Akhirnya
Akhirnya, kita bertemu lagi. Sorak sorai puji-pujian berkumandang lagi. Di masjid, langgar, mushola, pengajian, tahlilan, diba'an, semua saling sahut-sahutan mencoba menjadi yang paling lantang untuk menyambutmu.
Ahh, saya merindukanmu sejak lama.
Ramadhan, terima kasih kau masih mau menemui saya. Menyapa saya sekali lagi. Memberi saya semangat untuk kesekian kali. Semoga saya bisa terus bersyukur akan hal ini.
Ramadhan, terima kasih kau masih mau memberi saya waktu. Membungkam segala yang tak penting dan memberi saya momentum. Momentum yang benar-benar bisa membuatku fokus, agar tak lagi menyepelekan waktu. Semoga saya bisa menjaganya.
Ramadhan, terima kasih telah menyadarkan saya sekali lagi. Bahwa saya telah banyak berpaling dan seringkali tak selalu mengingatNya. Bahwa saya terlalu fokus dengan yang horizontal, hingga sering melupakan yang vertikal. Bahwa saya terlalu banyak berkutat dengan hal yang sia-sia daripada yang berguna. Semoga saya bisa selalu sadar.
Ramadhan, terima kasih. Karena dengan kedatanganmu saya jadi tahu bahwa mengaji itu penting. Mengaji, bukan cuma sekedar mengkaji. Mengutip kata Cak Nun, beliau mengatakan bahwa ‘mengkaji’ pasti bersifat intelektual-akademis. Beda dengan ‘mengaji’ yang golnya adalah martabat dan ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, baik secara lahir maupun batin. Semoga saya tak lagi hanya sekedar mengikuti kajian karena butuh pembenaran secara tekstual, namun benar-benar mengikuti pengajian karena memang haus akan ilmu dan ingin menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Ramadhan, sekarang ijinkan saya menyiapkan diri sebaik-baiknya terlebih dahulu. Karena beberapa hari lagi, jika masih diberi kesempatan, saya akan menyambutmu dengan riang gembira. Seperti ketika seorang perantauan pulang ke kampung halaman dan menghabiskan waktu di pangkuan ibunya.
Ramadhan, selamat datang.
Bandung, 210517.
@dimazfakhr
Ini, ramadhan bagiku. Bagimu, Ramadhan itu untuk apa? wes siap a @kitajatim?















