Menjadi baik adalah prioritas kita.
Pernah, satu waktu aku memikirkan tentang hari ini. Tentang kebersamaan dalam pernikahan.
Aku, yang mungkin saja belum bisa menjadi apa yang kamu mau. Begitupun kamu, ungkapku dalam batin, sunyi.
Lalu, sadarku memaksa untuk merenung kembali, apa sebenarnya tujuan dari pernikahan? Apakah hanya cinta? Airmata? Tawa? Hingga bersama selamanya?
Semua bisa saja tepat, namun bagiku, pernikahan adalah dimensi nikmat Allah. Dari sana kita belajar tentang rasa memaklumi satu sama lain. Ketika kita mau dengan senang hati menerima kelebihannya, maka di sisi lain, saat itu juga kita harus menerima apa kekurangannya.
Pernikahan adalah tentang aku dan kamu yang meliputi keluarga besar kita. Dari sana juga terlahir pembelajaran, perencanaan, hingga hal-hal yang mungkin saja membuat kita tersenyum lebih awal. Terlebih saat kita mendapati orangtua yang bersikap mirip dengan anaknya (aku atau kamu).
Pernikahan menjadi ibadah terlama. Latihannya setiap waktu. Bersabarnya tanpa batas. Ikhlasnya super istimewa. Tanggung jawabnya sampai titik maksimal. Cintanya meliputi sakinah, waddah dan juga rahmah.
Aku dan kamu, saat itu hanya menyapa diam-diam. Bisa saja lewat doa yang melangit malam-malam. Atau memang ini Takdir Sang Maha Cinta, mempertemukan kita, melancarkan setiap prosesnya, hingga orang tuamu merestui aku menjadi suami dari anak perempuannya?
Aku dan kamu, dimaknai dengan sejuta harapan, semoga Allah selalu membersamai, dalam sehidup dan juga sesurga.
@petrichor-senja | 11 Februari 2018