Ini hari terakhir bulan delapan. Kayanya energi udah lumayan gampang bocor kalau dihadapkan dengan sesuatu yang butuh intensitas tinggi. Masih banyak sekali peer dalam diriku.
Kadang jadi reaktif dan kehilangan kebijaksanaan saat merespon satu ujian. Kadang jadi intens banget dan menguras energi orang sekitar. Kadang too-much-thinking. Kadang over-analyzing dengan silogisme yang ngaco/cocokologi doang. Kadang takut berlebihan dengan hal yang belum pasti kejadian. Kadang gampang banget judging others dan decision making-nya mereka, padahal diri sendiri lebih harus introspeksi. Kadang senggol bacok banget kalo liat sesuatu yang nggak selaras dengan value yang aku junjung tinggi. Kadang over banget dalam segala hal, dalam berpikir, berkata, berbagi, bercanda, dan bersikap.
Aku mengacaukan banyak hal dan bulan ini mengingatkan aku pada Nabi Musa yang juga “mengacaukan” proses pembelajarannya sendiri dengan Nabi Khidir. Sebelumnya beliau juga pernah merasa telah “mengacaukan” segalanya seperti ketika tidak sengaja membunuh warga Mesir.
Musa dan Khidir: Sebuah Cerita
Pembelajaran bersama Nabi Khidir adalah salah satu peristiwa dalam hidup Nabi Musa yang terjadi setelah dia melawan Fir'aun dan melewati lautan. Bani Israil sudah di gurun. Dan Allah memerintahkannya untuk mempelajari sesuatu.
Nabi Musa berkata pada muridnya, (beberapa riwayat mengatakan namanya Yusya bin Nun) di surat Al-Kahfi ayat 60, “aku akan terus melanjutkan perjalanan ini hingga aku mencapai tempat bertemunya dua lautan meskipun aku perlu waktu seumur hidup untuk menemukannya.”
Tujuan perjalanannya saat itu adalah untuk belajar kepada seseorang, jadi hal pertama yang Nabi Musa ajarkan kepada muridnya—Yusya—adalah bahwa ia sendiri adalah seorang murid, ia mengajarkan muridnya tentang komitmen sebagai seorang murid.
Inilah cara Allah memberi tahu bahwa ilmu yang akan dipelajari bukanlah hal yang sepele. Tentu kita tahu bahwa Nabi Musa adalah nabi yang namanya paling banyak disebut dalam Al-Qur'an. Ia juga menerima wahyu terbesar, lebih banyak dari siapapun yang menerima wahyu (btw Taurat secara volume jauh lebih besar daripada Al-Qur'an). Dan dengan definisi itu, Nabi Musa dapat dikatakan sebagai manusia paling berilmu pada masa itu.
Tapi di surat Al-Kahfi dikatakan bahwa ia harus pergi belajar. Nabi Musa akan mempelajari sesuatu yang membutuhkan usaha lebih dan meskipun itu harus dilakukan seumur hidupnya. Ada sesuatu yang unik dan bernilai dari pelajaran itu. Bahkan kitab Taurat di masanya tidak mengajarkan hal tersebut sehingga Nabi Musa harus belajar di tempat lain. Bahkan Allah sendiri tidak mengatakannya langsung tentang pelajaran tersebut. Itu pelajaran yang harus dirasakannya sendiri.
Lantas kepada siapa Musa belajar?
Sebagai manusia paling berilmu saat itu, seandainya kita adalah Musa, kita akan merasa harus tau namanya siapa, pencapaiannya apa saja? Tetapi Allah hanya memberi tahu bahwa gurunya Musa adalah “hamba kami”. Messenger doesn’t matter bagi Musa saat itu. The message, yang matter. (18 : 66)
Kita sekarang mengenal namanya adalah Khidir. Tetapi Al-Qur'an sengaja tidak menyebutkan namanya. Kita mungkin berpikir bahwa sosok sang guru ini sangat penting, namun menariknya Nabi Musa pun tidak menanyakan pencapaiannya atau track record-nya. Ini mengajarkan bahwa mereka yang mencapai puncak ilmu tidak lebih dari seorang hamba Allah. Gelar dan pencapaian mereka tidak penting di hadapan Allah.
Ketika Musa menemuinya, dia berkata, “bisakah aku mengikutimu?” Karena yang ia pelajari bukan sekedar kata-kata. Dia harus mengikuti gurunya karena pelajaran ini berasal dari pengalaman. Dan Musa sudah paham bahwa orang ini akan mengajari sesuatu yang bukan berasal dari kitab. Dia akan menunjukkan pengalaman tertentu. Maka Musa meminta izin untuk mengikutinya karena dengan pengalaman itulah dia akan belajar sesuatu.
Jawaban gurunya adalah, “kamu tidak memiliki kesabaran untuk itu.” (18:67) Gurunya tidak melihat Musa mampu bertahan dengan apa yang terjadi. Dan kemudian Musa meyakinkannya.
Btw, Musa bisa saja bilang, “kau tahu siapa yang aku hadapi? Aku menghadapi Fir'aun. Kau tahu siapa yang aku pimpin? Bani Israil. Menurutmu aku tidak punya kesabaran? Seberapa tahu kamu tentang perbuatan mereka terhadapku?”
Tapi Musa tidak mengatakannya. Ia meyakinkan gurunya, “insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (18:69) Jadi penting untuk disoroti bahwa pelajaran ini tentang kesulitan hidup yang hanya bisa dipelajari kalau kesabaran kita diuji. Maka mereka pun pergi berjalan.
Kisah lanjutannya bisa dicari tahu di berbagai riwayat. Dimulai dengan pertemuan dua lautan dan berakhir dengan keduanya terpisah. Dalam arti keduanya adalah lautan ilmu. Musa adalah lautan ilmu wahyu dan gurunya adalah lautan ilmu yang tidak berasal dari kitab, yakni ilmu hikmah, ilmu yang teruji oleh waktu dan pengalaman. Ilmu yang tidak memandang siapa orangnya, tetapi apa pelajarannya.
Gurunya menjelaskan semuanya bahwa ada rencana besar dari Allah. Dan ketika hal-hal ini terjadi, kesabaran kita pasti diuji. Kita tidak tahu kenapa sesuatu terjadi pada kita. Ini akan menguji kita karena kita tidak tahu apa yang ada di balik layar. Allah tahu dan kita tidak.
Ini adalah jenis pelajaran di mana Nabi Musa tidak bisa sekedar diberitahu. Dia harus mengalami dan merasakannya. Kenapa? Kita bisa saja membaca tentang kesabaran, mendengar ceramah tentang kebijaksanaan, tapi jika kita mengalami suatu kondisi tertentu, kita dapat merasakan keadaan di mana kita tidak memahami mengapa ini terjadi pada kita. Dan barulah kemudian kita tahu “kenapa” setelah sekian lama.
Jangan mengira ini buruk untukmu, ada kebaikan di dalamnya.
Jika kita bisa menanamkan itu, maka kita sudah mempelajari satu pelajaran penting. Pelajaran ini tidak mudah dipelajari, bahkan oleh orang seperti Nabi Musa sekalipun. Nggak masalah kalau kita nggak bisa langsung menanamkannya, ini pun bahkan nggak mudah bagi Nabi Musa.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa terkadang kita harus mundur selangkah dan mengatakan pada rencana Allah, “aku tunduk pada-Nya, ada kebaikan di dalamnya untukku di dunia dan di akhirat. Dan aku akan menerimanya.”
Dari kisah ini kita juga tahu bahwa rencana Allah itu selalu untuk kebaikan. Dikatakan dalam 18 : 65 bahwa Allah memberi rahmat dari sisi-Nya baru kemudian Allah berkata “kami memberikannya ilmu dari sisi kami.”
Dengan kata lain sebelum kita mengetahui “kenapa hal itu terjadi pada kita” sesungguhnya hal itu sendiri adalah rahmat dari Allah. Ini penting untuk disebutkan karena sebagian besar hal yang terjadi di dalam hidup kita tidak tampak seperti rahmat secara penglihatan kasat mata.
Untuk penutup, jika aku adalah Musa, maka Khidirku adalah orang tuaku, guruku, saudaraku, dan teman-teman yang memperoleh kebijaksanaan lebih dulu dariku. Mereka adalah rahmat bagiku. Seandainya aku bisa sabar, tentulah aku bisa belajar lebih banyak dari mereka. Aku harap aku tidak mengacaukan sesuatu lagi ke depannya.
Semoga Allah memberikan pada kita pandangan iman dan hati yang tahan terhadap kesulitan. Semoga Allah memberi keyakinan pada kita bahwa ada kebaikan atas semua rencana-Nya.
— Giza dan rangkuman ceramah Ust. Nouman Ali Khan