Sehelai Benang Asa (3)
"Assalamualaikum pak" Rani mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Bapak.
"Waalaikumsalam, kemana saja to kamu itu? Nggak ijin Bapak dan Ibu juga kalau pulang malam"
Sampai sekarang orang tuanya tidak tahu pekerjaan sampingan yang dilakukannya dua kali dalam seminggu ini. Sebetulnya rasanya tidak nyaman bersikap seperti ini ke orang tuanya, tapi ketakutan dan ketidakyakinannya menjadikan begini. Bapak yang seorang dokter mengharapkannya meneruskan klinik dan pekerjaan yang menurutnya mulia ini.
Sebetulnya menjadi seperti Bapak sudah ada dalam daftar mimpinya semenjak kecil. Bapak memang teladan yang hebat, tapi dia juga menyukai dunia mode yang penuh dengan kreatifitas.
"Maaf pak, Rani lupa, tadi jalan-jalan sama teman.." ucap Rani mantap. Terdengar seperti tidak berbohong karena sudah terbiasa. Saban hari jumat dan sabtu jika harus lembur, beginilah alasan yang ia buat. Kadang berganti dengan 'perisapan try out bimbel', 'ada kelas tambahan di bimbel', 'belajar bareng teman'.
"Oalah Nduk, kemarin kan sudah diberi tahu. Kalau pulang telat itu harus ijin dulu. Harusnya kamu juga banyak belajar sebentar lagi ujian masuk kuliah. Malah kluyuran nggak jelas. Masa gak kuliah lagi?" Kemarahan bapak membuat degup jantungnya seperti sedang lari sprint.
"Iya, pak. Maaf" Rani menunduk. Tidak memiliki keberanian melihat wajah Bapak, pun tidak memiliki keinginan untuk mendebat. Apanya yang mau didebat? sampai sekarang Rani juga masih bingung dengan dirinya dan masa depannya. Ujian seleksi masuk perguruan tinggi tinggal sebulan lagi.
Hmm.. bagaimana ya?
(Bersambung)









