Tolong, Siapa Aku? #bagian1
Kepalaku sakit tak karuan. Rasanya seperti dipukul dengan benda tumpul tepat dikepala. Aku tak ingat apa yang terjadi padaku. Aku bangun dalam posisi duduk dikursi dengan nyeri yang begitu hebat dikepala.Ini dimana ya? Bahkan untuk mengingat namaku sendiri saja kepalaku rasanya sangat sakit.
Sebuah foto tertempel dicermin yang ada diujung ruangan ini. Sebuah foto yang berisi diriku, seorang pria dengan rambut lurus panjang sebahu. Disampingku ada sesosok wanita yang dengan tinggi sebahuku dengan rambut pirang bergelombang, serta seorang anak kecil perempuan digendongannya. Aku tak ingat siapa wanita dan anak kecil itu. Apa mungkin mereka istri dan anakku?
Dengan sempoyongan aku paksa untuk berjalan melihat sekitar. Ku temukan sebuah kalender dengan lingkaran merah pada tanggal 1 Juli 2126. Aku melihat jendela, diluar kulihat banyak orang berkerumun didepan rumah dengan memegang smartphonenya masing-masing. Mereka seperti sedang merekam segala gerak-gerik ku dengan mengarahkan kameranya kearahku. Mereka semua melakukan hal yang sama tapi tanpa sepatah kata pun. Karena aku mencoba memanggil mereka melalui jendela akan tetapi mereka seakan tidak memperdulikan teriakanku.
Sebuah pisau kecil kuambil dari dapur dan kusembunyikan dibalik jaket abu-abu kumal yang aku pakai. Perlahan aku beranikan diri untuk mengendap keluar rumah untuk meminta tolong. Berharap ada seseorang yang tau siapa aku dan mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini. Baru saja kakiku melangkah keluar dari teras rumah tua ini aku dapati sebuah mobil melaju menuju kearahku dengan kecepatan tinggi. Beruntung aku bisa menghindar dari tabrakan mobil itu. Dari mobil sedan itu keluar sesosok pria dengan topeng dan keris ditangan kanannya. Topeng yang digunakan pria ini adalah salah satu tokoh wayang yang ada di cerita jawa. Entah siapa namanya aku tidak terlalu ingat. Persetan aku memang bukan orang dari suku jawa. Topeng itu berwarna putih dan bagian hidungnya mancung seperti pinokio.
Dengan terhuyun dia sekonyong-konyong berlari kearahku dengan mengarahkan keris itu. Aku mencoba lari dan menghindar sekuat tanaga yang aku punya. Rasa nyeri kepala yang sebelumnya ada jadi hilang entah kemana karena saking paniknya aku menghindari si pinokio ini. Dengan sisa tenaga aku berlari menuju sebuah toko serba ada. Disana kulihat 2 orang sedang mengambil beberapa makanan dari rak di toko tersebut. Seorang pria seumuranku dan teman wanitanya. Sang pria buru-buru mengambil barang yang ada untuk mengganjal pintu toko ketika tau aku lari kearah toko itu.
“Tolong jangan ditutup.”
“Ku mohon biarkan aku masuk untuk berlindung dari semua kegilaan ini.”
Sang wanita kemudian membisikkan sesuatu kepada sang pria. Entah apa yang dia katakan tapi berkat hal itu aku dibiarkannya masuk dan berlindung di toko tersebut. Buru-buru aku menutup pintu dan mengganjalnya dengan segala yang ada disekitarku. Dua buah meja dan beberapa lemari kupikir aku cukup kuat untuk menahan pinokio itu masuk. Setidaknya untuk beberapa saat kedepan aku akan aman dari ancamannya.
“Apa yang kalian lakukan disini?”
“Dimana kita, dan kenapa banyak orang hanya merekam ketika ada seorang bertopeng yang mencoba membunuhku?”
“Dan Apa kalian kenal siapa aku?”
Aku buka obrolan dengan pertanyaan langsung pada intinya. Pertanyaan yang ingin sekali aku ketahui jawabannya secepatnya kalau bisa.

















