THE DAY OF THE FUTURE PAST (bagian 6)
Hari itu, aku yang biasanya tinggal meminta bi Minah untuk memasakkan makanan kesukaanku harus memaksa tubuhku untuk melangkah membeli kebutuhan pokok dan berusaha mengolahnya agar aku dan wijaya tidak kelaparan. “ Mbak kok lama sih?”
“ Iya dek bentar ya, ini mbak masakin sop dulu ya.”
“ Tangan mbak kenapa? Kok di plester gitu?”
“ Engga apa apa dek, cuma lecet kena pisau tadi.”
“ Tapi mbak, kok banyak banget yang diplester?”
“ Udah ngapapa dek, kamu makan dulu aja ya. Kalau kurang asin itu kamu bisa nambahin garem sendiri ya. Botolnya dimeja.”
Derita kami tidak berhenti disitu. Seminggu setelah kejadian itu kami menerima telfon yang mengabarkan bahwa kedua orang tua kami meninggal akibat perang saudara yang berkecamuk di daerah tempat mereka bertugas. Sialnya wijaya yang menerima telfon pemberitahuan tersebut. Dia mengira itu telfon dari bapak.
Tangis wijaya tak ubahnya seperti petir yang menggelegar beberapa waktu yang lalu. Tangisnya pecah, air matanya tumpah ruah membasahi wajah kecilnya. Aku yang tau reaksi kehilangan mendalam dari wijaya langsung memeluknya untuk menenangkannya. Sekali lagi aku dipaksa untuk menjadi sosok yang tegar didepan wijaya. Aku berusaha membisikkan bahwa kami akan baik-baik saja, kami masih punya satu sama lain.
“ Kamu kenapa?” sambil dengan lembut yus mengusap air mataku
“ Ah tidak apa-apa yus, aku hanya teringat dengan wijaya.”
“ Sudah kita kembali ke kamarmu saja. Kamu harus banyak istirahat.”
Minggu berganti minggu, wijaya tak juga mengunjungiku. Keadaanku makin lama makin parah. Aku sudah tak bisa lagi berjalan, untuk melihat saja mataku sedikit kabur. Berulangkali aku meminta yus untuk kembali menghubungi wijaya. Sebanyak itu juga aku harus menerima kenyataan bahwa dia tak bisa dihubungi. Aku pernah beberapa kali juga meminta yus untuk datang ke kampus sekedar mencari tau bagaimana kabar adek kecilku itu. Hasilnya tetap sama, wijaya tidak bisa ditemui, dia bagai hilang ditelan bumi. Aku menyerah, aku pasrah terhadap kenyataan pahit ini.
“ Maria, seminggu lagi kita akan pergi ke luar negeri untuk melakukan operasi besar.”
“ Operasi lagi ya?”
“ Apa tidak bisa aku tinggal di rumah dan menghabiskan sisa hidupku denganmu yus?”
“ Kita coba sekali lagi ya. Tolong, demi aku.”
“ Baiklah yus kalau itu maumu.”
Sebelum masuk ruang operasi, aku hanya terbaring memikirkan bagaimana nasibku bisa seburuk ini. Bagaimana bisa aku kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Bagaimana bisa aku menderita penyakit sialan ini. Bagaimana bisa adek semata wayangku pergi, hilang entah kemana. Sungguh hidup begitu tidak adil.
“ Tok, tok, tok.”
“ Masuk saja yus. Pintunya tidak dikunci.”
Aneh yus masuk dengan gelagat sedikit berbeda dari biasanya. Tidak biasanya dia diam dan hanya berdiri mematung beberapa sentimeter dari tempatku berbaring.
“ Yus kamu kenapa? Ada apa?”.











