Majapahit Piggy Bank (1300) - Early coin storage innovation
seen from China
seen from Mexico
seen from Germany

seen from Bulgaria
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from Bulgaria
seen from Brazil

seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from China
Majapahit Piggy Bank (1300) - Early coin storage innovation

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Reading Majapahit by Herald van der Linde and this took me off the freaking rails lmfaoooo.
Drawing some human civilizations (part 1)
Starting off:
Majapahit
Egyptian
Nubian
"Hamba sudah mengambil keputusan, Tuan Putri. Hamba meyakini sebuah hal, yaitu bahwa cinta itu hakikatnya tak selalu memiliki. Ketika hamba melihat, cinta hamba akan menjadi pengganggu dan hanya mementingkan diri sendiri maka yang demikian itu sama artinya hamba lebih mencintai diri sendiri. Maka mohon maaf dan mohon izin, Tuan Putri, hamba mohon izin mundur."
Ucapan Wirota Wiragati kepada Gayatri dalam buku Majapahit: Sandyakala Rajawangsa pada bab 67
Sedih ketika melihat kisah cinta Wirota Wiragati dan Gayatri kandas karena Gayatri akan menjadi calon istri Raden Wijaya berdasarkan kehendak Sang Prabu, Kertanegara 😢 Begitulah ceritanya sebelum runtuh kerajaan Singasari.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Candi Brahu, Trowulan, Java
Day 30: Gayatri Rajapatni!
Gayatri was born in the kingdom of Singhasari, on modern-day Java, youngest of the four daughters of King Kertanegara. She had no brothers, and her eldest sister was raised as the heiress presumptive; Gayatri was educated alongside her. All this came to an end in Gayatri’s teens, when a neighboring ruler attacked and conquered the kingdom. Her father was killed, and the palace burned, but Gayatri escaped by disguising herself as a servant.
For the next year, she did menial work in the palace of the man who’d destroyed her kingdom. In 1293, Raden Wijaya, husband of her eldest sister, launched a counter-invasion, claiming Singhasari in his wife’s name and adding it to his new kingdom of Majapahit. He then shored up his claim by marrying Gayatri and her other two sisters (who had been held hostage) as well. Gayatri seems to have been the favorite wife of Raden Wijaya, now King Kertarajasa. They had two daughters, and after his death, she was the one who served as Queen Dowager at the court of her stepson, advising him on problems and cultivating talented officials.
Gayatri eventually took vows as a Buddhist nun, hoping to retire from the world. After only a few years, however, her stepson died, and she was called back to court. As matriarch of the dynasty and an elder stateswoman, she was trusted to rule on the contested succession - and she did, choosing her elder daughter, Gitarja, who as Tribhuwana Wijayatunggadewi would become a legend in her own right.
SUMPAH AMUKTI PALAPA
Kemarin sempat ramai soal diskusi makna "amukti palapa". Ada yang menerjemahkan bumbu, puasa mutih, dan lain sebagainya. Padahal, andaikata kita mau membaca Sĕrat Pararaton dengan seksama, maka arti kata tersebut dapat kita temukan.
Amukti Palapa disebutkan beberapa kali dalam Sĕrat Pararaton, yaitu :
Yang pertama, saat Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan Kuṭi tahun 1319, di mana ia kembali ke ibu kota bersama Raja, kemudian berhenti dari jabatan bĕkĕl bhayangkara dan "amukti palapa" selama dua bulan. Lalu ia diangkat sebagai patih di Kahuripan.
Yang kedua, saat diangkat menjadi patih amangkubhumi di Majapahit tahun 1334, Gajah Mada mengucapkan sumpah, yaitu jika Nusantara telah ditaklukkan, barulah ia "amukti palapa".
Yang ketiga, sesudah peristiwa Paḍompo dan Pasuṇḍa tahun 1357, Gajah Mada melakukan "mukti palapa".
Ada pendapat yang menafsirkan kata :
AMUKTI = a + mukti = tidak menikmati
PALAPA = bumbu
Jadi, maksud dari Sumpah Palapa adalah : Jika Nusantara belum ditaklukkan, maka Gajah Mada tidak mau menikmati bumbu, alias puasa mutih.
Pendapat semacam ini jelas keliru, karena menafsirkan kalimat berbahasa Jawa menggunakan cara Sanakerta. Ingat, bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno adalah beda! Bahasa Sanskerta asalnya dari India, bukan dari Jawa.
Dalam bahasa Sanskerta, awalan A bermakna "tidak", sedangkan dalam bahasa Jawa, awalan A justru bermakna "membentuk kata kerja".
Mari kita kupas makna Sumpah Palapa secara perkata :
"lamun huwus kalah nuṣantara isun amukti palapa"
Lamun = apabila
Huwus = sudah
Kalah = takluk
Nuṣantara = pulau-pulau di luar Jawa
Isun = aku
Sekarang tinggal kata "amukti palapa".
Amukti = adalah kata kerja yang terbentuk dari :
aN + bhukti, di mana aksara bha mengalami luluh dengan awalan anuswara.
- bhukti artinya "makan"
- amukti artinya "memakan" atau "menikmati".
Palapa artinya apa?
Kita tengok berita sebelumnya, yaitu tahun 1319 setelah penumpasan Kuṭi, Gajah Mada dibebastugaskan dari jabatan bĕkĕl bhayangkara, di mana ia "amukti palapa" selama dua bulan, baru kemudian ia diangkat sebagai patih di Kahuripan, yaitu negeri bawahan Majapahit.
Artinya .... Maharāja Jayanāgara berterima kasih atas jasa Gajah Mada menumpas Kuṭi, sehingga selama dua bulan ia "menikmati palapa", sebelum kemudian menjadi patih Kahuripan.
Palapa di sini dapat ditafsirkan "kenikmatan", "istirahat nyaman", "liburan", "bersenang-senang".
Kemudian kita temukan lagi sesudah peristiwa Pasuṇḍa Bubat, Gajah Mada kembali "mukti palapa".
Sekali lagi saya tegaskan, bahasa Jawa tidak sama dengan bahasa Sanskerta.
Menurut tata bahasa Sanskerta :
"mukti" berlawanan dengan "amukti"
"sura" berlawanan dengan "asura"
"ditya" berlawanan dengan "aditya"
Sementara itu, Pararaton ditulis dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Sanskerta.
Menurut tata bahasa Jawa :
"nggawa" sama dengan "anggawa"
"njupuk" sama dengan "anjupuk"
"mukti" sama dengan "amukti"
Jadi, setelah Paḍompo dan Pasuṇḍa, Gajah Mada mendapat hak "mukti palapa = amukti palapa", yaitu "menikmati liburan dan kesenangan".
Kata PALAPA menurut tafsir Zoetmulder berasal dari kata dasar ALAP artinya "ambil" atau "makan". Dialap maknanya "diambil" atau "dilahap". Mungkin itu sebabnya kata "palapa" dalam bahasa Madura bermakna "bumbu" karena berhubungan dengan "makanan".
Sekali lagi saya ulangi, makna Sumpah Palapa :
"Lamun HUWUS kalah Nusantara, isun amukti palapa."
Artinya = Apabila SUDAH takluk Nusantara, saya menikmati kesenangan.
Bukan = Apabila BELUM takluk Nusantara, saya tidak menikmati kesenangan.
Kata "huwus" artinya "sudah".
Jangan diganti jadi "belum" hanya demi menafsir kata "amukti" pakai cara Sanskerta.
Nuwun.
#KutipanNaskahKuno