Syifa. Seperti namanya, dia obat buatku. Dialah sosok yang tidak peduli siapa dirinya tapi selalu memiliki kepekaan terhadap orang lain. Pribadi yang membuat diriku mencoba terbuka pertama kalinya tentang penyakitku. Bahkan sebelum umi dan abi tahu.
Sampai saat ini, dia selalu menjadi yang lebih awal untuk menghubungiku dan menanyai perkembangan kabarku. Aku sibuk apa, gimana ishipnya, gimana persiapan nikahannya, apa aja yang buat kamu khawatir, sekarang udah berapa usia kehamilan, gimana makannya menu terbaik ga, dan sebagainya.
Haha, jujur saja buat orang yang cuek tapi suka diperhatiin, aku seneng lebih-lebih terharu. Adaaa yaa orang sepeka dia dan seperhatian dia. Padahal udah nikah juga, lagi sibuk ngurusin bayi kecil juga.
Syifa selalu bilang: "Kita tuh sebagai perempuan, kalau ada masalah emang harus cerita. Kamu cerita aja kalau ada yang pengen diceritain, jangan dipendem sendiri."
"Mae kamu makannya gimana selama hamil, bla bla bla." Terus dia kirimin referensi di balik pentingnya nutrisi buat perkembangan anak di masa depan. Biar sehat fisik dan mental, ga mudah tantrum.
Kalau secara logika kan dipikir-pikir ngapain Syifa, sebagai temen seangkatanku di kuliah yang kita sama-sama tahu tentang ilmunya masih ngeshare-ngeshare begituan. Yaa, apalagi kalau bukan karena dia care, dia ngerasain impact dari apa yang udah di jalanin. Pengalaman melahirkan dengan robekan sedikit dan cepet pulihnya karena menjaga nutrisi selama hamil.
Mau ga mau meskipun sebagai tenaga medis, kadang butuh support juga untuk menjalankan ilmu yang udah didapat karena terbentur sama kebiasaan sendiri. Misal tau telur penting buat nutrisi selama hamil. Tapi punya pengalaman tidak menyenangkan saat makan telur, jadi males lah rutinin makan telur. Pas udah diingetin lagi dengan penuh perhatian jadi semangat buat makan telur dan mencoba menjadikan telur sebagai sahabat selama hamil.
Dalam kondisi sedang hamil seperti ini, kerasa bahwa rezeki dari Allah itu bentuknya ga selalu materi. Temen dekat yang perhatian, nanya kabar dan support masalah gizi kehamilan juga rezeki yang mahal. Coba kalau syifa ga support suami ga dapet bantuan buat woro woro aku makan telur tiap hari. Hehe.
Rezeki non materi seperti ini efeknya adalah memberikan kesadaran ulang bagiku untuk memperhatikan nutrisi selama hamil meskipun sebelumnya udah dilakuin, mengingatkanku untuk doing something by evidence based (lagi), dan bersungguh-sungguh merawat amanah Allah sejak dalam kandungan.
Cara syifa, juga membuatku berpikir dua kali, apakah aku bisa menjadi pribadi yang care sama sekitar. Kalau ga bisa ke banyak orang, ya ke orang-orang terdekatku lah. Kalau ga bisa buat cakupan yang lebih besar, setidaknya adanya aku bisa memberikan perhatian buat lingkungan kecil di sekitarku. Semoga Allah membimbingku untuk selalu bersyukur dan mengimplementasikan syukurku dengan melakukan kebajikan yang Allah ridhoi.