Memahami Arus Besar #SaveUighur
Ust. Banu Muhammad, 22 Desember 2019
Di dunia berlimpah informasi seperti saat ini, perlu kemampuan melihat arus besar, benang merah dan isu utamanya...
Seringkali ada hal-hal kecil yg dimanfaatkan atau direkayasa utk mementahkan arus besar..
Contohnya isu uighur, adanya penahanan jutaan orang di xinjiang adl hal yg tak bisa dibantah lagi... reportase dari BBC, Aljaazera, CNN dan banyak lagi yg lain menunjukkan hal tsb...
Tak hanya laporan media, pengalaman banyak orang dibanyak belahan dunia juga menunjukkan hal tsb. Saya sendiri pernah ketemu dg orang uighur di madinah, yg bilang kalau dia tak berani pulang dan tak pernah bisa menghubungi keluarganya..
Ada senior saya Bang Ubaidillah Nugraha yg juga sharing pengalamannya bertemu dg orang Uighur di Istanbul, juga pengalaman Gus Ibrahim Kholilul Rohman di Swedia terkait teman satu organisasinya yg bahkan tak mengizinkan namanya dicantumkan di struktur karena akan “ditandai”
Dll
tp kini sedang muncul upaya mementahkan isu utama ini dg adanya riak-riak kecil yg sebenarnya hoax semisal photo kejadian yg berbeda yg dimasukkan dlm postingan ttg uighur lalu dibangun narasi kalau itu hoax maka jangan percaya apapun ttg kejadian uighur, juga ada rekayasa lain yg intinya hendak dibangun narasi berkebalikan yg menyatakan kalau disana baik-baik aja kok.
Padahal jelas disana sedang tdk baik-baik saja...
Dulu ada istilah hoax membangun, kini ada hoax yg sengaja diciptakan utk merusak arus besar yg merupakan fakta yg dipahami umumnya publik..
Berbeda dg isu Suriah yg lebih simpang-siur, isu Uighur sebenarnya lebih jelas arusnya. Tak semestinya orang tertipu..
Di luar isu Uighur, memang dlm banyak kasus, ada juga “orang/pihak” yg “menyebalkan”, yg merusak arus besar kebaikan yg sedang dibangun oleh mayoritas atau normalnya orang..
Misalnya di tengah suasana yg baik, tiba-tiba ada daerah yg melarang Natalan..
misalnya di arus besar peringatan 212 yg damai, ada orang yg mengibarkan bendera HTI padahal sudah dibilang sejak awal jangan ada atribut ormas apalagi ormas yg sudah dilarang...
dan masih banyak contoh lain..
Disisi yg lain, ada sekelompok orang yg mencari-cari yg “semacam” ini utk kemudian disiarkan dan disampaikan ke publik, agar publik mengkonfirmasi dg kalimat “tuh kan... emang mereka itu.....”
itu orang juga...
Sebagai netizen waras, sebaiknya kita membaca lebih banyak dibanding komen lebih banyak..
Kedua, Janganlah kebencian kita pada pembawa berita membuat kita mengatakan apapun yg dia bawa adl berita yg salah. Sebaliknya walaupun di pembawa berita adl teman kita, tdk serta-merta itu benar..