Rindu Yang Tertahan
Bagiku, menjadi anak yang berusaha mandiri mengurus hidupnya sendiri, yang harus hidup terpisah jarak dengan ayah, ibu dan keluarga, membuatku mengerti arti pentingnya keluarga. Jarak Depok-Jakarta yang tidak begitu jauh kadang membuatku rindu kebersamaan dengan keluarga.
Ketika aku rindu ayah dan ibu, aku bisa langsung pulang ke rumah. Kalo gak bisa pulang, minimal aku bisa video call atau telfonan untuk mendengar suara mereka dan bertanya kabar.
Tahun ini menjadi Ramadhan dan Lebaran yang kelima kali yang kami jalani tanpa nenek (Ibunya ayah) dan mimi tua (Ibunya ibu). Aku sudah tidak mempunyai kakek dan nenek. Ayah ibuku sudah kehilangan ayah ibu mereka.
Hal ini membuatku bertanya, jika ayah ibuku sedang rindu ayah ibunya, yang sudah tidak ada di dunia, apa yang akan mereka lakukan, selain mendo'akan? Ayah ibuku sudah tidak bisa bertemu ayah ibunya lagi, tidak bisa mendengar suara mereka lagi, tidak mendapat belaian kasih sayang dan perhatian dari mereka lagi. Rindu yang ayah ibuku rasakan untuk ayah ibunya harus tertahan, hanya bisa diungkapkan melalui do'a-do'a ketika shalat.
Rindu yang tertahan itu juga kadang diungkapkan dengan tangisan rindu. Kadang diungkapkan dengan silaturahim bersama saudara-saudara kandung. Kadang dengan ziarah ke makam mereka.
Rindu yang paling berat menurutku, ketika kita merindukan orang yang kita sayang namun sudah tidak ada lagi di dunia.

















