SHAMANISME DAN DUNIA PARALEL
Bagi seorang shaman, dunia ini adalah tempat yang sangat hidup, saling terhubung antara satu dengan dunia lainnya baik dengan tumbuhan (flora) maupun hewan (fauna), atau lebih jauhnya lagi dengan dunia sprit dalam micro cosmos.
Shaman, adalah figur yang bisa menjadi perantara antara dunia materi dengan dunia spirit. Sebelum mengenal agama, manusia dalam entitas kecil kemungkinan besar dekat dengan shaman atau shamanisme, hal demikian terjadi karena shaman dianggap sosok yang mampu menjadi penyembuh, peramal masa depan atau sebagai mediator komunikasi dengan para leluhur. Secara sederhana, shamanisme adalah praktik spiritual dan keyakinan (agama) yang berasal dari masyarakat konservatif-tradisional di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, shaman identik dengan seorang dukun atau kepala suku dan atau seorang pemimpin spiritual.
Seorang shaman mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan berbagai macam spirit yang ada dalam setiap makhluk. Di mata seorang shaman, binatang seperti jaguar bukan semata-mata sejenis kucing besar, spirit jaguar adalah penanda yang mampu mencarikan solusi di medan paling chaos sekalipun. Orca, bukan semata-mata predator lautan, spirit orca adalah figur maha-tahu yang menyimpan memori terjadinya cosmos. Sementara ular adalah figur penjaga jalur keluar-masuknya dunia spirit.
Terputusnya hubungan manusia dengan alam diindikasikan dengan praktik shamanisme yang tergerus oleh zaman, sehingga hewan-hewan yang mewakili spirit tadi semakin langka dalam jumlah, habitat mereka dilalap, dan hutan semakin terdesak. Bumi mengalami krisis karena relasi manusia dengan bumi semakin mekanistis. Alam tidak lagi dilihat sebagai bermukimnya spirit-spirit luhur, melainkan sebatas kekayaan flora dan fauna yang bisa dieksploitasi kapan saja.
Seorang shaman, untuk melakukan komunikasi dengan dunia spirit membutuhkan ritual dan praktik dengan menggunakan tanaman-tanaman tertentu yang bisa membuat kesadaran seseorang terekspansi, tanaman itu adalah enteogen. Pertemuan manusia dengan enteogen adalah titik pertama yang membangkitkan sisi spiritualitas manusia. Sejak itu, kehidupan spiritualitas lantas berkembang terus hingga menjadi praktik keagamaan modern. Periode shamanistik sempat menjadi fase panjang yang mendominasi kehidupan spiritualitas manusia. Fase itu lambat laun bergeser ketika manusia memasuki era rasionalitas. Seiring dengan perkembangan sains, shamanisme mulai ditinggalkan. Agama menjadi lebih struktural, mekanistis. Ia muncul sebagai organisasi besar yang menjadi perantara manusia dengan Tuhannya.
Enteogen yang dipakai dalam praktik shamanisme diantaranya adalah Iboga dari Afrika, dikonsumsi dalam bentuk bubuk dari tumbuhan akar tabernanthe iboga. Dari Amerika Selatan ada Ayahuasca, minuman hasil rebusan batang tanaman rambat banisteriopsis caapi. Dari Amerika Utara ada tembakau khususnya jenis nicotiana rustica dan kaktus Peyote, dikenal sebagai tanaman sakral yang dapat menghubungkan manusia ke dunia spirit.
Cannabis, atau yang biasa kita kenal dengan tanaman ganja juga tercatat di literatur kuno dari mulai India, China, Yahudi, Arab, Afrika, Eropa, hingga ke Asia digunakan sebagai instrumen spiritual periode shamanistik.
Selain kerajaan binatang, tumbuhan, kemudian ada satu kerjaan yang kerap digunakan oleh shaman untuk melakukan komunikasi dengan dunia spirit yang secara taksonomi berdiri terpisah dari binatang dan tumbuhan, yakni kerajaan fungi (jamur).
Enteogen dapat melebarkan spektrum kesadaran, memampukan penggunanya merasa dan melihat segala sesuatu lebih intens. Saat ini terminologi yang ada untuk menggambarkan fenomena itu adalah “halusinasi”. Secara definisi, halusinasi berarti persepsi yang timbul tanpa ada stimulus eksternal. Kenyataannya, konotasi halusinasi yang sering kita pakai ada di kategori delusional, irasional, dan tidak nyata. Segala makhluk dan benda di alam tiga dimensi ini memiliki aspek gelombang. Jika kita mengukur semua objek dalam alam tiga dimensi ini, maka rata-rata panjang gelombangnya 7,23 sentimeter. Seperti tangga nada, setiap not bisa berbeda karena panjang gelombangnya berbeda. Demikian juga dengan realitas kita. Jika kita punya kemampuan menangkap benda dengan panjang gelombang berbeda, maka apa yang tadinya tidak kelihatan dalam kondisi normal tiga dimensi, bisa jadi kelihatan. Enteogen mampu melebarkan daya tangkap. Apa yang tadinya tidak terlihat, jadi terlihat. Apa yang tadinya tidak terdengar, jadi terdengar. Apa yang tadinya tidak nyata, menjadi nyata. Kalau halusinasi artinya adalah persepsi tanpa stimulus eksternal, lalu bagaimana dengan stimulus internal? Itulah yang dilakukan enteogen, enteogen mampu membuka realitas baru dari dalam. Psikoanalisis ala Sigmund Freud mungkin hanya menggaruk permukaan.
Lalu apa relevansinya dengan dunia paralel?
Kita mungkin mengenal situs megalitikum Gunung Padang, yang dibangun lebih tua usianya dibanding Piramida Giza, atau Kuil Osiris, atau Stonehenge sebuah monumen megalitikum berbentuk sirkular dengan dua lingkaran konsentris itu dibentuk oleh pilar-pilar batu. Stonehenge rata-rata tingginya empat meter, sementara lapis berikutnya yang tertinggi mencapai sepuluh meter dengan berat mendekati lima puluh ton. Jika bukan dilihat dari atas, agak sulit untuk menerka bentuk asli, belum lagi misteri fungsi, ritual, dan teknologi apa yang dipakai oleh para pembuatnya.
Tidak pernah ada kesimpulan yang pasti tentang misteri Stonehenge. Entah kapan, para pembangun Stonehenge punya kapasitas untuk mengangkut batu biru yang jumlahnya ada delapan puluh dengan berat masing-masing tiga sampai empat ton dari Wales yang jaraknya sekitar 250 kilometer, kemudian menegakkan batu-batu pasir seberat 30 sampai 50 ton, membuat konstruksi dengan lingkaran sempurna dan celah yang tepat dengan lurusan sinar matahari terbit pada musim panas. Mungkinkah hal itu dilakukan oleh manusia biasa?
Bumi ini, adalah sebagai makhluk hidup. Maka dia pun memliki sistem meridian sama seperti dalam tubuh manusia. Ketika seorang sakit, bukan cuma bagian tubuh yang terlihat yang diutak-atik, tapi justru yang tak terlihat itulah yang mereka perbaiki lebih dulu melalui sistem meridian. Sistem meridian itu seperti pola matriks chakra ibarat roda-roda yang memobilisasi tubuh fisik. Jika manusia mempunyai sistem meridian, maka bumi mempunyai ley lines, teori world crystalline, teori world grid¸menunjukan bahwa ada aspek lain dari bumi kita yang belum sepenuhnya kita kenali.
Lay Line, adalah jalur arkaik yang menghubungkan tempat-tempat sakral di satu area. Lay Line adalah istilah modern, banyak tradisi kuno yang mengungkapkan konsep serupa. Di Inca dikenal dengan ceque, di Aborigin dikenal istilah turinga, di China dikenal dengan long mei, di Irlandia dipercaya ada fairy path. Mempunyai pengertian yang kurang lebih sama, di jalur tersebut biasanya dibangun monumen, bangunan, struktur megalitik, apa pun bentuknya. Tapi semua itu berfungsi sebagai titik-titik penanda.
Di Inggris, ada beberapa lay line. Salah satunya St.Michael’s Ley yang meliputi Glasstonburry. Dari Glasstonburry ada jalur geometris menuju Stonehenge yang dikenal dengan Stonehenge Ley, bentuknya segitiga dengan sudut 90 derajat. Di area tersebut yaitu Warminster itu terkenal sebagai pusat UFO-nya Inggris tahun ’60-‘70an. Di sana, UFO pernah terlihat terparkir setengah jam. Tidak bergerak, seperti parkir. Kemudian di area masih dekat dengan Stonehenge juga ada Wiltshire, yang terkenal sebagai pusat crop circle dunia. Tidak ada tempat lain yang mengalami fenomena crop circle sesering di Wiltshire.
Shamanisme dan dunia paralel memiliki hubungan yang erat dalam beberapa aspek. Misalnya yaitu Pertama, komunikasi dengan roh-roh. Dalam shamanisme, shaman percaya bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan roh-roh leluhur, dewa-dewa, dan makhluk-makhluk spiritual lainnya. Ini dapat dianggap sebagai bentuk komunikasi dengan dunia paralel, karena roh-roh tersebut dianggap berada di dimensi lain. Kedua, shamanisme juga melibatkan perjalanan spiritual, di mana shaman melakukan perjalanan ke dunia spiritual untuk mencari pengetahuan, penyembuhan, atau bimbingan. Ketiga, dalam beberapa tradisi shamanisme, enteogen digunakan untuk membantu shaman mencapai keadaan trance dan berkomunikasi dengan roh-roh. Penggunaan enteogen ini dapat memungkinkan shaman untuk mengakses dunia paralel. Keempat, beberapa tradisi shamanisme memiliki konsep multiverse, di mana ada banyak dunia atau dimensi yang berbeda. Konsep ini mirip dengan teori multiverse dalam fisika modern. Kelima, shamanisme juga melibatkan pengalaman out-of-body, di mana shaman merasa keluar dari tubuh fisik mereka dan dapat melihat dunia dari perspektif lain. Pengalaman ini dapat dianggap sebagai bentuk perjalanan ke dunia paralel.
Shamanisme percaya pada adanya dimensi lain yang berbeda dari dunia fisik kita. Salah satunya adalah UFO, juga sering dianggap sebagai fenomena yang berasal dari dimensi lain atau dunia paralel. Selain percaya pada adanya dimensi lain, shamanisme juga sering menggunakan simbolisme dan metafora untuk menggambarkan pengalaman spiritual.
Stonehenge, adalah sebuah monument pra sejarah yang terletak di inggris memiliki hubungan yang erat dengan shamanisme. Beberapa ahli percaya bahwa Stonehenge memiliki hubungan dengan shamanisme dengan beberapa alasan. Pertama, Stonehenge memiliki alignmen astronomis yang tepat, yang menunjukan bahwa pembangunannya memiliki pengetahuan yang mendalam tentang astronomi dan gerakan bintang-bintang. Hal demikian mirip dengan pengetahuan yang dimiliki oleh shaman yang menggunakan astronomi untuk memprediksi peristiwa-peristiwa alam dan spiritual. Kedua, Stonehenge terdiri dari batu-batu besar yang dipercaya memiliki sifat-sifat spiritual. Batu tersebut dipercaya dapat menghubungkan antara dunia fisik dan spiritual, yang mirip dengan konsep shamanisme dan juga dipercaya memiliki koneksi dengan leluhur-leluhur bangsa Inggris. Penggunaan simbol-simbol, penggunaan tanaman obat seperti mistletoe dan ivy telah ditemukan di sekitar stonehenge, dan penggunaan musik telah digunakan dalam ritual-ritual di sekitar Stonehenge juga mempunyai hubungan erat dengan shamanisme.
Bagaimana dengan situs megalitikum Gunung Padang?
Terima kasih sudah membaca
Tulisan ini terinspirasi dari buku “Perkembangan Pikiran Terhadap Agama” karangan K.H.Zainal Arifin Abbas (1984) dan Novel Dee Lestari Supernova “Partikel”. Sekaligus memperingati tujuh hari wafatnya ayahanda kami tercinta Didih Juandi (73) yang sudah mendahului kami pergi ke dimensi lain.