Presiden Jokowi baru-baru ini menyatakan kepada masyarakat untuk hidup berdampingan dengan corona. Pemerintahpun mulai merencanakan kehidupan normal baru atau New Normal Life ditengah pandemi. Hal ini tentu menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat.
Berdasarkan data dari kemenkes RI pada 28 Mei 2020 jumlah pasien corona telah mencapai 24.538 jiwa yg telah terinfeksi. Artinya telah terjadi peningkatan sebanyak 687 orang.
Jumlah peningkatan kasus yg terjadi setiap hari ini tentu membuat kita bertanya-tanya apakah Indonesia siap dengan new normal life yang digaungkan oleh pemerintah?
Dikutip dari detik.com Walikota Surabaya Ibu Risma menganggap bahwa hidup berdampingan dengan corona atau wacana New Normal Life ini belum saatnya dikarenakan tenaga medis yang masih berjuang.
Tenaga medis adalah kalangan yang paling rentan terpapar covid-19. Hampir 6-8 jam sehari mereka bekerja dengan menggunakan APD lengkap.
Dan tahukah kita bahwa jika tenaga medis telah menggunakan APD lengkap maka mereka harus berpuasa selama melayani pasien yang terinfeksi. Ini bisa berbahaya karena hazmat (jas/baju pelindung diri) yang digunakan tenaga medis tertutup rapat sehingga tidak bisa tembus air maupun udara sehingga bisa menyebabkan dehidrasi.
Hingga saat ini, data PPNI menyebutkan, 20 perawat pasien Covid-19 telah meninggal dunia, 59 saat ini positif Covid-19, dan 68 perawat kini tengah dirawat sebagai pasien suspect maupun positif Covid-19. (Kompas.com)
Pemerintah perlu memperhatikan para tenaga medis yang sedang berjuang melawan covid-19 ini.
Bagaimana jika new normal life terealisasiakan malah menambah jumlah pasien yang tertular?
Apakah fasilitas kesehatan di Indonesia sudah memadai?
Bagaimana jika new normal life menjadi senjata bagi tenaga medis sehingga banyak yang kembali gugur di medan perang?
Apakah pemerintah sdh memikirkan hal ini?
Pemerintah lebih mengkhawatirkan kondisi ekonomi negara daripada nyawa rakyatnya sendiri. Bisa dibilang bahwa ini adalah sikap pemerintah yang zhalim terhadap rakyatnya.
Seharusnya pemerintah belajar dari negara-negara lain yang telah menerapkan new normal life lebih dulu dari Indonesia. Salah satu contohnya korea selatan yang beberapa hari setelah menerapkan new normal life terjadi lonjakan infeksi covid-19.
Tapi sayangnya pemerintah menutup mata akan hal ini. Buktinya pemerintah merencanakan new normal life bagi rakyatnya.
Meskipun dikatakan bahwa new normal life ini akan tetap mengikuti protokol kesehatan tapi kembali lagi ke pertanyaan "apakah tenaga medis dan fasilitas kesehatan di Indonesia sudah memadai?" Apa lagi kita ketahui bahwa kurva infeksi covid-19 masih meningkat.
Pandemi ini harusnya membuat kita menyadari bahwa sistem pemerintahan hari ini bukanlah solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat. Kita membutuhkan sistem baru dalam menyelesaikannya.
Dan sistem itu adalah Islam.
Dalam islam urusan umat adalah yang paling utama.
Para pemimpin islam seperti Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin al-Khatab telah memberikan contoh bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala problematika umat, termaksud dalam menghadapi pandemi.
Pemimpin harus melindungi rakyatnya bahkan dalam hal kesehatan.