Sebelum masuk ruang operasi, aku hanya terbaring memikirkan bagaimana nasibku bisa seburuk ini. Bagaimana bisa aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Bagaimana bisa aku menderita penyakit sialan ini. Bagaimana bisa adek semata wayangku pergi, hilang entah kemana. Sungguh hidup begitu tidak adil.
 “ Tok, tok, tok.”
 “ Masuk saja yus. Pintunya tidak dikunci.”
 Aneh yus masuk dengan gelagat sedikit berbeda dari biasanya. Tidak biasanya dia diam dan hanya berdiri mematung beberapa sentimeter dari tempatku berbaring.
 “ Yus kamu kenapa? Ada apa?”.
 “ Aku bawa sesuatu untukmu.”
 “ Tumben kamu membawa sesuatu yus.”
 “ Ini ada pil yang aku peroleh dari tempat yang sangat jauh. Mari aku bantu untuk meminumnya.”
 “ Pil apa itu? Aku tak bisa melihat apa yang kamu bawa, bahkan untuk meilhat wajahmu saja pandanganku sudah kabur.”
 “ Semoga ini membantu kesembuhanmu. Ayo aku bantu kamu duduk.”
 Entah aku hanya menurut saja tanpa banyak bertanya lagi. Aku menelan pil itu dengan susah payah. Setelah aku meminumnya, yus tiba-tiba lari keluar seperti sedang tertinggal sesuatu. Beberapa saat mataku dapat meilhat dengan lebih jelas. Aku melihat yus kembali masuk dengan membawa bunga.
 “ Maria, aku bawakan bunga untukmu.”
 “ Jadi ini yang membuatmu tiba-tiba berlari keluar yus?”
 “ Apa maksudmu? Berlari keluar?”
 “ Kalau bukan kamu, siapa orang yang masuk tadi?”
 “ Atau jangan-jangan itu…”
 Entah energi apa yang merasuki tubuh lemahku ini. Aku bergegas turun dari ranjang tempatku berbaring, berlari sekuat yang aku bisa. Aku menabrak hampir semua perawat yang ada disepanjang koridor. Bayangan samar orang yang masuk ke kamarku tadi mungkin wijaya, walau terjadi perubahan signifikan pada tubuhnya. Dia seperti lebih tua dariku. Mata sialan, telinga sialan kenapa aku tidak sadar dari awal.
 Aku menangis sejadi-jadinya tepat di halaman rumah sakit itu. Sungguh aku merasa kesedihan yang sangat mendalam. Semua kenangan, kebahagian, kesedihan terputar kembali. Flashback semua kejadian dalam hidupku. Hidup yang menjatuhkanku sedalam-dalamnya. Seiring dengan semua ingatan itu kepalaku kembali nyeri hebat. Nyeri ini begitu kuat.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Qualityâś“ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Masih pagi, cahaya matahari yang lembut menelusup sela-sela krei. Pagi ini aku terbangun bukan karena bunyi alarm yang menyalak, lebih karena cahaya silau yang menembus sela railing jendela. Cahaya terang menembus kelopak mata, wajahku menyeringai dengan kelopak mata yang masih tertutup. Mataku mengerjap, melihat sekeliling. Seakan sudah lupa dengan pemikiran liar yang tercipta semalam.
Ujung tanganku meraba tepian meja yang terletak di samping tempat tidur, berusaha menggapai ponsel dengan mata masih setengah terpejam. Dengan cepat, mataku menyapu beberapa notifikasi di ponsel. "Nggak ada hal penting.", batinku ketika mengecek email dan beberapa chatting yang masuk.
Jam dinding sepakat menunjukkan pukul tujuh lebih dua puluh menit. Setengah malas, aku bangun dari tempat tidur. Pandanganku terpaku pada meja kecil diantara tempat tidur dan sofa, ada buku yang terbuka, tertelungkup dengan sampul ke atas, sebuah buku yang harusnya sudah selesai aku baca minggu ini. Ada toples kaca berisi permen, dan beberapa bungkus keripik kentang. Kemeja berwarna pastel tersangkut di pinggiran meja.
Tak ada yang spesial dengan kamarku. Bisa dibilang biasa untuk ukuran seorang yang bekerja di bidang desain interior. Semua barang sedikit tertata apa adanya. Disudut ruangan, dengan posisi membelakangi jendela sebuah sofa besar warna jingga dan tumpukan bantal berwarna seragam tergeletak diatasnya. "Besok akan aku ubah warnanya menjadi ungu, atau tosca. Sudah bosan.", pikirku saat terakhir kali aku duduk diatasnya. Aku bisa berlama-lama duduk disana. Membaca, melihat berita. Sofa itu memiliki rak kecil dengan susunan buku pada bagian bawahnya. Memudahkanku menemukan buku yang tengah dibaca. Persis di samping jendela kaca dengan railing besi berwarna gelap, tergantung korden dengan warna senada sofa menjadi pemanis. Ada juga sebuah rak dari kayu berdiri kokoh untuk buku-buku yang harus punya tempat sedikit istimewa. Tak jauh dari rak buku, ada sebuah tangga lipat bekas yang sudah aku sulap menjadi rak kecil yang unik, dengan menambahkan beberapa papan. Salah satu hasil keisenganku kalau melihat barang-barang tidak terpakai. Beberapa action figure tokoh film favorit berjajar disana. Pun satu dua pot tanaman kecil sebagai pemanis. "Sudah besar kok masih suka mainan anak-anak?", protes Ibu ketika melihat koleksiku semakin beranak. Dengan langkah kaki yang sedikit dipaksakan, aku menuju kamar mandi.Â
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. Aku bergegas mengikat rambut panjangku ke belakang sekenanya, menyisakan beberapa anakan rambut luput dalam ikatan. Mengunyah sandwich sembari berkemas. Hari libur seperti ini, biasanya aku berkeliling kota naik sepeda. Kemana saja. "Aku butuh udara segar,"gumamku sambil mendorong beberapa buku dan laptop kedalam tas. Tidak butuh waktu lama, aku sudah asyik menyusuri jalanan kota. Jalanan yang biasanya selalu padat kendaraan kini lenggang. Matahari terasa lebih hangat dari biasanya. Aku senyum-senyum dibuatnya. Membiarkan angin memainkan anak rambut yang menutupi ujung-ujung mata.Â
Waktu menunjukan pukul sembilan lebih empat puluh lima menit. Tanpa terasa, sudah lama juga aku bersepeda. Ajaibnya, masih belum merasa lelah. Tiba-tiba aku mencengkram rem. Menimbulkan bunyi berdecit. Mendadak memutuskan untuk berhenti tepat didepan Coffee No. 27 di Jalan Demangan Baru. “Jam segini dan udah buka?”, tanyaku menimbang-nimbang. Memutuskan untuk mampir atau tidak. “Setidaknya sebagai pengganti karena belum sempat mampir kemarin.”, aku memutuskan. Penasaran. Memarkir sepedaku, dan berjalan menuju pintu masuk kaca besar dan bertuliskan “Coffee No 27”. Suasananya sungguh berbeda jika dibandingkan dengan malam hari. Lebih sederhana. Aku berhenti mengedarkan pandangan. Sudut mataku menangkap sosok seseorang. Aku menoleh ke arah belakang, seorang lelaki berperawakan tinggi berdiri disana. Mematung dipinggir jalan. Sekilas ia tampak sedang memandangi bangunan coffee shop. Menimang-nimang. Ekspresi wajahnya lucu. Seperti heran karena melihat sesuatu. “Mungkin dia juga bingung. Mau mampir apa enggak.”, aku menebak seraya terkekeh. Mengingat tadi aku juga sempat berada di situasi yang sama.
Aku disambut oleh pilar-pilar lengkung dengan gaya dinding bata ekspos yang mengusam. Beberapa tanaman rambat menggantung di sela-sela pilar yang melengkung. Tanaman rambat yang berdaun kecil tapi selalu hijau, yang punya sulur sepanjang tangan dan berbunga merah muda kecil berkelopak lucu. Nanti saja aku cari namanya. Aku melangkah masuk.Â
Semerbak wangi kopi menyambutku dengan lembut di pintu masuk. Aku berjalan menuju meja bar menghampiri sosok yang mengenakan kaos hitam di balik apron berwarna coklat yang nampaknya terbuat dari bahan canvas lengkap dengan striping dari kulit sintesis. Dengan sigap ia segera menyodorkan beberapa menu. Merasa masih terlalu pagi, aku pun segera memesan Frozen Avocado. "Silahkan tunggu sebentar,", jawab barista yang melayani.Â
Kursi dan meja kayu berderet di sisi kanan dan tengah ruangan. Ada juga beberapa sofa yang akan membuat pengunjung nyaman. Beberapa frame segi empat tertanam di dinding ruangan. Lebih banyak menampilan tulisan. Selain itu ada beberapa batang pipa yang dibentuk menyerupai rak. Dinding dalam ruangan masih menampilkan gaya dinding bata ekspos dengan jendela-jendela tegak memanjang. Langit-langitnya tersusun atas balok-balok kayu dengan gaya tropis. Sangat terpelihara. Aku memutuskan duduk di meja kedua setelah pintu masuk. Persis di samping bagian dinding dengan gaya bata ekspos. Menyisakan beberapa kursi dan sofa yang beberapa sudah terisi pengunjung. “Tak banyak pengunjung di jam segini.”, batinku. Satu hal yang sangat menyenangkan dengan coffee shop ini, bebas asap rokok. Aku tersenyum.Â
Di dalam coffee shop ada tiga perempuan dan dua lelaki paruh baya berceloteh ribut di sudut ruangan. Di sudut lain, perempuan berkaos longgar tenggelam dalam buku bacaannya. Sebuah novel kurasa. Ia kelihatan santai, menopang dagu dengan tangan kiri. Di depannya ada seorang lelaki yang terus mengganggukkan kepalanya. Lamat-lamat melantunkan nada lembut, mengayun melankoli dari sisi ke sisi.
Ada perempuan bermata besar dan berambut hitam panjang di ruang itu. Lalu anak perempuan dengan rok pendek dan jaket kotak-kotak. Lelaki kurus berambut cokelat kusut di dekat jendela, yang mengunyah banana cake sambil tersenyum. Di sampingnya perempuan dengan syal dan blus abu-abu dan kacamata baca yang kelihatan berembun. Terkena uap hot chocolate yang baru saja diminumnya.
Pesananku datang. “Palm banana.”, jawabku ketika pelayan yang mengantarkan pesananku bertanya apakah ada lagi pesanan tambahan. Segera aku berterima kasih. Pintu masuk coffee shop terbuka. Satu lagi pengunjung datang. Seorang lelaki melangkah masuk. “Itu bukannya lelaki yang tadi didepan? Akhirnya masuk juga dia.”, batinku sambil menyeruput pesananku. Frozen Avocado. Perpaduan kopi dan alpukatnya terasa sempurna. Rasa kopi yang mantap bercampur dengan alpukat yang lembut saling mengisi dan pas di lidah. Pandanganku masih tertuju pada lelaki itu. Ia langsung mendekati meja bar. Menyapa barista dan beberapa pelayan. Menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Terlihat sudah saling mengenal. Akrab. “Udah pernah kesini rupanya. Kirain,” tebakanku salah. Setelah sebentar bertanya kabar dan memesan kopi ia memandang sekeliling. Memutuskan duduk di sofa. Persis di samping meja bar. Lelaki itu memiliki perawakan tinggi dengan kulit coklat. Rambutnya acak, dengan potongan pendek yang sesuai dengan bentuk wajahnya. Memakai kaos berwarna coklat dan memanggul sebuah tas ransel. Aku mengangguk dalam diam. Tanpa sadar aku menoleh ke arahnya, pandangan kami bertemu. Namun dengan cepat ia membuang muka. Mengeluarkan ponsel lantas memasang earphone. Aku menarik nafas. Kembali menikmati sejuknya minumanku.
Sudah tiga puluh lima menit aku menghabiskan waktu di coffee shop dengan membaca buku. Sebelum akhirnya ponselku tiba-tiba berbunyi. Ada nama Wendi tertera dilayar depan. “Halo, Wen. Ada apa?”. “Sekarang?”. “Oke, aku pulang.”.  Tidak biasanya Wendi mendadak seperti ini. Aku memutuskan pulang.
Catatan : #ASA merupakan proyek kolaborasi coba-coba antara @spidertazmo dan @karinawinss Ditulis bersambung dengan minim pembicaraan tentang scene, kegiatan tokoh dan lain-lainnya. Dipublish sedatangnya ilham saja. Karena cukup ilham yang datang, kalau kenangan jangan!
Ini adalah #ASA - Bagian 7
Bagian Awal - Sebelumnya - Berikutnya
Please do keep supporting us!
Selamat membaca Kami.. :)