Menutup master’s degree dengan kontemplasi.
Aku masih ingat jelas di depan lift Gedung Sjafruddin tiga tahun lalu, seorang teman angkatan membuka obrolan, “Mau lanjut kuliah di mana?”
Aku, yang masih punya kewajiban kerja pasca tubel sebelumnya, menjawab asal, “Nanti dulu lah, Bang. Santai-santai dulu di sini.”
“Wah, betah nih kayaknya di Direktorat X,” sahutnya. Di luar, aku cuma bisa nyengir sopan. Di dalam, hatiku teriak, “HELL, NO!” Di unit yang dicap angker itu, sesungguhnya aku lagi susah payah banget fitting in berhubung baru pindah dari kantor daerah.
Sorenya aku putusin, harus mulai les IELTS buat persiapan cari beasiswa.
***
Lucunya, makin dijalani, kerjaan di unit angker itu ternyata makin… seru. Kedengaran agak masokis, tapi kesibukannya terkait bidang yang jadi minatku, jadi aku menikmati setiap pusing dan lemburnya.
Sampai kemudian dua senior tulang punggung bagianku mutasi dan aku yang baru setahun di sana tiba-tiba jadi tulang punggung baru. Hm, ini tida asyik.
Iya, di samping knowledge gap dan rencana kontribusi, gak bisa dipungkiri bahwa alasan personal punya peran penting yang bikin motivasiku membara buat lanjut kuliah.
Tiba-tiba kerjaan menumpuk. Tiba-tiba harus paham, expert, dan bisa jadi jujugan pertanyaan di bidang yang sama sekali baru. Tiba-tiba tanggung jawab jadi lebih besar dari yang sanggup aku pikul.
Puncaknya, ada satu malam aku pulang dari kantor sambil nangis. Jalan Salemba Tengah jadi saksi bocah ini mewek sambil jalan kaki menuju kosan. Perkara omongan orang yang dia bilang cuma candaan, tapi ekspresinya terlalu jelas mengejek.
Mungkin karena capek dan tiba-tiba sensitif, atau mungkin perkataan dia memang beneran bitchy.
Intinya malam itu juga tekadku bulat. Harus cepat-cepat ambil “spasi” dari kerjaan biar aku waras lagi. Harus dapat beasiswa dan kampus tahun ini. I might be a nerd, but I’d be a nerd who got it all.
Aku mau istirahat. Mau bangun pagi dengan perasaan excited. Mau masak healthy food tiap hari. Mau jalan kaki yang jauh tanpa asap knalpot dan klakson di kanan kiri. Mau mulai hidup baru di mana gak ada yang kenal aku.
Pokoknya, aku mau jadi “aku” tapi bukan versi yang hidup di mode autopilot kayak gitu.
***
Now that I think about it, mungkin yang bikin aku tertekan tahun lalu bukan karena kerjaan, tapi karena boundary-ku yang terlalu kabur. I might be too arrogant and thought that everything wouldn’t run well if I didn’t give my all. Padahal, ya, kerjain sewajarnya juga gapapa kali, Ta. Gak perlu sampai sakit dan tumbang kayak gitu. Tanpa kamu juga negara gak kolaps, kan?
Aku juga bersyukur banget punya jeda waktu buat belajar mandiri soal kerjaan. Nikmat banget bisa belajar pelan-pelan dan beneran “paham” sama suatu topik daripada tercepot-cepot tiap kali dimintai konsultasi. Bonusnya, jadi ada beberapa paper yang lagi on going karena expertise di bidang ini ternyata niche banget.
Semua kelas di seluruh semester juga UGH! LUV ABIS! Karena, sesulit apapun, materinya applicable dan relevan sama minat dan kerjaanku. Semua itu, tentu berkat para profesor yang super brilian tapi SANGAT humble dan reachable, juga sistem kuliah yang bikin aku mikir OMG-jadi-gini-rasanya-kuliah-di-tempat-bagus.
Dan… aku jelas lebih waras setelah punya waktu buat jalan di alam, keliling kota baru, membenamkan hidung di entah berapa toko buku indie, dan ketemu teman-teman baru yang bikin kehidupan S2 jadi lebih warna-warni.
Plus, bonusnya bisa pertama kali liburan ke luar negeri pakai duit sendiri setelah kerja (dan langsung ke Asia Tengah a.k.a. my BIGGEST bucket list) tanpa memotong cutiku yang imut itu ✨
***
Mengingat motif S2 yang kayak gitu, aku cukup puas dengan capaianku: boundary yang lebih jelas, “spasi” untuk menyiapkan langkah ke depan, dan pengalaman belajar bareng para profesor yang keren lagi humble plus dapat teman-teman baru yang lucu-lucu 🫶 Thanks for the unforgettable year, NUSBIZ!









