Tanpa sadar, sebulan kemarin kita berjuang pada laga yang sama. Berkutat pada nafsu-nafsu kita, ianya setan dibelenggu dan tinggal nafsu yang menunggu waktu akankah diikuti atau mendengarkan apa kata wahyu.
Setelahnya, hari bermaafan tiba. Lalu apa yang paling harus dimaafkan? Memaafkan diri sendiri, pun lebih dulu meminta maaf pada diri sendiri. Memaafkan tersebab ketidak sempurnaan yang masih di maklumkan, meminta maaf tersebab zalimnya diri sendiri yang belum sepenuhnya tunduk dan berjuang lebih keras lagi.
Kita... Sedang berada dalam laga yang sama. Tidak perlu melihat siapa yang lebih bahagia atau siapa yang lebih diuji dalam rasa. Sebab porsi ujian yang diberikan telah melalui takaran terbaik menurut-Nya. Pun jangan mengatakan, ujian dia lebih ringan dibanding kita. Sebab seseorang tidak pernah tau betapa banyak malam-malam yang dihabiskan untuk bersimpuh memohon kekuatan dan apa saja yang dikorbankan untuk melalui ujian tersebut.
Dihari kemenangan ini, pemenang sebenarnya adalah mereka yang tetap menggantungkan harap, pertolongan dan memurnikan kepercayaan, serta menyerahkan segala yang ia lakukan hanya untuk Allah saja, Allah lagi, Allah terus. Tidak peduli lagi dengan katanya, penilaian manusia dan sebagainya. Sebab taqwanya telah membuat takutnya semata-mata takut dalam penilaian Rabb-nya.
Semoga itu kita.















