saat itu. Orang Belanda dianggap sebagai asing, yang lebih superior dibanding orang Jawa, Sumatera, Bali yang memang pada saat itu ada dalam kondisi terjajah. Perlu disebutkan pula embrio nasionalisme ini lahir dari orang-orang etnis lain yang kebetulan menetap di daerah itu. Misalnya saja etnis Arab dan Cina yang sudah lama menduduki Aceh sebagai pedagang. Kesemuanya bergabung melalui kata pribumi sebagai identitas nasional mereka. Orang pribumi tadi meski belum bertatap muka satu sama lain, kemudian bahu membahu mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Dan dengan berlandaskan semangat yang sama, kemudian membuat sebuah Negara sebagai institusi politik yang melindungi semangat nasionalisme tadi.
Namun wacana nasionalisme tadi membangun persepsi superior-inferior yang mengakar hingga saat ini. Pada masa orba, diperburuk melalui manifestasi tidak sedap pada warga Cina. Seperti yang disebutkan dalam beberapa keputusannya, Soeharto menanamkan persepsi bahwa nilai agama, politik dan kebudayaan etnis Tionghoa yang mengakar pada negeri asalnya dapat berdampak buruk bagi psikis dan moral bangsa. Akhirnya disematkanlah kata Cina sebagai ganti Tiongkok atau Tionghoa. Dari sanalah represi sistematis mulai bermunculan sebagai perwujudan kebencian orba terhadap etnis ini.
Masalahnya sederhana, etnis Tionghoa saat itu memang maju dalam bidang ekonomi, dan ini adalah satu-satunya alasan kenapa mereka dianggap berbahaya. Maka muncullah dogma khas orba ini ke dalam pikiran masyarakat kita saat itu. Nasionalisme bergeser pada anggapan pure blood dan mudblood gaya Harry Potter. Orang yang identitas kepribumiannya lebih kental, dan dicirikan oleh Soeharto saat itu mengklaim bahwa etnis Tionghoa akan menjadi penjajah selanjutnya bagi Indonesia. Seperti api dalam sekam, akhirnya meletuslah penjarahan besar-besaran pada etnis Tionghoa pada akhir rezim.
Mbah Gusdur-lah yang kemudian mengembalikan cita-cita nasionalisme ke dalam sifat multikulturnya. Ditetapkannya imlek sebagai hari libur keagamaan lain membuat dasar bagi konghucu menjadi agama resmi nasional sebagaimana Islam, Kristen dan lainnya. Batas-batas kultural yang tebal pada masa orba kemudian lambat laun menipis, seiring dengan persepsi warga Tionghoa yang merasa nyaman tinggal di Indonesia.
Namun kemudian, wacana superioritas dan anti etnis Tionghoa ini kemudian muncul kembali sebagai senjata politik. Sentimen ini didasarkan pada realitas bahwa masyarakat anyar Tionghoa beredaran di berabagai institusi perusahaan. Di satu sisi, hal ini jelas mengancam ekonomi kita jika memang benar-benar kalah bersaing. Namun di sisi lain wacana anti Tionghoa ini yang kemudian menyeret kita pada nasionalisme banal. Nasionalisme banal dapat diartikan sebagai “nasionalisme sehari-hari”, praktik rutin yang kerap abai dari perhatian dan direproduksi secara terus-menerus. Penekanannya ada pada kuantitas, bukan kualitas nasionalisme-nya (Sammy Khalifa; 2015). Akhirnya nasionalisme kembali terseret pada jurang superior-inferior atau pure blood dan mudblood tadi.
Nasionalisme abal-abal inilah yang kemudian membentuk sebuah persepsi bahwa yang Tionghoa adalah anti nasionalis dan sebaliknya. Padahal kita tahu, cita-cita nasionalisme sebagai imagined community (Anderson; 2006) berasal dari kesalingmilikian multikultur seperti trilogi Sumpah Pemuda tadi. Cita-cita nasionalisme awal ini seharusnya tidak menyeret kita pada persepsi banal, replikatif dan cenderung digunakan sebagai alat hegemoni saja.
Jika kita siap menyuarakan anti Tionghoa, bisakah Anda merelakan siomay, bakpao, kwetiau? Berat rasanya kehilangan makanan itu, apalagi jika harus meninggalkan pas lagi anget-angetnya. Atau atlit-atlit bulu tangkis berwajah sipit yang menyumbang banyak medali untuk kita?
Bukankah kita selalu butuh yang ‘asing’ sebagai penanda keberhasilan nasional kita? Nasionalisme kita selalu terpacu oleh bumbu asing. Objek wisata hebat karena sering dikunjungi warga asing. Pagelaran budaya terasa megah karena berada di panggung internasional. Makanan enak pun karena diakui oleh chef asing. Tidak bisakah kita menemukan rasa nasionalisme asli dari diri kita sendiri? Saya rasa kita memilikinya, tapi kita belum sempat mengakuinya.
Atau bisakah kita melupakan persoalan ini saja, dan tetap berkawan baik dengan etnis mana saja lalu kemudian menganggap itu sebagai strategi meliyankan yang bukan pendukung capres saja?
2019

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bela Negara dan Caci Maki Kepada Negara Lain? Kita Belum Dewasa
Saya rasa akhir-akhir ini Indonesia sedang cukup meradang dengan apa yang dilihat dan dirasakan pada ajang SEA Games tahun ini. Mulai dari bendera yang dicetak terbalik oleh pihak Malaysia (dan tentunya mereka telah meminta maaf secara resmi), lalu beberapa pertandingan yang katanya dicurangi (soalnya, saya kurang paham benar bagaimana peraturan dan penliaian dalam cabang-cabang olahraga tersebut, serta hanya menonton beberapa yang menurut saya menarik, dan karena saya kurang suka dengan sepakbola, jadi saya tidak menonton sepak bola).
Seperti post saya sebelumnya, soal betapa mudahnya Netizen Indonesia mengeluarkan kata-kata kotor, dan membash seseorang, demikian juga yang terjadi. Makian, hinaan kepada Malaysia bisa tiap hari saya lihat di berbagai media social, apalagi jika Malaysia terindikasi melakukan kecurangan, pasti kolom komentar sangat ramai, dengan tentu saja dilengkapi dengan sebagian besar kata-kata penghinaan.
Beberapa orang coba mendinginkan, dengan menegur teman-teman senegara kita, untuk lebih menjaga perkataan, tetapi cukup sering saya baca dalih dari mereka adalah ini bentuk bela negara. Apakah anda terima negara anda diinjak-injak dan sebagainya. Oh, sesungguhnya apa arti bela negara, sampai kita seperti itu. Entah, menurut saya bukan tampak membela negara, tapi menunjukkan bahwa kita belum dewasa, dan terkesan kekanak-kanakan, norak, kampungan dan have no attitude. Yes, for me it’s only make Indonesia looks more worse.
Sepertinya, ada yang salah dengan pemahaman bela negara sebagian besar netizen. Bela Negara dan Nasionalisme bukan seberapa hebat kita bisa memaki-maki bangsa lain, sehingga tampak tidak menghormati. Sampai-sampai meneriakkan Ganyang, Perang, dan hal-hal bodoh lainnya. Ini bukan zaman penjajahan. Indonesia negara yang merdeka, Malaysia juga. Kemarahan kita tidak perlu disalurkan dengan hal-hal bodoh lainnya.
Kita meradang sedemikian rupa ketika mendapati bendera kita dicetak terbalik (sehingga Polandia berada di Asia dan Indonesia mungkin berada di Eropa :D ), dan meskipun Malaysia telah meminta maaf, kita tetap meradang, dan kata-kata kasar tetap ditunjukkan. Tapi, apakah kita telah berusaha sebaik mungkin bersikap sempurna ketika melihat Sang Saka Merah Putih berkibar, dan Indonesia Raya berkumandang? Kasus bendera dibakar dan bendera dipasang setengah tiang, bahkan tidak terlalu banyak yang nampak perduli, padahal pelakunya, sama-sama teman sewarga negara kita. Kalau di dalam kita belum mampu menghargai, menghormati Bendera dan Lagu Kebangsaan kita, maka saya rasa, kata-kata Nasionalis anda itu masih semu. Apalagi, Malaysia telah meminta maaf. Sebagai bangsa yang beradab, patutlah kita maafkan mereka. Kalaupun Malaysia sengaja, biarlah Tuhan yang membalas. Dan yang lebih pantas bertindak terkait ini adalah Pemerintah Indonesia, bukan netizen dengan kata-kata kasar, yang justru menurunkan martabat Indonesia.
Kita pantas marah ketika bendera kita diperlakukan sedemikian rupa, tetapi tidak dengan balas membalik bendera mereka, mengeluarkan kata-kata kotor dan sebagainya. Tunjukkan bagaimana kita sangat menghargai dan mencintai negara ini dengan menghormati, bendera Indonesia denganl lebih lagi, bukan dengan membalik bendera negara orang. Apa bedanya kita dengan mereka?
Terkait kasus kecurangan, saya sendiri merasa Malaysia melakukan beberapa kecurangan yang tentu saja merugikan negara kita, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Tetapi, memaki-maki Malaysia, tidak menunjukkan kita cinta negara. Bela negara bukan lewat seberapa hebat anda beradu kata sampai mengeluarkan elemen-elemen kebun binatang dalam debat anda. Jauh lebih penting mendukung atlit-atlit kita yang sedang berlaga, memberikan komentar positif dan semangat bagi mereka, daripada sibuk mengurusi kecurangan lewat sosial media, yang minim dampak. Biarlah para atlit dan pelatih yang turun tangan langsung melakukan protes, jika dirasa perlu. Biarlah Pemerintah yang mengurusinya.
Bela negara adalah ketika anda berusaha sebaik mungkin menunjukkan prestasi anda dan membawa harum nama Indonesia. Kita bela harkat dan martabat bangsa ini lewat prestasi dan menjaga perkataan kita di social media. Apalah gunanya memaki-maki bangsa lain, tanpa kita berusaha menunjukkan prestasi terbaik kita sehingga nama Indonesia menjadi harum? Kita bisa dengan mudahnya berbicara untuk ganyang, perang dan sebagainya. Tapi, apakah kalian benar-benar siap berdiri di garda terdepan membela Indonesia? Merelakan nyawa demi Indonesia, dan membuang kepentingan Suku, Ras, Agama demi Indonesia? Kalau kita masih mempermasalahkan hal-hal tersebut, saya masih belum yakin anda dapat melakukannya ketika anda benar-benar diminta untuk membela negara.
Bela Negara itu adalah aksi nyata kita membela harkat dan martabat Indonesia melalui hal-hal baik dan prestasi, bukan dengan kata-kata kasar merendahkan dan menghina bangsa lain.
Mari, bagi netizen untuk kembali belajar menahan amarah, dan menyalurkannya ke hal yang lebih baik. Tunjukkan bahwa Indonesia tidak bisa diremehkan lewat prestasi kita. Tunjukkan bahwa kita beradab dengan kata-kata positif dan dukungan moral kita bagi atlet-atlet kita. Bukan dengan modal kuota internet dan memaki-maki negara lain, tanpa berusaha memberikan sumbangsih nyata bagi Indonesia.
Belajar menghormati Sang Saka Merah Putih dan bersikap sempurna dan menghayati Indonesia Raya, sebelum protes berlebihan akan perlakuan negara lain kepada bendera kita. Dan jangan balas perbuatan mereka dengan cara yang sama. Jangan ganggu kekhidmatan negara lain ketika lagu kebangsaan mereka dikumandangkan. Jauh lebih penting untuk berkarya nyata bagi Indonesia, demi menunjukkan rasa Nasionalisme ktia.
Nasionalisme terlebih dahulu kita lihat lewat bagaimana cara kita bersikap ketika Sang Saka Merah Putih berkibar dan Indonesia Raya berkumandang. Bukan baru meradang ketika bendera dibalik, padahal selama upacara tidak pernah berusaha bersikap sempurna dan menghayati makna bendera dan lagu kebangsaan.
Dan terakhir, selamat bagi para atlet yang telah berjuang semaksimal mungkin bagi Bangsa Indonesia, baik yang telah berhasil meraih medali, yang telah berjuang semaksimal mungkin demi harkat dan martabat bangsa, serta bagi mereka yang akan mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di podium tertinggi. Teruslah bersemangat apapun yang terjadi, karena lewat pundak kalian, nama Indonesia akan diharumkan di ajang olahraga tertinggi di Asia Tenggara. Maju terus, dan pantang menyerah. Semoga Tuhan selalu menyertai kalian dalam perjuangan kalian membela bangsa ini. Jayalah Indonesia
Semoga momen Maulid Nabi Muhammad SAW ini dapat dijadikan sebagai momen meningkatkan kasih sayang, mengutamakan kebenaran, mempererat tali persaudaraan serta menjunjung tinggi toleransi. Aamiin.
Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 Hijriah 🍀
“Jadilah seperti gula dalam minuman kopi atau teh. Tanpa gula, kopi terasa pahit. Akan tetapi ketika terasa nikmat, orang tidak akan menyebut jasa gula. Gula sabar, meskipun yang disanjung dan disebut nikmat kopinya.
Mereka yang tidak terkenal ini mungkin justru memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang dikenal.
Jadilah seperti pohon mangga. Apapun yang diterimanya, baik pupuk, baik air, baik dikencingi, akar pohon akan tetap menerima dan menyaringnya, untuk kemudian untuk menghasilkan buah yang manis (memberikan manfaat)."
~ Habib Syech, Mustasyar PWNU Jateng
HABIB SYECH: JADILAH SEPERTI GULA DALAM KOPI
Betapa banyak manusia yang memiliki banyak jasa, akan tetapi ia justru tidak ingin dikenal. Seperti halnya dengan para ulama yang banyak berjasa bagi bangsa ini. Mereka turut berjuang tanpa ingin dianggap sebagai pahlawan.
“Jadilah seperti gula dalam minuman kopi atau teh. Tanpa gula, kopi terasa pahit. Akan tetapi ketika terasa nikmat, orang tidak akan menyebut jasa gula. Gula sabar, meskipun yang disanjung dan disebut nikmat kopinya,” terang Habib Syech di depan puluhan ribu jamaah yang memadati koridor Jalan Jendral Sudirman Solo, Sabtu (22/10) malam.
Begitu pula orang-orang yang ikhlas dalam berjuang. Meskipun tidak dikenal, tetapi terkadang kedudukan mereka lebih mulia. “Mereka yang tidak terkenal ini mungkin justru memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada yang dikenal.”
Mustasyar PWNU Jateng itu berpesan kepada hadirin agar menjadi manusia yang bermanfaat. “Jadilah seperti pohon mangga. Apapun yang diterimanya, baik pupuk, baik air, baik dikencingi, akar pohon akan tetap menerima dan menyaringnya, untuk kemudian untuk menghasilkan buah yang manis (memberikan manfaat),” tutur Habib Syech.
🔎 https://bit.ly/32D245c
TERORIS JUJUR
Ingatlah wahai saudaraku, teroris yang jujur apa adanya seperti ini cuma ada di dunia kartun. Di dunia nyata jangan difikir faham terorisme itu disebarkan secara ujug-ujug dan terang-terangan, frontal dan langsung diterima begitu saja secara langsung oleh pengikutnya.
Faham radikalisme dan terorisme itu masuknya halus, tapi bisa membikin yang kerasukan tahu-tahu sudah menjadi keras tanpa sadar. Cara yang halus itu misalnya dengan memakai teori konspirasi yang menakut-nakuti kita, dan membuat kita merasa selalu terancam dari pihak luar hingga akhirnya kita panik dan kehilangan akal sehat. Saat rasa takut dan cemas mengusai diri sehingga mematikan nalar para Teroris bisa dengan leluasa mencekoki kita dengan ideologi radikalnya yang seringkali bertentangan dengan akal sehat itu.
Maka saya fikir tidak berlebihan kalau Syaikh Abdal Hakim Murad berkata bahwa: "Islam itu justru paling terancam oleh mereka yang selalu mengatakan Islam itu terancam".
Mudah-mudahan Allah SWT menjaga kita semua dari faham-faham yang keras dan ideologi teror yang menyimpang.
LAWAN TERORISME!