THE DAY OF THE FUTURE PAST (bagian 5)
Wijaya oh ya, aku teringat dengannya. Dia akhir-akhir ini sibuk dengan kuliahnya. Aku tak terlalu paham tentang kesibukan apa yang ia lakukan karena toh setiap aku meminta yus untuk menghubunginya nomornya selalu tidak aktif dan sudah dua bulan dia tidak datang mengunjungiku. Yus selalu menghiburku dengan ucapan engga papa, wijayakan harus belajar giat agar pengorbananmu untuk pendidikannya tidak sia-sia maria. Lagipula ada aku yang akan terus menemanimu.
“ Maria jaga adekmu ya, Bapak sama Ibu mau tugas di luar kota selama 2 tahun.”
“ Maaf ya nak, perintah tugas dari atasan bapak dan ibu juga mendadak.” Ucap bapak sambil mengelus lembut rambutku.
“ Bapak ibu cepet pulang ya, aku bakalan jaga wijaya selama kalian bertugas.”
Ini bukan pertama kalinya aku dan wijaya yang masih kecil ditinggal orang tua kami. Beberapa kali kami juga pernah mengalami hal seperti ini, hanya bedanya kali ini diluar kota dan selama 2 tahun. Kami diasuh oleh bi Minah, orang yang sudah ikut dengan keluarga kami bahkan sejak bapak dan ibu baru menikah. Hari-hari setelah pamitan itu aku jalani dengan biasa. Orang tuaku masih sering menelfon setiap 2 hari sekali setiap pukul 7 malam.
“ Pak, 2 tahunnya masih lama ya?”
“ Tinggal 3 bulan lagi nduk.”
“ Aku kangen main ditaman bareng sama ibu sama bapak.”
“ Wijaya juga kangen sama ibu. Katanya pengen dielus rambutnya sama ibu.”
“ Iya nak, ibu juga kangen sama kamu dan adekmu. Doain aja kami lancar ya nduk, beberapa minggu lagi kita bisa ngumpul lagi.”
“ Udah ya nak, bapak ibu bertugas lagi ya. Salam kangen buat adekmu.”
Percakapan malam itu terasa sedikit ganjil bagiku. Tak biasanya bapak dan ibu cepat-cepat menutup telfonya. Aku hanya berfikir mereka sedang dalam keadaan genting disana.
Suasana rumah kala itu sedikit membuatku takut. Petir menggelegar disertai dengan angin kencang dan hujan. Setiap petir menggelegar wijaya bergidik takut memelukku erat.
“ Ngapapa dek, kan ada mbak disini.”
“ Bi minah kemana sih mbak?”
“ Lagi keluar dek, mau beli kebutuhan bulanan kita.”
“ Lagi neduh mungkin dek, kan ujannya deres banget.”
Wijaya tertidur dangan posisi masih memeluk tubuhku. Sesungguhnya aku juga dilanda ketakutan sekarang. Bi Minah sudah 3 jam belum kembali juga, beliau biasanya hanya memerlukan waktu kurang dari 1 jam untuk belanja. Aku mencoba menguatkan diri dan akhirnya tertidur disamping wijaya.
Paginya aku terbangun dengan ketukan pintu yang cukup lama dan keras. Di depan pintu sudah berdiri 2 orang bertubuh tegap dengan pakaian berwarna abu-abu. Mereka mengatakan bahwa bi Minah meninggal akibat terpeleset kemudian kehujanan semalaman. Tubuh beliau ditemukan pagi hari oleh orang yang lewat. Setelah mendengar kabar itu aku segera masuk kembali ke kamar dan menangis sejadi-jadinya.
“ Terus kita sama siapa sekarang mbak?” ucapnya sesenggukan.
“ Tenang aja dek, masih ada mbak. Mbak bakal jaga kamu sampai bapak sama ibu pulang.”
Sejujurnya aku juga tidak tahu akan seperti apa kehidupan kami selama 3 bulan kedepan sampai orang tua kami pulang.
“ Makan dulu itu roti yang di meja ya dek. Mbak mau beli bahan dulu.”
Hari itu, aku yang biasanya tinggal meminta bi Minah untuk memasakkan makanan kesukaanku harus memaksa tubuhku untuk melangkah membeli kebutuhan pokok dan berusaha mengolahnya agar aku dan wijaya tidak kelaparan.
“ Mbak kok lama sih?”
“ Iya dek bentar ya, ini mbak masakin sop dulu ya.”
“ Tangan mbak kenapa? Kok di plester gitu?”
“ Engga apa apa dek, cuma lecet kena pisau tadi.”
“ Tapi mbak, kok banyak banget yang diplester?”
“ Udah ngapapa dek, kamu makan dulu aja ya