“La, di warung STMJ yang biasa ya..” Ponselku berpendar. Rasanya aku tahu itu dari siapa. Aku membaca sekilas, membalas mengiyakan. Berkemas, lalu berjalan menuju parkiran. Tersenyum, membayangkan. Shidiq. Dia sudah disana. Duduk di ujung dekat jendela, selalu disana dengan daftar menu di depannya. Aku melambai, memberi sapa. “Susu coklat, as usual, La?” “Umm, kamu tau lah.” Tak lama, pesanan datang. Milo hangat untukku, jahe hangat untukmu. “Udah empat bulan ya La, udah lancar kan?” “Lumayan.” aku menyesap miloku. Hangat. Tapi... “La...” “Iya?” “Kamu kenapa? Nggak kayak biasanya?” Shidiq tahu. “La. Bilang.” Shidiq selalu ada untukku tiga bulan ke belakang. Pria sepeka dia, wajar kalau paham bila ada yang tak biasa. Dia coba menepuk-nepuk bahuku sebagaimana biasanya ketika aku perlu teman cerita. Aku refleks, menghindar. Shidiq sedikit terhenyak, tidak menyangka ada penolakan. “Aku salah apa, La?” “Maaf Shidiq, aku tak bisa sepertimu. Jujur, seperti namamu. Maaf, aku tak bilang dari awal. Aku tahu ini akan sangat salah pada akhirnya. Maaf kalau aku nggak langsung cerita sampai kamu akhirnya bilang yang kamu inginkan dua minggu ini.” Seperti tak sanggup berkata apa-apa, aku menunjukkan gambar dari galeri ponselku. Ada aku dan dua orang lelaki. Yang satu tertawa di pangkuanku, yang satu bersandar di pundakku dengan senyum. Dua orang lelaki, yang hampir kukhianati. Belum habis rasa terkejutmu, aku menunjukkan benda melingkar berwarna emas di jari manis kananku. “Sekali lagi maaf. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku kepadamu. Sampai-sampai aku tega berbohong, pada tiga lelaki sekaligus.” #30haribercerita #30HBC1903 #ceritanuvola #fiction #rapelan #langsungtiga #wkwk #hilangide #helphelp #maydaymayday (at Awan) https://www.instagram.com/p/BsQKXnUghYH/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=ckc2llsmd7cb