Inspirasi dari Podcast KuLi #25 Grace Tahir
Video Podcast diatas, tidak sengaja saya temukan dari cuplikan reels di Instagram, karena tidak sengaja muncul di feed saya, tetapi langsung catchy, karena membahas karyawan yang "Menjilat" ibu Grace Tahir, yang merupakan direktur dan anak dari Owner Mayapada Group, dan dari cuplikan tersebut bu Grace menyampaikan pendapatnya kalau mereka yang membungkuknya sampai bawah banget (menjilatnya berlebihan) itu karena dia menutupi ketidakmampuannya akan pekerjaannya, karena topik "menjilat" ini sangat menarik, terutama sebagai karyawan kantoran, maka saya langsung mencari dari sumber asli-nya di platform Youtube dan menonton versi Full-nya. Di Video ini kebetulan membahas beberapa sudut, Ibu Grace Tahir sebagai anak Owner dan seorang direktur di Rumah Sakit Mayapada dan juga kiprah nya sebagai founder dari Everest Media, dan pandangannya mengenai tingkah laku karyawan di perusahaan sebagai dirinya yang memiliki jabatan di perusahaan tersebut.
Salah satu hal yang menarik adalah statement dari beliau mengenai Entrepreneur, dari pemaparan beliau, bahwa sebetulnya setiap orang itu bisa menjadi seorang Entrepreneur (Pengusaha), namun sebetulnya tidak semua orang perlu menjadi Entrepreneur, karena seperti kita ketahui, belakangan ini muncul tren dikalangan anak muda, yang merasa kalau bekerja kantoran sebagai karyawan itu tidak bergengsi, dan banyak yang "Memaksakan diri" menjadi seorang pengusaha, karena memiliki tujuan untuk cuan semata, padahal menjadi seorang pengusaha itu adalah pekerjaan yang sangat berat, karena ketika seorang karyawan memiliki jam kerja, seorang pengusaha atau pemilik perusahaan harus memikirkan usaha-nya setiap waktu, bahkan di waktu istirahatnya, sehingga menjadi pengusaha bukanlah untuk semua orang. Kemudian beliau juga menggaris bawahi, belakangan muncul tren, kalau para pengusaha itu membuat startup atau perusahaan untuk tujuan Exit, atau menjual perusahaan agar mendapatkan keuntungan dari penjualan tersebut namun dengan pengorbanan berupa hilangnya kepemilikan di usaha tersebut, pola pikir tersebut berbeda dengan pola pikir para pengusaha zaman dahulu, yang membuat usaha untuk diteruskan sebagai legacy, dari sini cara menjalankan perusahaannya juga menjadi berbeda, karena kalau ingin menjadikan suatu perusahaan sebagai legacy, pasti semua sisi dari usaha tersebut akan diperhatikan selayaknya harta yang berharga untuk generasi selanjutnya.
Dari pengalamannya menjadi pemimpin perusahaan dan pengusaha, Ia tidak menampik pentingnya Privilege dalam menjalankan bisnis, privilege disini salah satu contohnya adalah memiliki koneksi ke Ordal, atau Orang Dalam, dalam berusaha, terutama di Indonesia, sangat mungkin terjadi klien atau partner kita akan melakukan background check, apakah kita orang yang bisa dipercaya, atau siapa keluarga kita, bagaimana sepak terjang kita ketika mengerjakan suatu pekerjaan atau bisnis, karena di Indonesia masih berlaku prinsip "Kamu Siapa dan Kamu kenal siapa?", dan ketika punya kenalan "Ordal" tersebut, tidak sulit untuk mendapatkan pekerjaan atau bisnis dari seseorang, namun ada salah satu dampak buruknya, integritas kita harus selalu dijaga, karena ketika sudah tercoreng sedikitpun, rasa-rasanya akan semakin sulit mendapatkan kepercayaan tersebut kembali. Poin menarik lainnya yang terkait dengan koneksi tersebut adalah, di jaman teknologi seperti saat ini, kita menjadi sangat mudah mendapatkan koneksi karena dimudahkan oleh media sosial, tetapi selalu pegang prinsip "Apa yang bisa kita berikan ke orang lain, sebelum kita meminta sesuatu ke orang tersebut".
Selain poin yang saya coba rangkum diatas, ada banyak value lain yang bisa didapatkan, yang mungkin bisa kalian dapatkan dengan menyaksikan secara langsung podcast yang video-nya saya masukkan ke tulisan ini, semoga bermanfaat dan selamat belajar!















