Peluh sudah membasahi wajahku. Cuaca panas siang itu mengharuskanku untuk berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Debu dan klakson sudah menjadi santapan bagi orang-orang yang berada dalam perjalanan tersebut. Wajar saja, jam-jam jalanan ramai diisi oleh para pekerja yang mencari makan siang, mengantar penumpang, serta barang-barang agar sampai ke tujuan.
Butuh waktu hampir 20 menit dari kantorku untuk sampai ke rumah sakit yang dituju. Pemilihan waktu di siang hari tentu bukan tanpa alasan. Selain malas untuk datang lebih awal, dokter yang berjaga pun hanya ada pada siang hari. Jadi, sudah keputusan mutlak untuk datang pada siang hari.
Sebenarnya, permasalahan yang aku adukan kali ini sepele. Telingaku sakit teramat perih sehingga mengganggu kenyenyakan tidur malamku. Hampir setiap jam aku terbangun hanya karena telinga yang begitu perih terasa. Semua sakit itu, bagiku, bisa saja ditahan. Tapi jika itu sudah mengganggu kegiatan favoritku, berarti itu sudah ditahap perlu pemeriksaan lebih dalam.
Bukan rumah sakit namanya jika terlihat sepi dari luar. Antrian panjang untuk dapat masuk ke dalamnya sudah terlihat dari parkiran. Biasa, momen pandemi seperti ini mewajibkan seluruh orang untuk registrasi terlebih dahulu agar tidak menjadi penular virus bagi mereka yang sakitnya bukan karena Covid-19. Registrasinya pun cukup mengisi kuesioner kegiatan selama 2 minggu ke belakang, ditanya tentang tujuan ke rumah sakit, dan langsung diarahkan ke dokter yang berjaga.
Hampir setengah jam proses tersebut dilalui hingga akhirnya sampai pada antrian pemeriksaan dokter. Karena sakitku berada di telinga, sudah barang pasti diarahkan pada dokter THT. Tidak mungkin dokter kandungan, dong ya? Dan karena dokter THT termasuk yang sepi pasiennya, tidak perlu menunggu waktu lama untuk dapat masuk ke ruangannya.
Layaknya dokter pada umumnya, proses wawancara pun sudah dapat diprediksi. “Apa keluhannya pak?” “Sudah berapa lama sakitnya?” “Apa punya alergi sebelumnya?” Aku sudah hafal di luar kepala semua pertanyaan dokter itu. Jadi, rasa-rasanya semua info sudah aku keluarkan untuk kepentingan medis. Dokter yang mendengarkan semua keluhanku akhirnya mengangguk. Aku juga mengangguk.
Namun, hal yang paling aku benci setelah tahapan wawancara tersebut adalah tatapan dokter saat menganalisa penyakitku. Tatapannya yang tajam dan dingin terhadap indikasi yang telah kuceritakan sebelumnya. Karena tatapannya itu, aku merasa sedikit trauma karena itu cukup intimidatif bagiku yang merupakan pasiennya.
Hampir semua dokter selalu memberikan tatapan itu. Karena itu membuatku berpikir, apakah penyakitku ini serius dan perlu penanganan yang serius pula? Kan tak semua dokter akan menceritakan dengan gamblang operasi medis apa yang diambil untuk pasiennya. Keburu pasiennya takut dan itu akan menyulitkan dokternya sendiri.
Akhirnya, aku disuruh berpindah ke sebuah kursi lengkap dengan segala persenjataan milik si dokter. Ia kemudian memeriksa telingaku dengan kamera yang diberikan cahaya penerangan. Di sisi kursi, terdapat monitor yang menampilkan hasil tangkapan kamera tadi. Dan akhirnya, ditemukan sebuah masalah dari telinga perih ini serta solusinya dari si dokter.
“Baik pak Atma, sepertinya kita cukup membersihkan telinganya saja. Karena penyebab perihnya telinga itu karena adanya kotoran di dalamnya saja, Pak.”
Syukurlah, ternyata perihnya cuma karena kotoran saja. Pikiran liarku tentang gendang telinga pecah pun sirna. Dengan senang hati, aku terima operasi medis dari si dokter. Dokter yang dibantu perawatpun cukup lihai membersihkan telingaku. Hanya 10 menit proses tersebut selesai dilakukan. Dokterpun menjelaskan jika dalam membersihkan telinga harus rutin dilakukan.
“Padahal saya rajin bersihin pakai cottonbud lho dok, tapi kenapa yang bagian di dalamnya nggak bersih ya?” tanyaku.
“Memang kalau untuk bagian dalam itu perlu dibantu treatment seperti tadi pak Atma. Nanti rajin-rajin periksa saja telinganya lagi pak 3 bulan sekali.” jawabnya.
Setelah selesai memberikan saran dan resep, segala urusan periksa telah kelar. Yang tersisa hanya urusan pembayaran dan obat dari resep yang diberikan. Dan lagi-lagi, aku harus masuk ke dalam antrian yang cukup panjang. Ada sekitar 7 orang di depanku yang juga menunggu proses serupa. "Ya hitung-hitung latihan kesabaran lah ya” ucapku dalam hati.
Tiba giliranku dipanggil untuk urusan pembayaran. Beberapa lembar kertas ditunjukkan oleh kasir sebagai bagian dari administrasi yang pasien harus ketahui. Dan jujur, kertas yang menarik perhatianku adalah total biaya yang dikeluarkan selama pemeriksaan tadi. Tepat di lembaran ketiga, terlihat ada deretan angka yang sudah pasti merupakan biaya pemeriksaan.
Perlahan aku memicingkan mataku. Ada keraguan apakah deretan angka tersebut berjumlah 6 atau 7 angka.
“Satu.., dua.., tiga.., empat.., lima.., enam.., tujuh? Alamak! Beneran tujuh angka ini? Cuma buat korek telinga doang? Mending beli cottonbud aja biar nyetok sampai tua nanti.” kataku dalam hati sambil memegang dompetku yang mulai mengempis.