Pagi itu, aku baru saja selesai menjemur cucian di belakang rumah. Langit tampak bersih dan biru. Tak sampai sepuluh meter dari tempatku berdiri, terbentang hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning, siap untuk dipanen. Aku berdiri memandangi hamparan sawah sambil melamun.
Kriiieeet … suara engsel pintu membuyarkan lamunanku. Nilam, anak keduaku, muncul dengan mata setengah terbuka dan berjalan pelan mendekat sambil mengucek mata.
“Bapak lagi ngapain, sih?” tanyanya penasaran.
“Lagi lihat sawah, Nduk. Tuh, padinya sudah menguning,” jawabku tersenyum lalu menggendongnya.
Nilam ikut melihat ke arah yang sama.
“Bapak, itu apa?” tanyanya sambil menunjuk ke kendaraan di kejauhan.
“Oh, itu Combi, Nduk. Mesin pemanen padi.” Aku berhenti sebentar.
“Dulu, waktu bapak kecil, bapak sering bantu kakek di sawah, lho.” ucapku sambil mengelus rambutnya.
Nilam memiliki rambut keriting, persis seperti bapak dan kakeknya.
Nilam turun dari gendonganku lalu berlari kecil menjauh.
“Hati-hati, Nduk,” kataku.
Entah kenapa … kalimat itu terasa tidak asing.
“Jadi, Kakek dulu petani ya, Pak?” tanyanya penasaran.
Aku tidak langsung menjawab. Mataku masih tertuju ke sawah itu. Tempat yang rasanya masih dekat.
“Iya, Nduk. Dulu, Kakek setiap hari ke sawah,” jawabku pelan.
Nilam mengangguk, walaupun mungkin belum benar-benar mengerti.
Dari pertanyaan sederhana itu, ingatanku kembali ke masa yang sudah lama berlalu.
Dulu, aku sering ikut Bapak ke sawah. Bukan karena ingin, tapi lebih sering karena disuruh.
“Temani Bapak ke sawah sebentar ya, Le,” ajaknya.
Padahal aku tahu, “sebentar” itu bisa sampai siang hari.
Hari Minggu, habis subuh, aku berjalan di belakang Bapak melewati pematang yang sempit. Kadang terpeleset, seringnya mengeluh. Bapak jarang menjawab keluhanku. Beliau hanya bilang, “Hati-hati ya, Le,”
Di sawah, Bapak langsung bekerja. Ada saja yang dilakukannya di sepetak sawah warisan dari kakek. Sementara aku seringnya cuma berdiri. Kadang memegang sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Kadang hanya melihat.
Dulu aku pikir, pekerjaan yang dilakukan Bapak biasa saja. Hanya berkutat dengan tanah, panas, gatal, dan lelah.
Sekitar pukul sembilan, Bapak biasanya beristirahat sebentar. Kami duduk di pinggir sawah untuk menyantap bekal yang Ibu bawa dari rumah. Kami tidak banyak bicara. Seringnya hanya makan, sembari melihat sawah yang terbentang luas.
Suatu hari, Bapak pernah bilang,
“Kamu nanti jadi guru saja ya, Le.”
Dulu, aku tidak benar-benar menanggapi harapan itu. Cuma mengangguk, iya iya saja. Waktu itu, masa depan terasa masih jauh. Dan semua kata-kata orang dewasa terasa seperti lewat begitu saja.
Anehnya, sejak aku mulai kuliah, Bapak tidak pernah lagi menyuruhku ke sawah. Ia tidak pernah lagi bilang, “Temani Bapak ke sawah ya, Le.” Tidak pernah meminta bantuanku barang sedikit. Saat itu, aku pikir Bapak ingin aku fokus belajar. Aku juga tidak pernah bertanya. Dan dari situ, tanpa sadar, aku benar-benar menjauh dari sawah.
Sekarang aku sudah punya dua orang anak. Kadang saat melihat mereka bermain bersama, tiba-tiba aku teringat diriku dulu.
Bedanya, aku jarang sekali mengajak mereka ke sawah. Entah karena tidak sempat atau memang aku sudah terlalu jauh dari tempat itu.
Aku memang tidak jadi guru seperti yang Bapak inginkan. Aku juga tidak jadi petani seperti Bapak. Aku malah menjadi penulis dan editor. Bekerja di balik meja. Dengan tangan yang sudah hampir lupa cara bertani.
Malam hari, saat anak-anak sudah tidur, rumah biasanya jadi lebih tenang.
Aku duduk di depan laptop. Menulis, seperti biasa.
Kadang aku berhenti sebentar. Tidak benar-benar lelah … hanya diam saja.
Sudah sepuluh tahun sejak Bapak pergi. Dan sejak itu, hidupku tetap berjalan, tapi tidak pernah benar-benar sama.
Kadang aku rindu. Bukan rindu yang besar. Hanya rindu yang datang diam-diam.
Rindu berjalan di belakang Bapak. Rindu pematang sawah yang sempit itu. Rindu duduk tanpa banyak bicara.
Hal-hal yang dulu terasa biasa, ternyata terasa begitu istimewa.
“Pak, capek ya jadi petani?” Suara Nilam menarikku kembali.
“Iya, Nduk.” jawabku pelan.
Aku diam sebentar sebelum melanjutkan,
“Tapi, Kakek dulu tidak pernah bilang capek, Nduk.”
“Berarti kakek kuat ya, Pak,” ucapnya kagum.
Aku melihat lagi ke arah sawah. Padi-padi itu masih berdiri seperti dulu. Dulu aku tidak banyak mengerti. Sekarang, baru terasa.
Kalau hari ini aku masih berdiri,itu karena Bapak tidak pernah berhenti.
Bapak memang sudah tidak ada. Tapi cara hidupnya, cara diamnya, cara bertahannya, entah bagaimana selalu ada di hidupku. Selamanya.