Kompasfest 2022
2 Hari ini saya mengikuti rangkaian acara Kompasfest 2022, acara ini sebetulnya berlangsung secara Hybrid, tapi saya memutuskan untuk mengikuti secara online, karena menurut saya lebih praktis dan bisa dilakukan dimana saja. Tema yang diangkat tahun ini sepertinya lebih menyasar para kaum muda Gen Y (milenial) akhir dan Gen Z, banyak topik yang dibawakan adalah seputar kegalauan yang dialami generasi tersebut, ditengah perkembangan dunia digital dan juga maraknya misinformasi belakangan ini. Selain itu topik yang berulang kali dibahas adalah masalah kesehatan mental, banyak yang akibat terlalu terlarut dalam dunia medsos, bukannya bahagia, malah semakin terpuruk, karena muncul kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain ataupun berusaha menjadikan diri sesuai dengan harapan orang lain, bahkan secara khusus terdapat 1 sesi yang dibawakan bersama seorang psikolog (Nidya Dwika Puteri, M. Psi), khusus untuk membahas seputar masalah mental dan kecenderungan kaum muda yang mengalami masalah kesehatan mental tapi melakukan "Self Diagnose" atau Diagnosa Sendiri tanpa mendapatkan pertolongan dari ahli karena sering kali stigma negatif melekat di masyarakat saat seseorang mengunjungi psikolog, padahal masalah kesehatan mental saat ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan dimana-mana dan tidak lagi menjadi hal tabu, mungkin dari luar kita terlihat sehat, tapi mental kita sedang tertekan, hal seperti inilah yang bisa ditelaah lebih lanjut oleh setiap individu.
Selain masalah kesehatan mental, topik lainnya yang juga banyak dibahas adalah masalah pengelolaan keuangan. Di Media sosial belakangan ini banyak pemengaruh membuat konten terkait dengan pengelolaan keuangan dan istilah FIRE (Financial Independence Retire Early) sering kali terdengar, membuat sebagian kaum muda mulai tergugah untuk mencapainya secepat mungkin, dengan bekerja lebih keras dan lain sebagainya, yang berujung kepada Stress ataupun jatuh kedalam perangkap investasi bodong karena tergiur dengan imbal hasil investasi yang tidak masuk akal. Salah satu pembicara yang kebetulan saya saksikan adalah Samuel Ray, seorang praktisi gaya hidup Frugal atau gaya hidup sederhana / hemat. Dalam sesi yang dibawakan Samuel menggaris bawahi pentingnya membatasi keingingan atau gaya hidup, seiring berjalannya waktu, mungkin pemasukan kita bertambah, tapi sebisa mungkin tahan godaan untuk menaikan gaya hidup, karena semakin tinggi gaya hidup yang kita miliki, semakiin besar biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan di masa pensiun, yang artinya kesempatan untuk independen secara finansial atau pensiun dini, bisa tercapai lebih cepat. Salah satu pelajaran yang diberikan adalah konsep 4%, dari penelitian di Amerika Serikat, rerata orang yang hidup di masa pensiun sebetulnya bisa bertahan hidup dari 4% hasil investasinya, cara termudah untuk menghitungnya adalah dengan mengkalikan 300 untuk pengeluaran rutin bulanan kita saat ini, jumlah tersebut nantinya dimasukkan ke dalam instrumen investasi dengan return sekitar 7%, kita sebetulnya bisa bertahan di masa pensiun nanti tanpa harus bekerja dan tanpa memakan tabungan yang kita miliki, tentunya perlu kedisiplinan untuk mencapai hal tersebut.
Selain mengenai kesehatan mental dan literasi keuangan, kompasfest seperti tahun sebelumnya, juga menghadirkan beberapa tokoh kreatif seperti Ernest Prakasa, Sheryl Shenafia, Happy Salma, dll, untuk sharing mengenai hal-hal yang mereka tekuni, seni peran, seni musik, story telling, dan lain sebagainya, menginspirasi kaum muuda bahwa, dengan melakuukan hal kreatif, tentunya kita bisa mencapai titik sukses yang diinginkan oleh masing-masing. Selain itu tidak ketinggalan topik terkait metaverse, NFT dan lainnya juga turut dibahas di rangkaian acara Kompasfest ini, terutama banyak yang disinggung adalah banyak bagian dari masyarakat Indonesia yang berharap "Auto Cuan" dari pembelian NFT atau mata uang Crypto, padahal sebetulnya seperti investasi tradisional, perlu ketelitian dan kecermatan dalam melakukan investasi di teknologi yang baru ini, tanpa pengetahuan yang memadai, kita seperti berinvestasi di investasi bodong.
Hal yang saya tunggu-tunggu dari keseluruhan acara Kompasfest ini, baik dari hari pertama ataupun kedua adalah kehadiran tokoh--tokoh pemerintahan, di hari pertama ada 3 orang Gubernur, pak Anies Baswedan, Pak Ganjar Pranowo dan pak Ridwan Kamil, yang membagikan pandangannya tentang anak muda dan peran anak muda kedepannya, bagaimana para anak Muda bisa menumbuhkan kepemimpinan, membawa perubahan dengan cara pandangnya yang jauh lebih segar, salah satu selentingan yang masih saya ingat adalah terkait "Trotoar", Pak Anies bercerita, Trotoar itu sudah ada sejak lama, tapi baru kali ini dihadapan anak muda, Trotoar bisa menjadi semacam "Cat Walk", ini terkait dengan fenomena Citayam Fashion Week yang sempat ramai beberapa waktu yang lalu. Tokoh lainnya yang saya tunggu adalah pak Erick Thohir, Menteri BUMN RI, yang kehadirannya cukup mengejutkan karena sempat jadwal yang seharusnya beliau isi, mendadak digantikan oleh pembicara lain, setelah pembicara tersebut selesai dan akan dilanjutkan dengan pembicara lain, pak Erick Thohir muncul dan secara mendadak acara disusun ulang oleh penyelenggara untuk memberikan kesempatan pak Erick membawakan materi, tapi bukan materi yang dibawakan, melainkan kesempatan untuk bertanya dari para peserta yang hadir secara offline, pak Erick menceritakan kisah masa mudanya yang sempat menjual biji karet, disanalah ia mulai bersinggungan dengan dunia dagang, kemudian beranjak dewasa, ia menyukai usaha di bidang media dan olahraga, dari memiliki perusahaan media yang besar sampai jual beli klub sepak bola. Ia memesankan para anak muda untuk terus belajar, bergaul dan juga jangan jadi arogan. Saat menjadi pemimpin, harus bisa meredam ego yang dimiliki, karena tidak bisa mementingkan kepentingan pihak tertentu dan mengorbankan pihak lainnya.
Secara keseluruhan acara Kompasfest ini sangat menghibur dan banyak hal yang bisa dipelajari dari para pemateri yang hadir, semoga di Tahun depan bisa kembali diadakan secara hybrid seperti tahun ini, karena ditengah kesibukan kita juga bisa mengikuti ranngkaian acara secara paralel tanpa harus mengunjungi lokasi acara.








