Hari ini adalah hari bahagiamu.
Dulu, aku selalu ingin jadi yang pertama mengucapkan itu, seperti tahun-tahun yang dulu, saat namamu masih tak getir di lidahku. Ingin sekali rasanya kembali berkata: selamat ulang tahun, seperti duluβdengan tawa, dengan pelukan doa.
Tapi kini, ucapan itu menggantung di ujung bibirku, bergetar, lalu luruh menjadi diam.
Seperti hatiku yang tak sempat selesai, yang kehilangan kata dan makna.
Aku masih mengingat tanggalnya, meski mungkin kau tak lagi mengingat rasanya. Dan rindu, ia tak lagi mengetukβia hanya duduk, menatapmu dari kejauhan..
Selamat ulang tahun untukmuβ
meski jarak telah mengganti caraku memelukmu, doa-doa terbaikku tak pernah berpaling arah. Masih terus kupintakan pada langit, agar senyummu tak pernah patah, dan langkahmu selalu dijaga cahaya-Nya.
Bahagialah, dengan cara yang tak menyisakan luka. Karena meski aku tak lagi di sisimu sebagai nama dan tak lagi menjadi tujuan, aku tetap menjadikanmu alasan.












